Browsing Category

Haji dari Belanda

Haji dari Belanda

Checklist perlengkapan haji

3rd November 2018 - 10 min read

Perlengkapan haji adalah hal dari haji yang paling bisa disiapkan dan diminimalisir kekurangannya dengan persiapan yang baik. Terutama karena Haji dari Belanda semua logistik dan supply harus disiapkan secara mandiri. Dari cerita-cerita pengalaman, banyak juga yang saking karena persiapan, paranoid, plus terlalu semangat, akhirnya over packed dan banyak barang-barang nggak perlu yang cuma membuat berat tapi tidak terpakai. Ada juga tim yang bawaannya super simple dan berniat belanja di tempat tujuan. Susahnya saat ada emergency jadi tidak tercover dengan baik jadi harus bergantung ke teman-teman sekitar. Walaupun teman-teman pasti ada yang mau menolong dan punya cadangan, tapi biar merasa lebih aman dan nyaman, baiknya bawa semua sendiri yang memang esensial.

Saya tim tengah-tengah aja yang cukup, nggak terlalu banyak dan sedikit. Kadang melebihi sesuatu karena dengan niatan ingin membantu atau memiliki extra untuk membantu teman-teman haji yang lain. Insya Allah sudah niatkan untuk selalu hands on dan siap membantu jamaah-jamaah lain disekitar terutama di satu grup.

Jadi, dipost ini pengen share barang-barang aja aja yang kami bawa yang bermanfaat, yang tidak bermanfaat dan yang tidak kami bawa dan akan menjadi manfaat. Saya akan membagi ke beberapa kategori

  1. Pakaian

Untuk pakaian ini saya membawa 6 gamis, 5 khamr / jilbab panjang hingga menutupi perut sehingga lebih aman dan 2 daster. Untuk gamis, baiknya yang berbahan mudah kering dan menyerap keringat. Salah satu miskonsepsi adalah gamis harus berwarna putih seperti normalnya jamaah-jamaah haji di Indonesia. Saya membawa 1 baju putih tapi akhirnya ribet sendiri karena harus dobel-dobel saking takut nerawang, begitupun dengan khamr atau jilbab. Untuk pakaian, saya cenderung suka yang gelap dan tidak terlalu mencolok. Kemarin dipinjami kakak saya yang sudah berhaji duluan dan ada beberapa yang warna, tapi nggak apa-apa karena sebenarnya bebas asal tidak membentuk badan, panjang dan bahannya menyerap keringat.

Karena disana hawanya panas dan cenderung gerah, pilih dalaman celana yang dingin. Kalau saya boleh saran, jangan legging hitam yang ngepas di kaki seperti biasa kita pakai sehari-hari, karena akan panas dan bisa jadi nggak nyaman. Lebih baik jangan mengambil resiko dan mencari yang memang bahannya dingin, berwarna terang atau malah celana gombrong seperti yang dipakai dirumah. Celana ini akan berfungsi baik di mina karena bisa tinggal lepas gamis dan tidur. Ohya, jangan lupa juga untuk membawa kaus kaki. 3 saja cukup kemudian dicuci-cuci.

Ada tips untuk akhwat, yang tidak ingin terlalu sering mencuci bisa menggunakan kaos daleman yang bisa menyerap keringat. Sehingga keringatnya tidak langsung ke gamis, dan gamis masi bisa dipakai lagi. Ringan, mudah kering dan bisa digunakan berkali-kali..

Untuk ikhwan, baiknya membawa 2 pakaian ihrom. Beli disana juga bisa, harganya kira-kira 120-150 riyal. Kemudian baju 5 potong (2 gamis, 3 atas bawah) juga yang mudah dicuci dan mudah kering.

     2. Alat Ibadah

Alat Ibadah ini adalah tasbih, mukena, alquran kecil terjemah dan sajadah kecil lipat. Tasbih yang saya maksud tidak harus tasbih pada umumnya, tapi ‘tawaf’ counter juga bisa digunakan untuk tasbih tinggal dipakai di jari seperti memakai jam tangan dan dibawa kemana-mana. Kemarin alhamdulillah dapat pinjaman dari temen yang sudah berangkat haji kemudian dapat lagi dari Turkish Airlines. Alhamdulillah semua kepakai karena bisa diberikan ke teman yang counternya hilang. Menurut saya dengan menggunakan ini, bahkan saat tidur pun, jadi mendorong secara otomatis untuk ingat berzikir. Ini salah satu tips dari temen sekamar saya dan memang bener setelah saya praktekkan. Mukena untuk saya, saya gunakan hanya di hotel, untuk diluar luar gamis panjang dan khamr sudah lebih dari cukup insya Allah. Mukena juga sangat mudah untuk tinggal dipakai kalau tiba-tiba ada ketukan pintu heheh. Sajadah kecil lipat kudu banget dibawa kemana-mana karena sangat terpakai. Bawa yang ukurannya sangat kecil but does the job!

      3. Sepatu, sandal jepit

Sepatu ini adalah senjata untuk berhaji dengan nyaman. Kenapa? Karena akan banyak sekali berjalan terutama dari Mina ke tempat lempar jumrah. Sepatu yang saya gunakan kemarin adalah skechers, salah satu brand yang juga direkomendasikan banyak orang. Sangat ringan, empuk, nggak licin dan tahan lama juga bisa dicuci. Sandal jepit pun super penting dan baik untuk dibawa, it will come in handy at some point for sure. Kemarin beruntung sekali bisa beli bekas murah dari temen yang sepatunya sudah nggak kepake tapi masih seperti baru.

     4. Tas

Alhamdulillah lagi saya dapat pinjaman dari teman, tas Kipling yang emang banyak banget direkomendasikan orang-orang yang sudah berhaji. Tas ini sangat durable, kuat, dan water repellent jadi nggak perlu panik saat nggak sengaja kena air dll yang kadang memang tidak bisa dihindari. Size medium ini cukup menampung kebutuhan esensial, bahkan sandal/sepatu pun masuk hehe. Tiap keluar barang-barang yang selalu saya bawa di dalam tas adalah botol minum, uang, sajadah pocket, masker, lipbalm, snack, buku doa, Alquran, hp, reusable bag untuk belanja, reusable bag untuk taro sandal atau sepatu.

Tips: Foto koper yang dibawa supaya semisal hilang bisa dengan mudah ditunjukkan. Baiknya tandai dengan sesuatu yang mudah dikenali. Hence, the black and yellow belts 🙂

     5. Buku

Kemarin saya membawa buku-buku doa, alat bantu pengingat yang bisa dicantolin di leher, buku sirah nabawwiyah yang bisa dibaca-baca saat menunggu atau di dalam pesawat, dan buku tulis untuk mencatat keseharian. Tips: tulis pengalaman sehari-harimu dibuku catatan itu, percaya deh saat nanti dibaca lagi, semua perasaan saat itu akan secara magis kembali lagi. Kadang kita juga seringnya lupa detil-detil dari sebuah perjalanan, buku catatan ini membantu banget untuk mengingat perjalanan ini.

     6. Makanan

Jauh-jauh hari sebelum berangkat, saya sudah janjian dengan teman-teman sekamar untuk berbagi tugas. Ada 1 yang membawa rice cooker, dan 1 yang membawa water cooker. Saya kebagian membawa beras dan beberapa lauk pauk. Bawa lauk pauk yang mudah dan kering. Kemarin kebetulan di rumah ada rendang bawaan mama mertua yang saya bawa, nikmat bangetttt.. Agak deg-degan bau tapi ternyata nggak! Tapi lebih baik langsung dimakan saja yaaa jangan disimpan terlalu lama. Lauk pauknya sekitaran abon, teri, kering kentang. Bawa juga sambal ABC dan Kecap manis dari Belanda karena memang kadang lidah kita cepat kangen dengan masakan khas kita. Nggak lupa indomie dan mie gelas. Selain makanan utama, snack pun jangan lupa bawa untuk selalu disimpan di dalam tas untuk menambah energi dan mengganjal saat kelaparan tapi belum ada makanan.

     7. Toiletries

Cari semua bahan yang tidak mengandung parfum (tidak berbau) supaya lebih aman saat berihrom. Untuk pasta gigi nggak masalah, walaupun ada berbagai macam pendapat. Namun ustadz kami berpendapat tidak apa-apa dan saya memutuskan untuk mengikutinya. Toiletries ini dari sabun, shampoo bermerk Neutral. Untuk body lotion dan sunblock saya membeli yang untuk anak-anak karena memang selalu tidak berparfum. Semuanya dibagi di botol kecil-kecil dengan suami. Satu botol saja cukup. Selain itu deodorant merk Salt of the Earth yang saya kebetulan punya, saya beli di etos sudah lama. Kalau tidak ada, bisa juga pakai baking soda. Jangan lupa lipbalm dan moisturizer muka karena udaranya yang sangat kering. Deterjen pun merek neutral, ini wajib sekali karena lebih baik disana mencuci dan seperti saya yang gampang gerah, dipastikan akan mencuci setiap hari 🙂 Pantyliners dan pembalut juga jangan lupa.

    8. Pengaman dari matahari

Masker, kacamata, sunblock, topi (atau payung) itu harus banget wajib dibawa. Masker nggak hanya untuk panas dan kering matahari tapi juga sebagai pengaman untuk menghindari virus yang menyebar dari banyaknya orang di satu tempat.

    9. Minuman

Nggak perlu pusing dan repot soal minuman dan nggak perlu bawa minuman aneh-aneh. Di sana nanti akan diberi jus-jusan kalau memang tidak termasuk di paket kotakan yang diberikan tidak perlu meminta, atau bisa ditolak karena bisa bikin gatel tenggorokan. Yang paling bagus adalah air zam zam atau minimal air mineral yang tidak dingin. Untuk minuman, yang perlu dibawa hanya BOTOL minum, kalau bisa yang double function juga sebagai spray untuk semprot muka atau kepala saat keadaan sangat panas.

    10. Obat-obatan dan vitamin

Obat-obatan yang saya bawa adalah obat-obatan standar seperti norit dan oralit untuk diare, isostar untuk pengganti ion dan hidrasi, paracetamol, panadol, tolak angin, minyak kayu putih, koyo cabe, minyak tawon, plester, dan juga plester khusus untuk blister kaki. Selain itu saya juga diberi primolut dari dokter karena saya request tapi akhirnya tidak saya pakai, tapi berguna untuk teman saya yang ternyata pil kontrasepsinya malah membuat mens-nya keluar. Dalam hal ini primolut memang lebih kuat.

     11. Alat-alat

Nah alat-alat yang saya sebutkan ini adalah alat-alat yang harus dibawa dan akan bermanfaat nggak hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain

  • Spidol dan lakban untuk membawa air zam-zam
  • Kotak makan (+- 2 pcs) dan cuttlery – untuk membawa atau menyimpan makanan sisa, untuk emmbawa bekal dan untuk membagi makanan dengan jamaah lain
  • Sponge cuci piring
  • Gantungan kacamata hitam – supaya nggak perlu susah-susah untuk melepas dan takut kacamata hilang
  • Extension dan colokan
  • Botol minum dan spray
  • Charger dan portable charger
  • Gantungan baju (5 biji) – kepake banget untuk jemur baju di kamar mandi
  • Mat untuk di muzdalifah dan pashmina sebagai selimut
  • Gunting kecil, gunting kuku
  • Sarung bantal untuk di mina

Semoga cukup lengkap dan bisa bermanfaat untuk persiapan yaaaa..
Checklist lebih lengkap lagi bisa didownload disini.

 

So much love xxx

 

Haji dari Belanda

Itinerary Haji 2018

30th September 2018 - 4 min read

Haiii semuanya, saya kembali lagi di seri Haji dari Belanda. Kali ini pengen cerita soal itinerary Haji tahun ini saat rombongan kami berangkat. Sebelum berangkat, kami lumayan bertanya-tanya karena walaupun dikasih jadwal dari Euro muslim, tapi masih tidak terbayang dan tidak detil akan aktivitasnya. Sepertinya diberi tahun berkali-kali pun masih nggak klik gitu rasanya, karena sama sekali belum ada bayangan. Tujuan dari sharing kali ini adalah supaya sebelum daftar pun atau saat persiapan sudah bisa sedikit-sedikit menyerapi dan membayangkan. Sepertinya juga karena pendokumentasian Euro muslim ini kurang organized, jadi tidak ada dokumen untuk dijadikan referensi pasti.

Sedikit update dari Pak Said, pembimbing haji kami di Euro muslim, sudah mulai ramai pendaftarnya untuk tahun depan (2019). Masya Allah semakin lama semakin banyak anggotanya dan semakin cepat pula ramainya.

Pastinya setiap travel berbeda-beda programnya, seperti saja di Indonesia yang ada banyak kloter. Dari kloter awal hingga kloter akhir. Disinipun seperti itu, walaupun perbedaan berangkatnya tidak selang terlalu jauh. Menurut saya program dari Euro Muslim/Diwan Travel ini cocok karena dimulai di Madinah sehingga tidak perlu miqat di pesawat dan cukup waktu menginap di Madinah pun Mekah. Bener-bener cukup, tidak terlalu lama tidak terlalu cepat.

Bagi yang akan menunaikan ibadah haji baiknya membandingkan terlebih dahulu itinerary program haji dari satu travel dan travel lainnya.  Perhatikan juga berapa lama waktu kita di Mekah, lama transit di apartemen sebelum ke Arafah dan Mina, lama di Madinah dan Jeddah. Karena akan berpengaruh terhadap harga.

Di travel haji kami bisa memilih 1 kamar 4 orang, atau 1 kamar 2 orang. Tentunya harganya pun juga berbeda. Kalau memang ingin satu kamar 2 orang, mungkin bisa cari tahu lebih dahulu apakah hotel akan dipisah dengan yang lainnya. Karena ada pengalaman hotelnya terpisah sehingga banyak ketinggalan berita (untuk Euro muslim yang semua komunikasinya melalui whatsapp) maupun juga tidak bertemu dengan teman-teman rombongan yang lain hingga akhirnya ke bandara.

Kira-kira itinerary-nya seperti berikut:

Perbedaan Nafar

NAFAR dalam istilah ibadah Haji bermaksud keluar dari Mina.

Nafar awwal: Melontar jumrah 3 hari, bukan 4 hari seperti Nafar Sani/Akhir. Disebut Awal karena jama’ah lebih awal meninggalkan Mina kembali ke Mekah. Total krikil yang dilontar jama’ah nafar awal adalah 49 butir.

Jama’ah haji Nafar Awal hanya 2 malam menginap di Mina dan meninggalkan Mina pada tanggal 12 Zulhijah sebelum matahari terbenam.

Nafar Sani: Melontar Jumrah selama 4 (empat) hari pada tanggal 10, 11, 12 dan 13 Zulhijah sehingga jumlah batu yang dilontar sebanyak 70 butir. Disebut Nafar Sani/Akhir karena jema’ah haji bermalam di Mina 3(tiga)  malam dan meninggalkan Mina pada tanggal 13 Zulhijah.

Pilihan untuk Nafar Awwal merupakan suatu kelonggaran yang diperuntukkan untuk memudahkan penyelesaian ibadah. Nafar Awwal adalah untuk Muslim yang kurang sehat, tidak dapat menahan larangan ihram atau harus meninggalkan Mina karena keperluan dan keselamatan. Wallahu alam.

Haji dari Belanda Hidup di Belanda

Perbedaan Haji dari Indonesia dan Belanda

9th September 2018 - 8 min read

Salah satu yang menjadi hal yang menarik untuk dibahas di seri Haji di Belanda adalah mengenai perbedaan haji dari Indonesia dan Belanda dari sisi teknis, logistik dan practicality. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan pertimbangan bahkan lebih baik kalau bisa menyiapkan haji dengan lebih matang lagi. Ohiya, kami berangkat bersama Diwan Travel sebuah travel dari Tilburg yang dimiliki oleh orang Maroko. Kuota kami orang Indonesia ikut ke kuota mereka. Mereka ini sudah berpengalaman dalam bidang travel, khususnya umrah dan haji.

Berikut adalah beberapa perbedaan Haji dari Indonesia dan dari Belanda. Semoga ada manfaatnya:

1. Waktu menunggu

Seperti yang sudah sedikit dijelaskan di post sebelumnya , umumnya di Belanda hampir tidak ada waktu menunggu. Setiap negara memang mendapat kuota dari pemerintah Arab Saudi. Saya nggak tahu pastinya berapa, tapi yang jelas di Belanda supply lebih banyak dari demand dikarenakan penduduk Belanda yang mayoritas bukan muslim. Di tahun-tahun lalu termasuk tahun saya 2018, mendaftar 3-5 bulan sebelum keberangkatan pun masih mungkin.

Hanya saja, itu jangan dijadikan alasan untuk menunda-nunda karena semakin tahun semakin banyak peminatnya. Tahun 2016 peminat Indonesia di Travel tempat kami mendaftar ada 35 orang, tahun 2017 ada 50-60an orang, tahun 2018 ini ada 80-an orang. Semakin tahun banyak teman-teman dari LPDP yang datang ke Belanda dan kesempatan untuk berhaji mumpung tidak harus menunggu. Juga semakin banyak orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda yang ingin berhaji. Jadi kalau sudah matang, pilih-pilih travel, kemudian daftarlah..

2. Manasik

Di Belanda, manasik terjadi 2-3 bulan sebelum keberangkatan dengan pertemuan satu kali tiap minggunya. Di dalam manasik akan dijelaskan teori-teori juga dibagikan materi-materi, plus dengan sesi tanya jawab. Durasi sekali pertemuan sekitar 2 atau 2.5 jam. Dari cerita yang saya dengar, manasik di Indonesia sangat intens dan mendetail, lengkap dengan latihan praktek dan terjadi 6 bulan sebelum keberangkatan. Di Belanda, manasiknya cukup simpel, malah cenderung mandiri. Materi dibagikan melalui PDF, terserah kita mau diprint atau tidak. Ada 2 buku doa yang dibagikan, tapi itu saja. Lainnya adalah pilihan kita mau diapakan materinya. Ada yang dengan kreatif dipotong-potong bagian ritual dan doanya dan dilaminating kemudian bisa dikalungkan. Ada yang dijilid.. Macam-macam. Tergantung inisiatif dari kita sendiri..

Manasik di Belanda dipimpin oleh 1-2 Ustadz yang nantinya akan menemani ke tanah suci. Ustadz itulah yang bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan itinerary, informasi dan memimpin ibadah. Semua komunikasi dilakukan melalui whatsapp.

3. Perlengkapan

Bisa dibilang di Indonesia hampir semuanya seragam, from head to toe. Dari mulai jilbab, mukena, baju, celana, baju ihrom, spray muka, botol minum sampai juga koper. Perlengkapan-perlengkapan itu sudah termasuk dari harga yang dibayar. Dipikir-pikir memang untuk di Indonesia sebaiknya begitu karena kalau tidak perbedaannya akan terlalu mencolok. Juga saya benar-benar nggak kebayang kalau contohnya bapak-bapak ibu-ibu tua itu harus riset mencari tahu sepatu apa yang nyaman dipakai atau harus mencari barang satu-satu seperti kita yang muda-muda ini. Menurut kami saja itu sudah lumayan ribet 🙂 ribet-ribet excited asik gitu rasanya.

Melalui Diwan Travel, yang kami dapatkan adalah sebagai berikut, yang tidak dicantumkan harus dibeli sendiri

  • Name tag
  • Luggage tag
  • Buku doa dan tauhid
  • Drawstring bag

Tapi bagusnya kalau naik Turkish Airlines, semuanya akan mendapatkan ‘Hajj Package‘ berupa tas kecil yang juga bisa menjadi sling bag selama disana. Sangat membantu! Berikut yang didapat:

  • Sling bag
  • Kantong untuk batu jumrah
  • Sajadah tipis lipat
  • Kaos kaki dengan grip di bawah
  • Counter
  • Drawstring bag
  • Fenny pack
  • Non perfume soap travel size

4. Biaya dan fasilitas

Biaya pada tahun 2018 adalah 4900 euro atau sekitar 85 juta dengan fasilitas yang menyerupai ONH Plus di Indonesia tapi seperti yang sudah dibilang diatas tidak termasuk perlengkapan lain-lain.
Dari biaya tersebut berikut yang termasuk:

  1. Tiket pesawat PP dengan Turkish Airlines
  2. Hotel di Madinah (Sajja Hotel, incl breakfast+dinner buffet)
  3. Tur Museum Quran di Nabawwi, Jabal Uhud dan Masjid Quba
  4. Transportasi bus Madinah – Mekkah
  5. Apartemen di Aziziya (no food. Saat disana kita disedekahi makanan dari orang kaya di Arab tapi nggak setiap hari. Lebih baik plan untuk bawa makanan sendiri)
  6. Tenda di Mina dengan AC dan sofabed (incl breakfast+lunch+dinner paketan)
  7. Bus dari Mina ke Arafah
  8. Tenda di Arafah dengan AC dan sleeping bag yang bisa dibawa ke Muzdalifah
  9. Bus dari Arafah – Muzdalifah
  10. Bus dari Apartemen Aziziya – Hotel Swiss Al-Maqam Mekah
  11. Hotel di Mekah (Swiss Al-Maqam, di salah satu gedung zam-zam tower dekat Masjidil Haram)
  12. Bus dari Mekah – Jeddah Airport
  13. Air zam-zam 5 liter per orang

5. Wisata

Setau saya kalau di Indonesia banyak ziarah-ziarah dan wisata yang dikoordinir. Untuk Haji dari Belanda hampir tidak ada, hanya yang sudah disebutkan di atas, Museum Quran, Jabal Uhud dan Masjid Quba. Selain itu harus mengkoordinasi sendiri dengan naik Taxi. Mungkin bisa minta salah satu ustadz di group yang menemani.

6. Pusat Kesehatan

Untuk Jamaah dari Eropa, pusat kesehatannya jadi satu dengan yang pemerintah Saudi tetapkan. Untuk Indonesia, kesehatan adalah salah satu hal yang paling diperhatikan. Ada TKHI (Tim Kesehatan Haji Indonesia) yaitu tim kesehatan yang dibawa langsung dari Indonesia untuk menggiring jamaah haji. TKHI ini ada 4-5 per kloternya yang terdiri dari Perawat dan Dokter. Keadaan ini sangat dimaklumi karena banyaknya jamaah haji dari Indonesia yang berangkat dengan kondisi dan juga diumur-umur yang sudah tua. Kemudian ada titik-titik dimana klinik kecil dibuat khusus untuk jamaah-jamaah haji Indonesia. Untuk Belanda kalau sakit ya ke klinik yang ada yang disiapkan pemerintah. Tapi ada kok, jangan cemas 🙂

7. Rangkaian Ibadah

Kurang lebihnya sama. Mungkin ada perbedaan-perbedaan sedikit yang tidak mendasar sebagai berikut. Tapi bisa jadi setiap travel punya kebijakannya masing-masing ya.

  • Mabit di Muzdalifah:  Kebanyakan jamaah Indonesia sudah mulai bergerak dari dini hari. Kami bergerak setelah matahari tergelincir untuk ke mina.
  • Nafar Awwal (meninggalkan mina pada 12 dzulhijah) dan Nafar Tsani (meninggalkan mina pada 13 dzulhijah): Sudah menjadi lumrah saat jamaah indonesia by default mengambil nafar awwal. Nafar Tsani adalah sunnah jadi tidak wajib memang untuk dilakukan. Diwan travel memberi kebebesan karena pasti ada dari jamaah yang sakit, tua, membawa anak, dll
  • Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah): Sunnahnya mabit di Mina tapi kebanyakan kloter Indonesia (reguler) tidak melakukannya.

8. Koordinasi di Lapangan

Ada beberapa ustadz lokal (orang Indonesia) yang membantu pada saat beribadah. Tapi hanya sekedar membimbing dan memberi tahu, tapi tidak didikte doa. Jadi bisa dibilang harus mandiri.. Doa-doa harus dipersiapkan sendiri.

9. Agen travel

Di Indonesia ada reguler dan private travel agency. Di Belanda semuanya private travel agency. Pemerintah di Belanda tidak terlalu involve dibandingkan pemerintah Indonesia di persoalan Haji. Karena jumlah jamaahnya yang tidak terlalu banyak. But all in all, everything is fine!

Haji dari Belanda Hidup di Belanda

A very humble experience

4th September 2018 - 6 min read

Sesuatu yang ditunggu-ditunggu dari beberapa tahun lalu akhirnya datang dan terealisasi. Setelah kurang lebih 3 minggu, akhirnya kami kembali ke kehidupan dunia.. Kali ini saya nggak menyebut kembali ‘reality‘ seperti yang saya biasa bilang saat kembali dari berlibur.  Karena 3 minggu kali ini super spesial. Bukan berlibur, tapi beribadah (dan sedikit-sedikit ziarah plus visit-visit pasar di sekeliling – of course :P). Mohon doanya semoga semua amalan kami diterima dan dosa-dosa kami dihapuskan Aamiiin.

Dan buat saya ‘reality’ adalah saat berada disana beribadah dan menghadap, terutama simulasi kiamat di Padang Arafah juga Mina dan Muzdalifah. Bukan saat saya disini mengetik laptop dan memikirkan kerjaan, terutama bukan saat sedang berlibur.

Because reality happens after life and because reality equals to immortality in which we are all heading to. That is what I felt when I was there… A sense of worship, surrendering, ego-less and my concern to after life of mine and people I love..

Saat kemarin di sana, saya (juga berkat motivasi Damar) bercita-cita setelah balik untuk share dengan sebelumnya meluruskan niat bahwa motifnya nggak lebih dari sharing melalui tulisan blog. Saya ngerasa teramat beruntung karena kakak kandung saya yang tinggal di Belanda dan beberapa teman dekat sudah melaksanakan ibadah ini beberapa tahun lalu. Banyak info (juga barang-barang) yang bisa saya dapatkan dari mereka, tapi bahkan itu pun tidak mendetil seperti apa yang saya alami sendiri di sana. Ada beberapa hal yang I wish I have known before. Dari soal itinerary, ekspektasi kegiatan-kegiatan disana, gimana makanan di sana, apa yang harus dipersiapkan dll. Semoga ini menjadi amal jariyah, bukan malah sebaliknya. It’s also for what I want to look back in the future.. Just like my other posts 🙂 

Dengan motivasi itu, saya pengen bikin seri mengenai Haji dari Belanda. Jadikan ini hanya sekedar acuan, bukan standard. Karena pasti setiap tahun berbeda, entah menurun ataupun meningkat. Baiknya tetap pergi tanpa ekspektasi tapi bukan berarti tidak bersiap sebaik mungkin. Saya juga pengen menyemangati kalian-kalian yang masih muda untuk bermimpi dan berniat beribadah sedini mungkin. Untuk yang di Indonesia yang sudah bisa DP, segera lakukan.. Percayalah bahwa jalan itu pasti akan ada. Untuk yang bermimpi untuk kuliah di luar negeri, jika mungkin, masukan ini sebagai salah satu hal untuk dilakukan sebelum kembali ke tanah air

Kenapa berhaji di usia muda?

Kalau ditanya hingga waktunya berangkat pun, saya masih mentally nggak siap. Meski persiapan logistik sudah sedetil mungkin, namun urusan mental menurut saya adalah sesuatu yang paling sulit untuk disiapkan secara matang. Di awal-awal ada keinginan untuk berhaji, rasanya malu sekali datang ke tanah suci dengan dosa yang amat banyak, masih belum berhijab, dll. Takut dan super deg-degan rasanya.. Tapi saya yakin, sampai kapanpun kita nggak akan pernah siap….

Kesiapan yang membantu untuk menyiapkan mental adalah banyak berdoa, bertobat dan minta diberi keyakinan juga mendengarkan kajian-kajian mengenai haji.

Dulu sempat berpikir saat berhaji dari luar negeri, kita bisa keblinger, asal punya uang kita bisa berangkat. Tapi sebenernya nggak, ada satu komentar dari salah seorang petugas Haji asli Indonesia yang berdomisili di arab yang hingga hari ini masih terngiang di telinga saya. “Orang yang bisa naik haji itu adalah orang yang terpilih, kadang orang yang punya uang tapi tidak ada waktu, kesehatan atau energi untuk pergi, kadang punya uang dan tenaga tapi tidak ada waktu, ada orang punya uang tenaga kesehatan waktu tapi belum ada panggilan, ada orang yang ingin sekali pergi punya kesehatan namun tidak bisa pergi.” Banyak sekali variabelnya..

Jadi saat variabel itu utuh, ada.. semua positif. Carilah panggilan itu walaupun belum ada.. Cari.. Karena berarti haji sudah menjadi sebuah kewajiban. Umur nggak ada yang tahu, dan saya nggak tahu mau jawab apa nanti saat ditanya malaikat mengapa nggak berhaji. Naudzubillah himindzalik. Saya nggak henti-henti bersyukur bisa punya kesempatan ini. Alhamdulillah..

Ada apa dengan Haji dari Belanda atau generally dari luar Indonesia?

Waktu menunggu

Umumnya di Belanda hampir tidak ada waktu menunggu. Jadi setiap negara mendapat kuota dari pemerintah Arab Saudi. Saya nggak tahu pastinya berapa tapi yang jelas di Belanda supply lebih banyak dari demand. Walaupun itu sudah taken into account penduduk-penduduk Belanda dari Maroko dan Turki yang rata-rata muslim. Jadi walaupun kita tiba-tiba dapat rejeki dan daftar 5 bulan sebelum berangkat, pun masih mungkin. Hanya saja, itu jangan dijadikan alasan untuk menunda-nunda karena saya bisa bilang semakin tahun semakin banyak peminatnya juga karena semakin banyak juga mahasiswa dari beasiswa seperti LPDP dll yang datang yang menggunakan kesempatan untuk berhaji mumpung tidak harus menunggu. Kalau sudah matang, pilih-pilih travel, kemudian daftarlah..

Harga vs Fasilitas

Hanya ada 1 macam fasilitas berhaji dari luar negeri yang bisa dibilang dengan fasilitas seperti ONH Plus. Dengan harga yang jauh lebih murah dari ONH Plus. Pastinya dengan plus minus yang mungkin didapat di ONH Plus seperti persiapan manasik yang thorough dan dikordinir, barang-barang logistik yang disiapkan dll. Haji dari luar Indonesia (khususnya Belanda – dan yang saya alami sendiri) lebih banyak kemandirian dibanding koordinir.

Perbedaan yang lebih detil akan saya share di blog berikutnya. Stay tuned.. 🙂

Beranilah bermimpi dan imani mimpimu itu, percayalah akan ada jalan – MSI