Self growth Thoughts

How to slow down the time

11th February 2018 - 7 min read

Where did the time go?? Time flies by so quickly! Oh my God, it’s already February! 

Questions and words I have told to myself. And yes, it is indeed already MID OF February.

Rasanya baru kemarin nunggu sampe jam 12 buat tahun baruan. Tiba-tiba sekarang sudah hampir Maret ajah. Terlalu sering saya membiarkan waktu berlalu begitu saja. Saya sempet baca-baca soal persepsi waktu, mungkin ini saatnya untuk mengulang dan mengingatkan saya sendiri soal sains dan persepsi waktu. Let’s slow down the time a bit. 

Rentang umur rata-rata manusia di dunia itu sekitar 70 tahun, tapi beberapa orang bisa (merasa) hidup lebih lama dari orang lain. Bukan dari segi fisik, tapi di dalam pikiran. Saya pernah baca, “if our experience of time passing were reliable, we wouldn’t need to check our clocks and watches so often” yang maksudnya kalau waktu bisa diandalkan, harusnya kita nggak perlu lagi sering-sering memerhatikan jam tangan kita. Adding another perspective banget!!. Jadi, waktu itu relatif/subyektif yang memberi kita kesempatan untuk memanipulasinya.

Time is perceived by our brains. Otak kita terus memproses informasi yang ada di sekitar kita, apa yang kita lihat, dengar, cium, sentuh. Intinya, otak kita membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses hal baruJadi saat kita melakukan hal yang sama setiap hari, maka otak akan memprosesnya lebih cepat dan tidak sedetail itu karena sudah terbiasa. Contoh gampangnya, setiap hari saya harus check in – check out di transportasi publik, karena ini hal yang selalu saya lakukan, kadang saya lupa sudah swipe atau belum. Karena saat saya melakukannyaotak saya udah nggak perlu effort untuk memproses. Kesimpulannya, saat kita melakukan kebiasaan setiap hari, waktu akan terasa lebih singkat dan kita nggak akan dapat mengingat detailnya dengan jelas. Kayak autopilot gitu loh otaknya. Pernah nggak ngerasa saat ke tempat baru, waktu berangkat lebih kerasa lama daripada waktu baliknya? Yep! That is it.

Saat kita buat pengalaman baru, otak akan ‘kaget’ dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses momen dan juga mengolahnya secara lebih rinci. Pengalaman baru ini akan berkesan dan terasa lebih lama dari segi waktu. Ada perbedaan dari seseorang yang hari-harinya diisi dengan pekerjaan di tempat yang berbeda-beda dan yang setiap hari ke kantor. Mungkin ini salah satunya kenapa saya masih ngerasa waktu berjalan dengan cepat walaupun sebisa mungkin saya berusaha untuk berkegiatan di waktu off kantor saya.

Knowing this, if you want to savor your time and slow it down, basically you just have to expose your brain to new things and do not forget to be present:

1. Be present  – pay more attention

Salah satu hal yang paling efektif untuk slowing down the time adalah be present and pay attention. Cepet atau enggaknya waktu tergantung dengan seberapa banyak dan what kind of attention we pay to the experience. Notice what’s happening by being more mindful, dengan lebih mindful kita juga akan lebih membuat keputusan-keputusan yang lebih bijaksana untuk menggunakan waktu kita.

2. Meditate or solemnly pray

Meditasi dan atau berdoa/sholat secara khusuk itu bisa ngebantu untuk lebih mindful. Saat kita mindful melakukan sesuatu, waktu akan berjalan semakin pelan. Pun jadi semakin aware dan observe apa yang terjadi di sekitar kita.

3. Count your gratitude every single day

If you can’t slow down the time during the day, slow down the time by writing your gratitude every single day. Saat sudah kebiasa untuk nulis gratitude journal, during the day otak kita akan terbiasa untuk menghitung dan point out, this will go to my gratitude journal! Itu secara nggak langsung bikin kita untuk lebih pay attention dengan apa yang sedang terjadi.

4. Focus on what you want and make a conscious decision

Put yourself first, otherwise before you know it your surroundings will drag you and use up your time. Menurut saya, this is one of the ways to love ourselves. “Love it enough to set boundaries, your time and energy are precious, you get to choose how to use it”.

5. Expose with NEW THINGS

Add new things and be outside of our comfort zone nggak hanya slowing down the time tapi juga memberi banyak benefit ke kehidupan kita. Untuk mencoba sesuatu yang baru kita harus menggunakan courage, otomatis semakin lama kita akan semakin terbiasa untuk berani mengambil new challenge. Selain itu nyobain sesuatu yang baru juga akan membuka opportunity untuk menemui hal-hal yang kita suka.. tanpa mencoba kita nggak akan pernah tau kita suka akan sesuatu atau nggak. Juga jadi nggak bosen dan kita pun berkembang sebagai individu.

 – Learn new thingsZero waste, konsep minimalis, main instrumen, dance, bikin craft, bikin keramik, bikin kosmetik sendiri, dll

 – Try new things: Bikin menu masakan baru, makan buah atau sayur yang belum pernah coba sebelumnya, dll

 – Visit new places: Nggak harus muluk-muluk ke negara lain, bisa coba ke kota lain atau ngelewatin jalan yang nggak biasa kita lewatin sebelumnya. Trust me, you’ll always manage to find something beautiful! 

 – Meet new people: Saya selalu merasa struggle dengan ini karena pada dasarnya saya introvert, tapi saya menganut konsep ‘fake it till you feel it’ dan saya percaya bahwa apa yang kita kerjakan akan meng-influence apa yang kita rasakan. That’s how we attract positivity, well and new people in this case. Saya juga percaya berkenalan dengan orang baru akan selalu memberi ‘take out‘ ke kehidupan kita untuk dipelajari. Sekarang saya sudah jauh lebih santai untuk berkenalan dengan orang baru daripada 4 tahun yang lalu. Practice makes better 🙂

 – Be spontaneous

So let’s not take time for granted and live a more interesting and full life!!!!!!!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply