Thoughts

Setitik anomali pikiran dari ‘sahabat’

16th January 2014 - 8 min read

Lelah, tapi bergairah. One rooster down, some more to go for this week, and then it will finally hit on Sunday. Mama saya, wanita terbawel yang saya paling sayang, akan sampai ke negara kincir angin tempat saya dan kakak saya (yang baru-baru ini baru kembali lagi ke Belanda) tinggal. Sebenarnya tidak semata menjenguk saya, tetapi bermaksud menjenguk calon keponakan saya yang diprediksi akan lahir dalam minggu-minggu ini. Rooster yang tadi saya maksud itu adalah jadwal kerja part time di restoran (tempat saya kerja demi keberlangsungan hidup di negara ‘pelit’ ini). Saya bilang pelit, karena Belanda adalah salah satu negara yang (stereotype-nya) paling teramat perhitungan di Eropa. Konon katanya, kepelitan ini mengacu kepada ‘hidup berhemat’ kaum injili pada saat itu. Kalau tidak salah, injili yang dimaksud adalah sekumpulan orang-orang penginjil’, bahasa mudah dalam islam-nya seperti Hafiz/Hafizah. Si injili ini muncul setelah beberapa agama berbeda yang datang seperti Kristen, Para pemrotes (Protestan), dan Katolik. Tapi apa bedanya dengan mereka, saya juga tidak tahu. Sebenarnya harfiahnya sama dengan islam, tidak boleh hidup berlebihan. Tetapi karena pada akhirnya mayoritas penduduk di Belanda sangat futuristik, pola berpikirnya pun diarahakan untuk menjadi science-based, yang menjadikan mereka berwawasan (terlalu) luas, maka mereka memutuskan untuk tidak beragama, akhirnya kepentingan duniawi pun mengambil alih. Uang kalau bisa disimpan saja dalam tanah….
Saya pun yang merasakan berteman dan melayani orang lokal selokalnya Belanda tidak menyangkal kalau mereka memang sangat perhitungan dalam menggunakan uang. Dan sepertinya mereka sendiri sadar betul akan hal itu, kok bisa? karena mereka mengerti apa yang mereka lakukan. Orientasi seperti ini membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang luar biasa praktis dan kreatif. Kalau bukan karena pola pikir maju mereka, mungkin sampai saat ini lampu kulkas masih saja menyala (kabarnya, dulu seorang mahasiswa Belanda marah karena lampu kulkasnya selalu menyala dan menambahi tagihan listrik akhir bulan), kendaraan sepeda tidak menjadi alternatif (yang menjadi percontohan negara2 maju dan berkembang, mulai UK hingga Indonesia), tidak ada organ buatan, mikroskop dan sebagainya. Awal dari penemuan adalah kebutuhan dan keingintahuan… semangat inilah yang membuat suatu hal lebih baik dari kemarin yang menginspirasi penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi peradaban dunia.
Nah, pertanyaannya, kok bisa yaaa? Apakah ini karena sistem pendidikan di Belanda yang terlalu baik? Apa pendidikan sesorang itu berdiri sejajar dengan produk yang dihasilkan? Apakah tingkat kesuksesan dan kejeniusan seseorang diukur dari level akademis yang dienyam?

Seperti biasa, saya dan si ‘sahabat’ ini terjebak dalam diskusi yang tadinya hanya diawali dengan pertanyaan acak saya ‘negara-negara mana yang ingin kamu tinggali nanti?’. Saya punya mimpi besar, salah satunya adalah dapat hidup nomaden, menjadi pribadi yang kokoh di lingkungan sosial yang dapat berubah-ubah setiap waktu. I wanna leave my heart in different places :p Bayangan itu selalu berhasil mengembangkan senyum di wajah saya.
Kembali ke pertanyaan itu, sang ‘sahabat’ pun dengan cepat berseru ‘Jepang’. Singkat, karena Jepang adalah negara yang sangat unik dari sisi kesejajaran nilai tradisional yang masih kental, dengan modern-nya teknologi mereka melalu terobosan yang tidak pernah terpikirkan oleh makhluk lain di belahan dunia satunya. Bagi dia, poin itu penting untuk menjadi alasan dia bertempat tinggal di suatu tempat. Dengan kata lain, untuk memenuhi rasa keingin-tahuan-nya. Lalu, beranjak ke negara lain, Switzerland.. Karena menurut dia sepertinya indah, dan dia ingin memiliki sebuah pengalaman bertempat tinggal di salah satu negara mahal di dunia itu.
Tapi kenapa semuanya fokus ke dia yaa?
Sesaat sebelum itu, saya melakukan hal yang menurut saya paling fun di muka bumi ini, cyber surfing. Dan menemukan artikel Huffingtonpost mengenai list negara-negara yang memiliki sistem pendidikan paling bagus di dunia, yang peringkat utamanya ditempati oleh Finland. Saya pun bertanya, “apa kamu tidak memikirkan pendidikan anak-anakmu nanti? Jepang iya emang keren, tapi disitu lebih banyak manula daripada anak-anak. Orang-orangnya desperate….. Finland tuh sistem pendidikannya bagus”. Dia pun kembali bertanya, “apakah itu penting? tidak ada yang tahu latar belakang pendidikan orang seperti Einstein? Orang-orang itu tidak jelas sekolahnya, tapi jenius aja tuh. Semua tergantung dari potensi diri”. Karena latar belakang keluarga yang sangat mengutumakan pendidikan (Bapak saya dosen), saya pun berkata “pendidikan memang bukan segala-galanya, tapi pendidikan adalah awal dari segalanya”. Dia pun terdiam, “ya memang benar, tapi liat saja Finland, apakah iya banyak ilmuwan, peneliti, atau intellegent lainnya yang berasal dari sana? Yang terkenal aja cuma NOKIA. Anakku nanti nggak akan aku paksa untuk sekolah, terserah dia maunya apa, yang penting happy dan tetap bisa punya kemampuan seperti anak-anak seumurnya. Sources sekarang unlimited, sayang”. Saya langsung terkena serangan jantung mendadak, MANA BISA BEGITU? anak kecil mana ngerti sih maunya apa? mana tahu arti bahagia? terus nanti kalau harus penyetaraan gimana? kalau mau cari kerja ga punya ijasah gimana? *emak-emak rempongnya langsung keluar. Tapi masuk akal kan? Pikiran saya yang konvensional pun secara cepat menolak ide itu…
Lalu dengan sabar dia bilang “Sekolah itu ada untuk memenuhi tuntutan sosial, saat kamu sekolah semua ide pun akan menjadi sama. Semua eksak. Pikiran kreatif setiap individu pun akan cenderung menjadi terbatas karena adanya sistem dan teori-teori itu”. Hmm masuk akal juga, tapi tetep keukeh kalau orang tua tugasnya tetap mengarahkan, karena bagaimanapun anak adalah produk rumahan, dari orang tua. Tugas kita untuk memberi yang terbaik untuk mereka, tapi pertanyaannya “Tau apa kita tentang apa yang terbaik untuk dia?”. Mendidik anak pun menjadi suatu hal yang teramat kompleks, karena setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh kembang secara sempurna, diterima di lingkungan umum, dan mengenyam pendidikan di sekolah favorit. Lalu, untuk apa itu semua jika sebenarnya dia dapat berkembang dengan hanya berdiam di kamar dan meneliti sesuati yang dia suka?
Ahhhh hidup memang kompleks jika tidak diberi garis. Mungkin ini alasan mengapa ada norma-norma kehidupan yang tidak tertulis tapi patut dilakukan, karena manusia tidak akan mengerti dimana harus berhenti, dan tidak akan paham kemana harusnya hidup berjalan?

Tapi seperti biasa, diskusi yang sebenarnya panjang ini pun berhasil membuat saya melihat sesuatu dari sisi yang lain. Kebiasaan yang mulai suka saya lakukan setelah saya menemukan sang ‘sahabat’. I am glad… at least saya tidak menjadi judgmental terhadap orang-orang yang memutuskan untuk tidak bersekolah. Karena saat kita yakin kita dapat menggapai sesuatu, kita akan benar-benar bisa menggapainya. πŸ˜€

Jadi ya intinya, anak saya tetap harus sekolah. *loooh?* itu sih pilihan pribadi. Tapi fyi, saya memang ingin mengajari sendiri anak saya kelak, dari kecil mungkin hingga tingkat dia memiliki karakter tertentu. Kita lihat kemana rejeki membawa, apakah keluarga saya cukup settle untuk saya ‘menemani’ anak saya sepanjang hari? (Anyway, tetap akan saya bawa bermain dengan teman sebaya. Sosialisasi tetap penting!).

-Sekolah memang tidak harus di dalam ruang kelas dengan guru dan murid lainnya, kehidupan yang kita jalani ini adalah sekolah yang sesungguhnya, dan permasalahanmu adalah gurunya. –Β 

Β 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply