Browsing Category

Hidup Minimalis

Hidup di Belanda Hidup Minimalis Zero Waste Journey

‘Zero waste life’ project untuk pemula

4th January 2018 - 5 min read

Di hari ke-4 tahun baru ini saya pengen share salah satu poin penting dari resolusi yang beberapa hari lalu saya buat, yaitu Zero waste life. Kedengerannya susah dan ribet, kenyataannya emang lumayan susah dan rumit (hehe). So far saya harus bilang tantangannya gede banget apalagi kalau kita orang yang nggak pengen ribet. Tapi lagi lagi, saya nggak bisa terlalu perfeksionis dalam hal ini karena yang ada malah hanya jadi wacana. Saya sebutnya lebih suka ‘less waste‘. Supaya kita lebih concious mengenai our food print.

Salah satu kunci untuk transisi ke habit baru adalah nggak usah terlalu drastis terutama saat kebiasaan itu adalah bagian dari hidup kita sehari-hari. Juga, menerima dengan lapang dada bahwa tantangan itu pasti ada. Kalau memang masih nggak bisa ya nggak apa-apa. Jangan fokus ke kata-kata ‘zero’ tapi ke ‘reduce’nya. Emang bisa jadi frustrating saat lagi di “zero-waste” mode terus liat banyak banget waste yang kita masih buat. Tapi yang perlu kita tau, fokus ke ‘reduce’ atau mengurangi. Sesungguhnya memang ini proses yang panjang dan lama.

Menurut saya, tantangan yang paling utama adalah beli barang-barang yang nggak ‘packaged‘ atau dibungkus karena biasanya di supermarket seluruh barang dibungkus kalau mau memenuhi standar kebersihan dan sebagainya. Nggak usah di supermarket besar, di toko turki kecil-kecil deket rumah saya semua barang jualannya sudah terbungkus rapi dari pabrik. Sedangkan untuk belanja ke Pasar harus di hari-hari tertentu.

Nah, beberapa hal di bawah ini menurut saya adalah hal ‘simple‘ yang bisa kita semua mulai untuk ke arah gaya hidup yang ‘zero waste’. Nantinya bisa ditambah dan ditingkatkan jadi lebih baik lagi dan lagi. Istilahnya ‘habit staple‘. Saat kita sudah terbiasa akan sesuatu, disitulah saat kita untuk mengenalkan habit tambahan yang relate akan habit yang kita sudah terbiasa.

  1. Pakai search engine ECOSIA

ECOSIA adalah search engine yang menanam pohon. Saat kita mencari dengan ECOSIA layaknya kita mencari info dari google, otomatis 1 pohon akan ditanam oleh organisasi-organisasi yang bekerja sama dengan mereka. Super cool concept!!!  Dari search ads yang kita cari mereka dapat income dan dari situ mereka ambil profit 80% untuk menanam pohon. Doing something good by doing you normally do. What can be better than that. And you truly make an impact! Check their planting activities in here. Their aim is 1 billion trees by 2020. So inspiring.

Okay and then let’s First understand 5Rs of waste management which is Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot. Untuk memulainya, kita bisa mulai dari Refuse, Reduce, and Reuse.

    2. REFUSE goodie bags, free stuff, atau bahkan kalau perlu gift yang nantinya berpotensi menyimpan barang di rumah. Bahkan barang-barang itu belum tentu kepake.

      3. Tau nggak berapa lama plastik bisa terurai? 1000 tahun. REDUCE plastik adalah salah satu hal yang paling membantu buat lingkungan. Mulai dari REUSE garment bags atau tas kain untuk belanja. Selalu siapkan satu tas di tas pergi kita, in case kita perlu beli sesuatu yang nggak terencana. Dan kalian harus tau bahwa beli buah dengan plastik transparan itu nggak wajib, kita bisa nggak pake plastik atau bawa tas kita sendiri. Untuk beli barang-barang loose kaya beans atau legumes, mason jar bisa jadi penolong. However, nemuin bulk store di Belanda susah banget.

      4. REFUSE sedotan dari restoran atau cafe. Bilang di awal saat pesen untuk nggak pake sedotan. Kalau memang prefer pakai sedotan, bisa bawa sedotan sendiri dari rumah yang berbahan acrylic atau steel. Emang kudu niat hehe

      5. REUSE botol minum yang bisa diisi kapan aja

     6. Pakai tootbrush dari bamboo. Sekarang saya masih pakai yang elektrik, itu akan jadi waste saat dibuang. Jadi selagi sikat gigi masih berfungsi dengan baik, saya hanya mengganti ujung sikatnya.

    7. Bawa silverware atau peralatan makan yang bisa di REUSE instead of sekali pakai kaya yang kita ambil dari supermarket (Albert Heijn, Jumbo, etc).

   8. Belanja di Pasar karena di Pasar lebih banyak pilihan untuk bahan-bahan makanan atau apapun tanpa ‘packaging‘. Sebenernya sadar atau nggak, less waste ini equals dengan hidup yang lebih sehat. Kenapa? karena sebenernya pilihan kita untuk beli barang yang nggak dikemas itu super limited, it will leave us with fresh food, fruits, veggies and ingredients. No processed food with preservatives for sure.

Mulailah dari yang terkecil dan termudah. Karena itulah yang sebenernya adds up atau terjumlah. Semoga menginspirasi untuk lebih sadar akan footprint kita di dunia ini. Happy less wasting!!!!!!

 

Hidup Minimalis Self growth

Konsep hidup minimalis dan Tips beberes ala Marie Kondo

26th November 2017 - 3 min read

Sekitar 3 tahun yang lalu saya pertama kali denger soal konsep ‘minimalisme’ dari kakak saya. Dia nggak sengaja ketemu TED Talk dua orang Amerika yang menyebut diri mereka ‘The Minimalists’. Ternyata mereka merupakan pioner yang menyebarkan konsep minimalisme di Amerika dan akhirnya di dunia. Lewat blog dan TED Talk-nya,  Mereka sukses mengispirasi banyak banget orang untuk belajar lebih jauh lagi soal minimalisme dan bahkan mengaplikasikan konsep itu ke hidup mereka.

Sejak kecil Bapak saya selalu ngajarin saya dan kakak-kakak saya untuk menjadi manusia sederhana yang tidak berlebih-lebihan, jadi sebenarnya konsep itu bukan hal yang baru bagi saya. Bukan dalam hal berminimalisme-nya tapi dalam hal untuk tidak meletakkan materialisme di atas hal-hal lainnya yang lebih bersubstansi. Saat jaman kuliah dulu saya belum mampu mengaplikasikannya secara drastis, mungkin karena saya masih terlalu naif untuk bisa memprioritaskan mana yang berarti untuk hidup saya. Jadi yang saya lakukan ya secukupnya (yang menurut saya saat itu sudah terhitung drastis), dan saya mulai beberes saat kamar/rumah sudah terlihat berantakan. Biasanya masih ada rasa sayang untuk membuang barang-barang yang ‘berarti’ misalnya baju-baju hadiah, baju yang saya beli mahal (tapi cuma dipakai sekali dua kali), dan lain-lain. Yang bikin saya heran, rapihnya itu bener-bener cuma sesaat dan in no time kamar/rumah saya mulai berantakan lagi.

Sampai akhirnya saya baca buku (rekomendasi dari mas Nicko, kakak saya) yang ditulis oleh Marie Kondo berjudul ‘The Life-changing Magic of Tidying up’.  Ada beberapa point yang saya serap dan sampai sekarang masih ada di kepala saya. Yeslong story short, her method works in my life!

  • Sekali declutter, kita nggak akan perlu untuk declutter lagi
  • Konsep untuk hanya menyimpan barang yang Spark joy. Ini relatif berbeda-beda pastinya setiap orang, tapi pada saat kita menerapkan metode KonMari, kita jadi membiasakan diri untuk menggunakan intuisi dan mendengar mana hal-hal yang penting untuk kehidupan kita. Remember untuk ‘put quality over quantity’
  • Buat 3 kategori saat beberes: untuk disimpan, untuk dipikirkan dan untuk dibuang/didonasikan. Beri 3 bulan untuk kategori ‘untuk dipikirkan’, setelah 3 bulan dan barang itu masih nggak dipakai dan nggak direncanakan untuk dipakai, barang itu harus dibuang/didonasikan.
  • Think “why should I keep this?” instead of “what should I get rid of?”

Berikut ini manfaat-manfaat dari hidup minimalisme/sederhana/secukupnya

  • Clear mind
  • Eliminate our discontent
  • Reclaim our time
  • Live in the moment
  • Pursue our passions
  • Discover our missions
  • Experience real freedom
  • Create more, consume less
  • Focus on our health
  • Grow as individuals
  • Contribute beyond ourselves
  • Rid ourselves of excess stuff
  • Discover purpose in our lives

 

PDF clean up KonMari Method checklist (downloadable)

Blog: https://www.theminimalists.com/

TED Talk: https://www.youtube.com/watch?v=GgBpyNsS-jU

KonMari Book Article: https://lifehacker.com/the-life-changing-magic-of-tidying-up-mind-hacking-adv-1749135755