Dreams Life Thoughts

Being in 20 something

17th January 2014 - 8 min read

I am 22… And this year on August, I will turn 23.
Gosh! How time flies… Back in the New year’s Eve, bunch of friends and I were spending the night at good friends of ours. There was a rare thing happened to me. When my friends and all the people (including all of them on RTL news channel on TV) started counting down, suddenly it felt like a flash of a camera, I could not hear their loud voices anymore. I was feeling lonely…. though I am certainly not. I went flashback to all the past events, to everything I HAVEN’T DONE last year and I felt numb. It is just like yesterday I flew for the first time to the Netherlands, started going to classes and meeting new people. It seems like yesterday I enjoyed the very same moment with friends; NYE. It seems like yesterday I graduated…
Hold on!!!! Why in english??? let’s switchhhh…

Test test… intermezzo sedikit.
Salah satu kendala hidup saya di muka bumi ini adalah bahasa. Gak bakat kayanya jadi polyglot… Kemampuan saya dalam menangkap verbal bahasa memang minim. Saya orang indonesia yang tidak beresidensial di Indonesia, sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa inggris, tetapi selalu mendengar percakapan orang-orang di sekitar saya yang berbahasa Belanda. Nah loh?! Berarti jago dong ketiga bahasa itu? Yak, kesimpulan yang kurang tepat! HAHAHA Malah kemampuan saya berbahasa ibu (Indonesia) menurun drastis, kemampuan bahasa inggris meningkat, tapi tidak bisa mencapai tingkat native, kemampuan dutch 0.5 dari 10. Alhasil, saya selalu tanpa sengaja mencampur-campur bahasa dan suka bingung sendiri sama apa yang saya mau bilang. Jadi, excuse in advance…hehe Anyway, melanjutkan prolog di atas….

Saat itu saya mengucap syukur dalam hati, tapi saya belum cukup merasa konten.. Karena terlalu banyak hal-hal yang masih belum saya capai di umur saya ini. Bisa dibilang saya melalu metamorfosa yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Dan yang paling terlihat adalah saat saya ada di akhir tahun 2012 hingga tahun 2013, it was magical experiences.. 2012 akhir saya banyak berkontemplasi, merenung dan retrospeksi atas diri saya selama ini. Panjang perjalanannya yang akhirnya membawa saya ke THE BRIGHTER 2013. Saya memulai awal tahun 2013 dengan cukup remarkable πŸ˜› Saya bertiga dengan sahabat-sahabat saya berpartisipasi dalam acara tahunan Belanda, New Year’s Dive in Scheveningen. Bisa bayangkan temperatur minus pada saat itu dan harus berbaju renang berlari-larian di pantai. Hahahaha orang bilang kita gila. Tapi saya hanya ingin memulai tahun itu dengan keberanian, berharap saya jadi orang yang tidak takut dalam menghadapi keadaan apapun dan tidak takut untuk bermimpi besar. Saya membuat resolusi bersama teman saya yang saya kenal dekat pada pertengahan 2012, Wulan namanya. We call each other soul sisters :p Alhamdulillah, banyak dari resolusi simpel saya tercapai, tapi ada juga yang tidak…. Tandanya, saya harus lebih berani dalam bermimpi, lebih gila, lebih S.M.A.R.T istilahnya.

1 January 2014, 00.00.
Saya merasa sangat sepi… The perfect form of solitude in the crowd. Saya somewhat memiliki ketakutan tersendiri.. Saya masih belum mendapat secure monthly income, belum bisa membanggakan kedua orang tua. Saya tidak ingin membuang-buang waktu di umur saya ini. Masih banyak mimpi-mimpi yang ingin direalisasikan. Saya ingin seproduktif dan seefektif mungkin dalam menggunakan waktu saya yang tidak pernah diketahui akan berapa lama, tapi apakah iya kita bisa melukis garis tangan?
Ahhh pusing rasanya kalau mendaftar deretan panjang hal yang belum saya lakukan. Tapi on the other hand, saya merasa teramat sangat beruntung. Karena, saya mempunyai kesempatan yang tidak semua orang bisa rasakan, hidup di luar negeri, menjadi pribadi yang mandiri, dan dapat melihat dunia dari kacamata yang berbeda. Saya juga bersyukur bisa tumbuh di abad 20 sekarang ini dimana pembelajaran dapat dilakukan dimana saja kapan saja oleh device apa saja.
Di saat teman-teman sudah mulai bimbang tentang pilihan menikah, sudah ada yang mempersiapkan perkawinan dan wedding dress, saya masih leyeh-leyeh memikirkan besok mau makan apa, mau kemana tujuan liburan selanjutnya, gimana mengumpulkan uang, gimana caranya kalau mau volunteer. Masih ingin travelling dan melihat dunia… Bagi saya menikah adalah sangat esensial, terutama melihat beberapa orang di lingkungan saya yang berpisah, saya tidak ingin seperti mereka. Harus ada bahan untuk saya mengevaluasi diri saya sebagai pasangan yang baik nantinya. Once we get married, we married for life. Saya nggak mau menikah hanya karena umur yang cukup, tapi menikah karena saya yakin kami dapat saling membahagiakan dan menghargai selamanya.Β 
Usia 20an…. usia paling kritis dalam pembenahan dan membangun diri. Saatnya memiliki ideologi diri untuk mempersiapkan hal-hal dalam hidup yang akan kita pilih nantinya. Waktunya untuk keluar dari comfort zone (yang mungkin sebenarnya juga gak comfort-comfort amat). Karena setelah itu, akan ada komitmen2 yang harus dipenuhi, tuntutan untuk berkeluarga dan komitmen yang harus dibina setelahnya. Saya ingin jika saya harus berkomitmen, saya akan benar to the fullest πŸ™‚ Β Si ‘sahabat’ untungnyaΒ tidak tinggal berdekatan dengan saya (bahasa gaulnya, LDR), sehingga kami bisa memiliki 2 dunia yang berbeda, bisa tetap punya hidup masing-masing. Sama-sama mengerti bahwa at the end of the day, we have each other. Tidak ada tanggungan untuk keluar ke cafe/mall, pergi nonton, yang pada akhirnya menuntut kami untuk menjadi ‘attach’. Jika sudah ada keharusan untuk bertemu setiap hari, untuk saya personally akan susah untuk mengembangkan diri *pengalaman pribadi* hehe bukan berarti semua orang akan begitu, tapi saya tahu saya tidak mampu. And again,Β I think it is the perfect age to struggle.. those things are few of them. Nothing worth having comes easy.

Pengen banget nabungggg, jadi saat saya kembali ke tanah kelahiran, saya sudah bisa memberi kembali ke orang-orang yang berjasa di kehidupan saya (keluarga, terutama orang tua).
Pengen ambil studi master somewhere, pengen volunteer, bikin bisnis sendiri, bikin foundation kecil atau sekolah atau activity for goodwills. Aamiinnn…..
Pada akhirnya yang dicari adalah kebahagiaan.. dan yang paling mengerti dimana kebahagiaan itu adalah diri kita sendiri. Terkadang being obsessive pada diri sendiri memang penting, pun optimis. Tapi yang paling penting adalah alasan dibalik itu semua, kata Wulan, good whys will lead you to good ways.. Kalau alesan saya sih, ingin membuat diri saya happy dan nggak mati percuma hehehehe saya ingin sekali bermanfaat tidak hanya bagi saya dan keluarga, tapi juga orang-orang disekililing. Mudah-mudah bisa tercapai..
Kata Einsten dan bapak saya dream+believe=magic.. kata saya, dream+believe+usaha=happiness πŸ™‚ and most importantly, stop complaining… Whatever negative things you’ve ever thought, you put a seed on it to be happening. Nooooooooo…..
Let’s pursue our happiness kaya judul film-nya Bang Will Smith, Pursuit of Happiness…

A little journey throughout the year:
up-left: Piazza de Espagna, Rome-Italy
up-right: Color Run, Zwolle-NL
below-left: Jewish Statues, Berlin-Germany
below-right: Colloseum, Rome-Italy
CANT WAIT TO TRAVEL SOME MORE THIS YEAR (and conquer my 20s)!

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply