Browsing Category

Wedding Series

Asia Indonesia Love life Wedding Series

Wedding Series part 12 END – Resepsi

3rd July 2016 - 9 min read

22 May 2016

Untuk acara Resepsi, kami sengaja adakan di malam hari tepatnya di hari yang sama dengan Akad Nikah. Banyak orang yang punya pertimbangan lain untuk melangsungkan resepsi di hari lain, contohnya agar nggak terlalu capek. Kalau saya dan keluarga malah kebalikannya, kami pikir lebih baik capek dimaksimalkan dalam satu hari, biar setelahnya sudah lega dan bisa istirahat tanpa pikiran. Konsekuensinya adalah, lumayan hectic  jadinya, karena acara Akad Nikah baru benar-benar selesai pukul 12.30. Sedangkan saya harus menghapus make up sebersih-bersihnya dan keramas hingga hair spray dari sasakan konde nggak bersisa. Kira-kira pergulatan itu memakan waktu sekitar satu jam. Kemudian saya harus sudah kembali ke gedung karena janjian sama mbak Joice (Make up artist) pukul 14.00. Saat Damar masih santai-santai dan tidur siang (bersama Bapak di rumah joglo lol), saya sudah harus bergegas lari-larian ke gedung acara.

Untuk make- up tes dengan mbak Joice sudah seminggu lalu dan happy banget sama riasannya yang flawless. Jadi udah nggak ada perasaan ragu. Biaya MUA emang nggak murah, tapi saya dari awal sudah mikir bahwa selain catering, MUA adalah hal yang worth investing. Gimana enggak, kan harus menghadapi tamu semalaman dan senyum harus menyungging selalu, jadi riasan merupakan sesuatu yang harus tahan lama dan bikin pede.  Jadi, soal make-up saya sudah tenang dan percaya hasilnya pasti bagus hihi. Yang bikin saya kepikiran malah bagian dekorasi. Ini hal yang untuk saya benar-benar akan menjadi kejutan. Selama ini saya berkomunikasi lewat mbak Shinta (sahabat kakak saya, mbak Fany, yang membantu kami), saya hanya memberi gambar, menjelaskan dengan garis besar dan memberi kepercayaan ke Pak Mitro dari Mitra Flower 100% untuk bebas berkarya dengan batasan-batasan yang saya tentukan. Jadi konsep yang datang dari saya adalah memindah suasana outdoor ke dalam ruangan dimana pohon-pohon dan kayu menjadi hal yang teramat esensial. Tapi alhamdulillah kecemasan saya tidak beralasan, karena hasil kerja tim pak Mitro yang hampir nggak ada kurangnya. Detil banget…

Berikut adalah beberapa tips-tips yang saya rumuskan untuk menghadapi dan melewati hari H dengan baik dan stress free

  • Banyak minum air putih dan mengurangi konsumsi makanan yang nggak sehat (lemak jenuh, etc) karena bisa jadi sumber jerawat atau minyak di kulit. Itu semua asal mula dari wajah yang kurang segar.
  • Inget kalau kita nggak selalu bisa on top of everything, delegasi dan kepercayaan itu penting. Saya selalu bilang kalau kepercayaan adalah pilihan. Jangan biarin pikiran kita dimakan oleh kecemasan-kecemasan yang nggak beralasan.
  • Banyak ketawa 😀 Laugh along!! di situasi apapun! Itu akan nge-attract hal-hal baik di sekeliling kita. Happy happy dan bersyukur setiap hari. Things could have always been worse.
  • Kemarin saya bikin Technical Meeting sekitar 2-3 hari sebelum acara. Tujuannya adalah untuk memantapkan segala rencana dan check list segala kebutuhan yang harus dikerjakan. Beri jarak beberapa hari agar jika ada minor-minor yang kurang, masih cukup waktu untuk menutupi.
  • Istirahat yang cukup, biasanya manten lupa akan hal ini karena terlalu sibuk menyiapkan atau menjamu keluarga. Akhirnya jatuh sakit di hari H. Jujur aja kemarin sempat istirahat lumayan intensif karena kena diare. Bayangin deh, pas lagi fitting baju, saya hampir jatuh pingsan. Jadi mau nggak mau harus banyak di rumah dan mengerjakan segala sesuatu dari rumah. Daripada sakit duluan, lebih baik diantisipasi.
  • Tunjuk satu orang yang selalu ada di dekat kamu dan selalu bisa dihubungi kapan saja kalau ada keperluan tertentu. Disini peran maid of honor bisa dimainkan, tapi karena maid of honor saya wanita karir, akhirnya saya memutuskan untuk mengutus kakak tercinta. FYI, hari saya menikah itu tepat hari ulang tahun dia, mba Fany 🙂
  • Berdoa dan minta doa dari orang-orang di sekitar kita.
  • Selalu ingat bahwa pernikahan hanyalah acara satu malam yang cuma kamu dan keluarga serta orang-orang terdekat yang akan ingat. Nikmati perjalanan dan hari penting itu. Kesempurnaan itu mindset yang bisa berubah tergantung dengan keadaan emosi kamu hari itu. Kalau kamu bahagia, semuanya akan terlihat sempurna. Pasti akan ada kekurangan di sana-sini, itu nggak masalah yang penting besok pagi setelah acara kamu bangun dan menemukan sosok yang kamu kagumi selama ini di sebelah kamu 🙂

Review Vendor Surabaya (RESEPSI)

  1. Venue: Graha ITS (5 stars) Harga sangat terjangkau, parkir luas dan relatif nggak jauh dari gedung. Untuk undangan sekitar 2500-3000 orang masih muat dan nyaman. Kemarin acara saya total tamu sekitar 1500 dan masih banyak space. Kami sengaja menghilangkan antre dan salam-salaman dari acara kami sehingga tamu bisa langsung makan. Bentuk gedung ini memungkinkan kami membuat flow seperti itu.
  2. Dekorasi: Mitra Flower (5 stars) Pak Mitra berhasil membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Banyak hal yang kami ingin dobrak. Seperti memindah suasana outdoor ke indoor, memindah kuade di tempat yang bukan seharusnya, membuat panggung yang harusnya tempat kuade menjadi panggung konser jazz spektakuler lengkap dengan tumbuhan hijau yang memang saya khusus minta untuk suasa taman
  3. Make up: Joice Ananta (5 stars) Kalau hasil make up sudah nggak diragukan. Jadi saya nggak akan bahas. Tapi, di luar fakta bahwa make up artist jaman sekarang itu nggak stay sampe acara selesai seperti halnya Dukun manten, tapi mbak Joice make sure kalau make up-nya tahan lama selama-lamanya acara. Dan itu emang terbukti dari make up yang flawless sampe acara selesai, nggak cracking dan cakey sama sekali. Orangnya pun menyenangkan sekaliiiiiii! Bikin suasana jadi cair dan rasa cape setelah akad jadi hilang karena cerita-ceritanya yang sukses bikin ngakak
  4. Busana Resepsi: Gamar Azis (3.5 stars) Saya memang mengambil resiko untuk memakai penjahit yang belum pernah kenal sebelumnya semata-mata karena dia langganan sahabat saya dan selama ini hasilnya selalu bagus. Jadi saya berani. Pada akhirnya, saya (dan juga mama saya) effort sekali untuk memastikan bahwa desain yang saya inginkan bisa diikuti dengan baik. Saya sempat terkena mini heart attack 3 minggu sebelum acara karena ditunjukkan hasil bajunya lewat foto. Jauh sekali dari bayangan dan gambar. Mungkin memang susah karena mengerjakannya harus long distance, juga nggak bisa fitting properly. Walaupun semuanya berakhir bahagia, namun saya lumayan dag-dig-dug dibuatnya….
  5. Photography: Poetoegraphy.com (4.5 stars) Mas Putunya baik sekali dan sangat kooperatif dengan segala kemauan kami. Semua tepat waktu dan dikerjakan dengan profesional. Tapi tetap, hasil akhir foto itu akan kembali ke taste orang masing-masing 🙂
  6. Videography: Paper Pic (….) Masih belum terima hasilnya, tapi sudah ditunjukkan sneak peak-nya yang langsung jadi sehari setelah acara. Dan memang cantik banget. Mas Angky dan mas Ian orangnya asik, lucu, dan berusaha sekali memenuhi semua kemauan kami.
  7. Catering: Hidayah Catering (3.5) Semua orang bilang lontong kikil-nya nikmat sekali juga makanan-makanan yang lain. Kurangnya adalah pelayanan dari pekerja yang turun tangan di hari H. Supervisor pun saat itu nggak ada di sekitar. Panitia konsumsi dari keluarga sangat kecewa dengan ketidaksigapan untuk mengisi makanan sehingga banyak tamu-tamu yang menemukan buffet-nya kosong.
  8. Band: Green Tea (5 stars) Mereka berusaha sekali memenuhi wish song list dari kami. Melodi dan rendition mereka kami suka. Tampilan dari para pemain-nya pun menyesuaikan dengan tema acara kami. Awalnya agak deg-degan dengan rencana kami yang ingin meletakkan mereka sebagai point of interest di panggung besar. Takutnya mereka merasa dimanfaatkan karena tarifnya yang sama, tapi ternyata mereka malah senang dan merasa dihargai 🙂 Ketara sekali mereka bermain musik dari hati, karena hobi.
  9. Cake: Creamy Dreamy (5 stars) Cake-nya cantik dan enak sekali rasanya. Sesuai dengan konsep yang saya harapkan.
  10. Wedding Organizer: Mama, Saya Damar, dan bantuan dari The Party Story (5 stars) Hands up untuk mbak Shinta dan mas Boim. Mereka dari the Party Story yang ngebantu menengahi keinginan saya dan mama, juga pol banget menggiring dekorasi di hari H demi memenuhi permintaan kami. Keinginan untuk tidak ada antre juga terjadi karena campur tangan mereka. Semua acara tepat waktu dan berjalan dengan baik 🙂

Resepsi

Asia Indonesia Love life Milestone Wedding Series

Wedding Series part 11 – Akad Nikah

16th June 2016 - 6 min read

22 May 2016

Exactly a month ago, I married a man of my dream. Everything that I was looking for to be in a person.

I never thought being married would be this great. And I guess, it is not about the marriage, rather about being married to the right person.

My thought flew to the milestone we both had a month ago.
The ceremony was started at 9 in the morning. I was preparing myself with a big help from tante Made, the woman behind Sanggar Mitapuri in Surabaya, since 5 in the morning. I love Tante Made’s dedication in transforming me to a proper Javanese bride complete with Paes (that is the black paint in my face that is continued to my hair which shows maturity and readiness to be someone’s wife). Javanese make up artist had to go through serious study and taken diploma in Javanese culture and make up. Thus they would not only do the job, but also having in-depth knowledge about every rituals in the Javanese traditions, including how to do the make up (which color of eyeshadow is allowed, etc), where to tide up the jasmine flowers, what kind of prayer she needs to do before starting to work on the bride’s face, etc. It was very sacred already starting from the make-up process.

I made the request from the test period with tante Made to not have to high ‘pompadour’ and a big synthetic hair bun that Javanese bride always has. And she granted my request properly. I think the ceremony is the most important and sacred moment of the whole wedding process, where both Damar and I should be a feeling a little nervous. And not being confident does not make the situation any better. Thus, being comfortable with our selves and confident with everything we wear is foremost. That is why, choosing the right vendors to work together and deliver the expectations is vital.

Alhamdulillah, the ijab qabul went smoothly. Damar apparently was less nervous than I was. The moment when Damar said the words, happy tears were bursting. I was very moved by the minute my dad officially gave me away to another man. Subsequently happy and smiling from ear to ear to have another amazing man in my family. Moreover because everything happened witnessed by my family 100th years Rumah Joglo (type of traditional vernacular house of the Javanese people made of teak tree).

After the Islamic married procession successfully took place, the ceremony continued with Panggih. Panggih in Javanese means to meet, is a traditional cultural event held after the ceremony. Meaning that the newly married couple can live their domestic life with a happy and prosperous accompanied by the blessing of both parents and relatives. This ceremony is usually performed at the bride’s house which is my house. I love this part of the wedding, felt very sacred and traditional. I felt like I was a real pure Javanese woman 🙂

Supplies used in this ceremony are: Banana, 3 kinds of flowers: roses, jasmine and magnolia, etc. Kembar Mayang is a series of decoration consisting of palm leaves, especially foliage is plugged into a banana tree leaves which are arranged in the shape of the mountain, a dagger, whip, umbrella, grasshoppers and birds. There is also a banyan leaves, pineapple, jasmine, rice, cotton, cengkir. The significance of those are so that the life of the bride and groom are well and do not encounter obstacles and barriers so quickly to achieve happiness in life. Gantal (betel leaf that has been tied by a thread). Ranupada (washing feet) consisting scoop, bowl, tray, flowers and eggs for the event sritaman ngindak endog. Rice, coins, seeds, bags of cloth, fabric for tablecloths for Kacar Kucur. Rice and side dishes for Dulangan/Feeding each other. The below slideshow is kind of in order on how the procession happened.

Nice to have everything documented and to be able to flashback. That is the main reason I write it down here.

To one month and forever…..

Review Vendor Surabaya (AKAD)

  1. Venue: Rumah Joglo Keluarga Imron (5 stars) Rumah ini merupakan peninggalan nenek moyang kami dari sisi Bapak. Bapak memindahkan rumah ini dari desa beliau di Pati, Jawa Tengah. Saya sangat beruntung bisa menikah disaksikan dengan saksi bisu rumah ini.
  2. Catering: Hidayah Catering (reviewed in here)
  3. Dekorasi: Mitra Flower (reviewed in here)
  4. Make up: Tante Made dari Sanggar Mirapuri (5 stars) Tante Made sangat tidak memaksakan kehendaknya dan beliau dapat memadukan sifat kekunoan dengan kekinian. Dengan sifat keibuan tante Made, saya merasa tenang di make up-in dan mempercayakan segala sesuatu ke tante Made. Harganya juga sangat terjangkau, jauh dari komersialitasan jaman sekarang. Terasa sekali kehati-hatian dan ketulusan dari make up yang dibuat.
  5. Busana Akad putih: Ibu Daud  (5 stars) Bu Daud sukses sekali membuat busana yang pas dan cocok dengan ukuran saya walaupun saya tidak disana. Sekali fitting langsung pas 🙂 Alhamdulillah
  6. Busana Panggih hitam beludru: Tante Made dari Sanggar Mirapuri
  7. Fotografer: Poetoegraphy.com (reviewed in here)
  8. Videography: Paper Pic (reviewed in here)

Akad Nikah – Javanese Traditional Ceremony

Wedding Series

Wedding Series part 10 – Pengajian

12th June 2016 - 2 min read

Sabtu, 15 May 2016

Saya dan Damar sampai Indonesia tanggal 12 May malam. Besoknya, saya harus ke KUA untuk cek terakhir data-data dan ketemu pihak KUA secara langsung, lalu fitting baju akad dan resepsi. Baru ke satu tempat aja, tiba-tiba udah sore. Rasanya waktu habis di jalan karena kota Surabaya itu kota yang besar, jadi sekalinya pergi ke tempat satu ke yang lain udah makan waktu berjam-jam sendiri, ditambah juga dengan padetnya jalanan. Tapi seneng sih, karena hari itu ditemenin Damar kemana-mana jadi ada energi sendiri yang bikin saya makin semangat ngejalanin aktivitas walaupun capek dan jetlag. Sayangnya kami nggak punya cukup banyak waktu untuk keliling Surabaya dan kuliner.

Hari Jumat, saya udah ada janji dengan fotografer+videografer yang akan bertugas di acara kami. Kebetulan keesokan harinya, akan ada acara pengajian dimana baju pengajiannya juga saya belum coba haha. Semua serba surprise.. Tapi saya bersyukur punya mama kaya mamasaya yang punya inisiatif tinggi, sangat detil dan selalu go extra  miles for every responsibility she bears. Nggak dikecewakan sama sekali dengan seleranya mama. Ada 3 baju putih yang bisa saya pilih, tapi akhirnya pilihan saya jatuh ke yang saya pakai dibawah ini, simpel, bersih, sederhana dan adem.

Di hari pengajian, sayangnya saya nggak bisa ikut pegang alquran karena hari itu hari pertama kedatangan tamu, akhirnya pegang buku sholawat dan sholawat bareng ibu-ibu pengajian. Acaranya meliputi pembukaan dari Bapak, ceramah, lalu sholawat dan doa-doa. Pengajian ini isinya perempuan semua kecuali Bapak dan mas Nicko. Jadi Damar diasingkan dulu sementara haha

Di salah satu poin ceramah, saya baru tahu kalau sebaiknya ucapan/doa yang diberikan kepada orang yang akan menikah adalah ‘semoga pernikahannya diberkahi’ dan bukan sakinah mawaddah warohmah 🙂

Di suasana yang panas, rasanya tetep adem karena didoakan dan ngerasa diperhatikan oleh orang banyak. Alhamdulillah…. Terima kasih ibu-ibu, semoga kebaikannya dibalas oleh yang di atas. Aamiiinn…

Bismillahh…

Wedding Series

Wedding Series part 9– Surprise Bridal Shower

12th June 2016 - 5 min read

Sudah jauh-jauh hari, sahabat-sahabat SMA saya 4 orang, Tania, Tina, Mei, Olin, berencana untuk ketemu mengingat kedatangan saya ke Indonesia. Terlebih lagi dengan rencana pernikahan saya yang ‘mendadak’. Mereka ‘memaksa’ agar saya meluangkan waktu untuk mereka. Sebenernya nggak perlu dipaksa juga saya akan membuat waktu khusus ditengah kepadatan persiapan pernikahan. Tapi kan biar berasa sedikit penting haha. Jadi dari setelah saya cerita saya mau menikah, Tania langsung nanya-nanya gimana jadwal saya di Indonesia. Saya bilang agak susah, terutama di minggu-minggu awal. Nggak gampang lho mencocokkan waktu di antara kami semua yang udah punya kesibukan masing-masing, terutama Tina yang kerja nya diluar kota. Waktunya jadi hanya terbatas di akhir pekan. Jadi, saya puter-puterin deh jadwalnya sampai akhirnya Sabtu malamku kosong untuk mereka. Rencananya kami akan bermalam di rumah Joglo keluargsaya, dengan dress code piyama lengkap dengan delivery pizza, dll, slumber party deh ceritanya. Malam itu saya udah siap-siap ke rumah joglo, pake dress yang tadi siang saya pakai dan sandal birkenstock kesayangan, bener-bener gak prepare karena kan rencananya mau stay di rumah aja. 5 menit sebelum berangkat, tau-tau Tania whatsapp. Katanya “udah di jalan nih, see you ya di 1903”, saya tanya balik dong “1903 apaan?”, dibales lagi “di Gubeng, deketnya Domicile”. Uhm okay?! what is this? bingung dan dongkol deh karena rencana yang udah mateng diubah gitu aja, kan joglonya juga uda dikosongin buat mereka, dalem hati menggerutu banget deh pokoknya. Yaudah, akhirnya saya menuju kesana, di tengah jalan, saya pikir yaudalah ya ngapain bete malah jadi nggak bisa menikmati malam bareng. Sampai disana, hati udah tertata dan udah ketawa-ketawa siap menyapa mereka semua. Begitu ketemu langsung deh peluk-pelukkk, ketawa-ketiwi, seneng banget, rasanya ketemu terakhir uda laamaaaaaaaaaaaa, jadi mau kaya gimana, dimana, juga saya bakal tetep seneng. Tapi 5 menit kemudian, mereka pada pengen pindah karena rame katanya jadi ga bisa ngobrol. Oke deh… kami jalan ke ruangan lain, terus tiba-tibaaaa saya disambut dengan pemandangan iniii… Terharu… dan gak nyangka…

DSC_0975

DSC_1010

DSC_0982

DSC_1196

DSC_1046

DSC_1050

DSC_1252 DSC_1247  DSC_1188 DSC_1174   DSC_1068 DSC_1065 DSC_1060   DSC_1012

Di hari berikutnya saya dapat kejutan lain lagi dari Meme dan Fara.. My highschool sweetheart. Mereka set-up fancy dining di rooftop. Untung dehh enggak salah kostum

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with hb1 preset

I LOVE THEM WITH ALL MY HEART …..

Kayanya saya gatau deh what I did right to deserve this. Kadang saya ngerasa bukan sahabat yang baik, karena nggak pernah ada di saat-saat penting mereka. Tapi ternyata mereka terlalu baik dan tulus untuk tetep sayang sama saya. Cheers to those whom stay…..

Temen yang baik letaknya emang jauh di dalem hati….

Wedding Series

Wedding Series part 8- Dress Disaster + Packing Story

8th May 2016 - 6 min read

WAAAA! Udah hari Sabtu, H-4 sebelum hari keberangkatan saya dan Damar ke Indonesia.

Menjelang pulang ke Indonesia, saya semakin inget detil-detil yang masih harus diselesaikan, kaya rundown, musik untuk akad, diskusi songlist untuk band, etc etc. Ternyata kalau semakin dipikir, semakin sadar kalau masih ada aja yang harus dikerjakan. Lalu, saya ngebayangin gimana mamsaya yang ada di Surabaya pasti ribet banget ngurusin segala hal. Saya masih mending ‘cuma’ ngurusin bagian saya aja. Jadi ya sudahlah yuk mari dijalani dengan happy. Diantara hal-hal yang belum siap, salah satunya menyempil sebuah topik yang sangat hot belakangan ini, yaitu wedding dress untuk resepsi. Wedding dress sampai hari ini belum jadi karena saya gak puas terus sama hasilnya. Emang bener-bener gak mudah mempersiapkan pernikahan dari jarak jauh. Selama ini asas percaya sudah terimplementasikan dengan baik, tapi hasil akhirnya (ternyata masih tetap) menuai kritik dari saya. Penjahit yang saya pilih adalah penjahit langganan sahabat dekat saya, selama ini saya selalu suka sama hasil jahitan-jahitannya, rapi dan tasteful. Jadi saya langsung percaya dan ternyata memang dia terkenal sebagai penjahit yang bagus. Kain saya percayakan ke mama untuk cari, mama nggak nunjukin kain yang dibeli sampai saya nanya sendiri ke tukang jahitnya 3-4 minggu yang lalu. Mulai saat itu saya monitor terus dari jauh dan tanya update lewat whatsapp. Pertama kali saya dikirim fotonya, saya udah nggak sreg tapi masih optimis, karena belum finishing. Jadi hasilnya jauh beda banget sama foto yang saya kirim… jauhnya pake bangettt! terus foto kedua, ternyata nggak berubah sama sekali, bedanya cuma ditambahin sedikit payet. Saya udah mulai agak panik karena semakin mendekati hari H tapi baju masih nggak sreg dan masih jauhhh sama contoh model yang kukirim. Akhirnya saya minta bantuan mama saya untuk monitor dan kasih masukan karena mamsaya bisa jahit jadi tahu teknik-teknik yang harus dilakukan biar hasilnya mirip. What a disaster! Sampai hari ini pun bajunya belum jadi. Mama baiiiikk banget hari ini tadi pergi pergi cari ke pasar buat nyariin satu aksen yang saya request gara-gara bajunya terlihat terlalu plain. Wedding dress buat saya lumayan big deal sih, karena itu center of point di malam resepsi dengan undangan yang banyak itu. Jadi gimanapun jadinya, at least saya harus ngerasa pede. Sekarang cuma bisa berdoa tiap hari!!! Bismillahh

Satu hal lagi yang bikin saya lumayan occupied  adalah packing. Dari awal tahun kemarin saya kerjasama preorder  bareng dengan temen kakak yang sudah credible banget di Female daily hihihi iseng-iseng aja nambahin tabungan bekal nikah. Btw, awal tahun kemarin Damar dan saya belum berencana menikah. Nah hasil dari Preorder itu adalah barang bawaan jadi lebih banyak. Jadi pe-er saya adalah ngebagi-bagi secara adil ke keluarga (kakak adek Damar, kakak, dan juga Damar sendiri) untuk bawain ke Indonesia untuk mencegah overweight. Beberapa hari lalu saya packing untuk barang-barang PO dan barang-barang yang saya minta tolong Damar bawa dikopernya. Saya deg-degan deh sama overweight. Mudah-mudahan nggak!

Selain packing untuk itu, saya juga packing barang-barang untuk pindahan ke rumah Damar. Iya, finally saya bakal pindah ke Amsterdam. Untuk sementara saya akan tinggal bareng Damar dan kakak adeknya, sambil pelan-pelan nyari rumah, sekalian nabung juga. Nanti setelah balik dari Indonesia, saya langsung tinggal di Amsterdam jadi paling nggak uda harus bawa baju-baju dan barang esensial dan lemari juga sudah rapih. Saya seneng banget sama packing!! Semakin kesini saya semakin nyadar kalau saya suka packing. HAHA ada excitement tersendiri deh, aneh ya. Nah jadi saya harus beres-beres barang-barang dimulai dari baju.

Saya cukup sering filter barang-barang yang ada di lemari, apalagi dengan metode 1 in 1 out (tiap beli baju baru, akan ada baju yang disumbangkan) yang saya anut. Tapi setiap saya beberes, seperti halnya hari ini, selalu adaaaaaa aja yang bisa dikasihkan ke orang. Artinya, saya sadar bahwa barang-barang itu ada cuma untuk just in case, yang kalau hilang keberadaannya pun saya ga akan cari. Saya selalu ngerasa bersalah kalau saya punya barang terlalu banyak, kaya ada beban. Salah satu goalku saat punya rumah sendiri nanti adalah, mulai semuanya dari nol dan live in minimalist way. Kebetulan Damar juga punya paham yang sama 🙂  So we’re heading there together.

Jadi bersih-bersih lemari terakhir, saya udah sendirikan baju mana yang ‘potentially bisa dibuang’. Indikasinya adalah kalau sebulan dari saya bersih-bersih lemari baju itu saya gak pakai, saya akan buang/donasikan. Dan itu yg terjadi… Numpukkkkk! Dan itu belum termasuk barang-barang yang saya pilihin lagi waktu saya atur-atur di lemari Damar. Memang ngefilter baju itu nggak cukup sekali, tapi harus berkali-kali. Satu hari kita ngerasa pengen nyimpen baju itu, di hari lain kita sadar kalau baju itu kita simpen juga nggak terlalu berguna. Saran saya sih paling nggak 4 kali setahun beberes lemari, sendirikan barang yang sudah usang, unnecessary overlap stuff (contohnya: tights, stocking, tanktop item lebih dari 5), sendirikan barang-barang yang dibuang sayang dan janji sama diri sendiri kalau selama beberapa bulan ke depan (1-3 bulan) nggak dipakai, berarti barang itu layak untuk dibuang. Mungkin bisa lebih berguna kalau dipakai orang lain.

Oke dehhh! Saya lanjut packing lagi, lumayan untuk distract dari cerita dress  yang nggak kunjung usai. Ta-taa….

 

Footnote: Pictures are gathered from different sources in pinterest

Wedding Series

Wedding Series part 7 – Bridal Meet up 1-4 edition

24th April 2016 - 3 min read

Sosialisasi bukan hal yang paling saya favoritin di dunia ini. Tapi salah satu ‘secret of adulthood’ saya adalah fake it till I feel it and act the way I want to feel. Maksudnya adalahhhhhh.. saya ngelakuin hal yang saya nggak prefer, sampe akhirnya saya jadi enjoy dan happy. It works for me for socializing matter 🙂 Walaupun itu bukan hal yang paling saya suka, tapi kan kita ga hidup sendiri yaaa dan sebenernya sosialisasi itu ajang untuk bertukar pikiran, dan menjadi terinspirasi heheh. Sosialisasi ini yang  membawa saya ke orang-orang terbaik yang akhirnya stick di sekitar saya. Orang-orang yang saya sayaaang 🙂 Not many, but I could always count on them.

Saya tuh ambivert, introvert di dalem tapi extrovert di luar. Saat saya lagi sama orang yang saya ga terlalu dekat, saya urge diri sendiri utuk selalu ngomong, itu cara saya untuk menutupi perasaan yang nggak nyaman. Orang-orang di bawah ini adalah orang-orang yang bisa bikin saya diem di sekitarnya, bermain dengan pikiran saya sendiri. Those people are people whom worth to keep and I hope I am also like that from their side. Beberapa waktu belakangan ini, mengingat saya hampir menjadi istri orang, mereka arrange something to celebrate my bridal time.

With my Tommy girls. My fun girls! 

Processed with VSCO with hb1 preset

With my PPI Den Haag squads. Merasa tuaaaa, karena mereka belum ada yang menikah dan most of them masi pelajar LALALALA

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with hb1 preset

 

Sleepover di Delft di tempat Dede, makan spareribs semaleman, cake, chips dan nonton the cheesiest movie ever (Sex and the city 1,2 and Clueless) hahah back to teenage age. Besokannya bangun kayanya nambah sekiloa atau dua kilo gitu dehhh 



IMG_3707[1]

Terus lanjut sama sahabat-sahabat jaman kuliah dulu. Baik banget deh rumah mereka dihias dan mereka bikin rundown acara untuk saya… 

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with hb1 preset

With the Pinata yang aku kasih nama Inge, hahaha

Processed with VSCO with hb1 preset

Last but not least, the penis fruits hahaha

 

xxx

Life Love life Thoughts Wedding Series

Wedding Series part 6 – Arranged marriage?

24th April 2016 - 4 min read

Pengen deh ngebahas soal gimana anehnya temen-temen bule saya nangkep cerita soal rencana saya menikah di usia yang bagi mereka masih sangat muda dan apalagi dengan waktu pacaran yang singkat. Dua kolega saya (yang terhitung dekat) tiba-tiba nanya dengan rasa ingin tahunya, “is it arranged marriage?”. Mereka tahu saya akan menikah nggak lama setelah saya dan Damar ketemu kembali semenjak pertemuan pertama kita 3-4 tahun lalu. Kita nggak pernah menjadi temen atau hangout bareng di antara pertemuan pertama kami dan pertemuan kembali kami setahun lalu. Yang jadi pertanyaan mereka, kenapa saya bisa begitu yakin untuk menikah padahal kita nggak pernah tinggal bareng dll. Saya sudah siap dengan pertanyaan macam ini, karena setelah pengumuman pernikahan, pertanyaan selanjutnya adalah ‘berapa lama kalian pacaran?”, pertanyaan yang menyisakan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Untuk orang barat, wedding/get married itu sekedar formalitas dan bukti kertas agar kedua pasangan memiliki hak adil yang diatur di perundang-undangan pemerintah. Tentunya orang barat yang saya maksud adalah orang-orang barat yang tidak mempercayai agama, ya. Karena bagi mereka pernikahan itu adalah hal kesekian, maka mengenal pasangan dalam jangka waktu yang lama menjadi pokok yang harus dilalui. Nggak jarang juga mereka menikah saat sudah memiliki anak. Dan saya sangat menghormati keputusan mereka ini. Mereka lebih tau yang mereka butuhkan dan prioritas dalam hidupnya, yang penting mereka bahagia.

Mengenal pasangan disini sama artinya dengan tinggal bersama. Saya dan Damar tidak tinggal bersama dan tidak berencana untuk tinggal bersama sebelum menikah, alasan agama/kepercayaan yang kami anut adalah satu hal, tapi hal lain adalah kami ingin menjaga sparks dan kejutan-kejutan baru yang bisa kami temukan setelah menjadi pasangan suami istri. Walaupun begitu, saya percaya mengenal dan berada di satu tempat selama beberapa hari adalah penting untuk manajemen ekspektasi setelah pernikahan (paling nggak selama 1-2 minggu, karena mereka mau nggak mau akan menjadi dirinya sendiri di waktu sepanjang itu). Kami berdua plus kakak adeknya dia ke Iceland bulan Februari lalu, disitu saya mengenal dia lebih jauh, gimana cara dia handle stress, gimana leadership skill-nya dia, gimana rajinnya dia beribadah (poin penting nih, karena saya masih suka telat dan kelewatan heheh it is a huge deal concerning he has been living abroad where islam is mega minority, but he always comes back to his rug). Kami berdua menghabiskan waktu bersama dengan jadi diri sendiri (karena, capek kan berpura-pura selama seminggu), disitu saya semakin tahu kalau kita punya cara berpikir dan pandangan yang sama dalam banyak hal terutama dalam mengatasi masalah. Well, sebenarnya dia much better problem solver karena pembawaannya yang jauh lebih tenang dari saya. Saya udah persiapan dari awal, kalau di suatu perjalanan fraksi yang timbul adalah normal, akan ada waktu dimana mood akan berubah, tapi it went very smoothly untuk kami alhamdulillah. Saya merasa semakin yakin 🙂 🙂 Jadi pengenalan yang bukan cuma ngedate-ngedate aja itu penting bagi saya, walaupun gak sampai harus tinggal bareng.

Saya somewhat pengen ngejelasin dan bikin temen-temenku aware bahwa kami nggak berpikiran setradisional itu. Saya sendiri malah nggak percaya dengan blunt arranged married. Tapi disisi lain, saya juga malas menjelaskan panjang lebar. So ‘is it arranged married?’, I smiled and answered ‘no, we chose each other and he’s the man of my dream. When you know, you know. And we both know what we want, including choosing life partner. And when I find that kind of person, I just cannot wait to live and start the life together’…. 

Love life Wedding Series

Wedding Series part 5 – Tips kolaborasi dan berhemat

28th March 2016 - 8 min read

Jadi, Damar sama saya paham bener gimana mahalnya pernikahan di Indonesia. Bahkan katanya nabung seumur hidup smpe tua baru bisa ngebayarin pernikahan di Indonesia, makanya tanggung jawab membayar biasanya otomatis tertuju pada orang tua. Kenapa mahal, karena pengeluaran unnecessary seperti sewa gedung besar untuk muat lebih dari 1000 tamu, undangan yang diatas 500 yang berarti hitungan makanan harus dikali dua. Undangan bisa banyak karena mayoritas yang diundang adalah kolega, teman, dan relasi orang tua. Jadi memang kebutuhan dan siapa yang mengeluarkan memang berkolerasi.

Walaupun begitu, Damar dan saya tetap ingin berkontribusi in as many ways possible, paling nggak di hal-hal yang kita punya preferensi spesifik dan hal-hal yang mungkin dikerjakan dari jarak jauh. Hal-hal itu adalah sebagai berikut:

  1. Seserahan – alesannya lebih kepada kita punya selera masing-masing yang kurang bisa kami percayakan ke orang lain hahaa karena kan tujuannya untuk dipakai sehari-sehari atau di masa depan
  2. Wedding ring – Ini juga termasuk seserahan si yaaa, cuma saya mau taro di poin sendiri karena ingin berbagi tips. Jadi saya pengennya cincin yang simple tapi dibuat pake hati dan sesuai sama engagement ring-ku, karena pengennya dipake stacking. Saya dari awal cenderung cari di etsy.com, karena saya suka banget sama webnya yang isinya kebanyakan produk-produk homemade dari artisan yang ingin berjualan tanpa platform fisik dan bisa diakses worldwide. Di etsy ini enaknya pilihannya sangaaaaaaaaat beragam, harganya cenderung lebih murah dari retail karena mereka nggak harus bayar biaya toko, administrasi dll, cuma yang harus diingat adalah, kalau barangnya datang dari luar EU (biasanya sih US), bakal ada tax yang harus dibayar karena harga yang mereka tawarkan adalah harga diluar tax dan hitungannya untuk masuk ke negara belanda adalah import. Salah satu tips etsy ini, cari foto yang ada contoh foto yang digunakan, itu memberi indikasi bahwa barangnya memang sedang/sudah pernah ada dan biasanya ini berarti produksi rumahan. Sedangkan yang cuma foto barang, biasanya mass production karena barangnya harus order dulu dari luar. well, ini hanya menurut pengamatanku lho. Yang jelas, so far saya nggak pernah kecewa sama etsy. Damar pun memilih engagement ring saya dari salah satu vintage ring store dari kolektor yang ada di etsy 🙂
  3. Fotografer dan videografer – Kita nggak pengen banget hasil dari foto kita terlalu cheesy atau tacky hahah jadilah kita memilih fotografer sendiri yang pastinya masih cukup di budget kami. Kami berdua memberi budget 8 juta untuk fotografer dan 5-6 juta untuk videografer. Masih affordable untuk kantong kami! 🙂 Kita ngga pake orang yang kita personally kenal, malah kalau bisa menghindari supaya tetap professional dan bisa kita minta-minta request tanpa merasa bersalah karena kita bayar dengan harga normal hahah plan kita begitu sampai indonesia, meeting dengan mereka adalah salah satu hal pertama yang harus dikerjakan.
  4. Pre-wedding – Untuk saya pribadi, saya ga terlalu melihat esensi pre-wedding yang terlalu dolled-up dan nggak menunjukan kepribadian kita. Saya rada oppose pre-wedding yang terlalu diatur dan disetting hehe. Selain itu kalo bukan pre-weddingnya bukan professional kan menghemat biaya juga (*alasan utama* lol). Saya tanya beberapa temen saya tentang biaya pre-wedding, fantastis lho harganya dari 10-25 juta. Menurut saya sayang banget dan lagipula saya pengen banyak personal touch here and there di wedding kami, jadi kenapa nggak ngerjain sendiri aja dengan konsep yang memang dekat dengan kehidupan kami. Kami foto di Iceland seringnya pake tripod, kalau pake tripod rasanya bebas berekspresi dan ga malu (karena kami kan bukan model, ya haha), cuma kurangnya kalo pake tripod, setting kameranya kelamaan, tangan udah kaku dan gigi udah kering, lalu Damar harus bolak balik buat ngeset timer atau mencet klik. hahah tapi itu semua kami nikmatin sih, karena di semua proses pasti ada kurang lebihnya. Kalau minta tolong difotoin orang terdekat dengan tetap instruksi dari kita, lebih bagus lagi kalau teman kita itu punya skill foto. Ini dia hasil foto-foto kami yang ceritanya berkonsep through all the seasons (semua pake tripod)…. urat malunya uda putus walau ditolehin orang-orang bule yang bergumam dalam hati ‘ciyan amat yah pasangan ini’ hahah
  1. IMG_3174IMG_5567IMG_4160

    Spring dan Summernya menyusul… 🙂 Juga sneakpeak foto di studio… tacky part hhahah

    5f19110a-c906-430f-bfb3-406dbc9a88b2787fe01c-813b-48b8-8d80-234e49195a7f

    dc102ddf-7610-433e-ad01-07e8eaee1045

    Not bad lah ya! hahaha

  2. Dress dan suits untuk Damar – Untuk suits Damar, kami sepakat untuk membeli jadi di sini. Warna yang dipilih pun secara mufakat kami pilih sesuatu yang everlasting dan bisa dipakai kembali untuk acara-acara di masa mendatang. Jadi jauh dari embelishment atau sesuatu yang mencolok. Ini sekalian untuk investasi karena Damar belum ada suits yang fitnya benar-benar dia banget. Nggak sulit dapet suits yang pas, alhamdulillah. Tinggal motong clana sama sedikit tangannya nanti di Indonesia. Jadi jatuhnya, HEMAT haha karena bisa dipakai lagi dimasa depan. Kalau untuk dress, saya kasih budget ke diri sendiri, ngga mau terlalu mahal, simpel tapi cantik. Saya percayakan pembelian dan pemilihankain ke mama, dan jahitkan ke penjahit yang saya belum kenal (atas rekomendasi  temenku). Mudah-mudahan hasilnya bagus yaaaaaaa
  3. Band –  Saya pengen banget band jazz yang mengiringi entrance kami berdua. Ini saya dapet rekomendasi dari mbak Shinta yang bantuin untuk organize wedding-nya. Dari segi harga mereka cenderung reasonable dan sudah termasuk dengan sound system sedangkan band-band lain banyak yang menjual sound systemnya, yang akhirnya harganya jadi lumayan mahal
  4. DIY – Some stuff I made myself, contohnya gift for my bridesmaid dan buttonaires untuk Damar. Sebenarnya bukan karena hemat tapi lebih karena pengen ada sentuhan personal disetiap hal di  wedding saya, dan hemat adalah nilai ekstra yang bikin makin semangat ngerjainnya haha
  5. Uang – Orang tua pasti dengan senang hati mengeluarkan simpanannya untuk pernikahan sekali seumur hidup anaknya, tapi kami sebagai anak juga ingin ikut berkontribusi. Saya dan Damar memutuskan untuk mengirim sejumlah uang. Besarnya itu relatif, sesuai kemampuan aja. Paling tidak dengan kondisi kamu yang jauh, itu juga sebagai cara untuk menunjukkan perhatian kami.

Begitulah kira-kira kurang lebihnya.. Kami berdua juga sangat ingin terlibat di prosesnya, walaupun hasil akhir dari yang lain-lain yang ngga kita kerjakan sendiri akan menjadi kejutan, tapi kami percaya apapun hasilnya nggak akan mengurangi kebahagiaan kita di hari itu 🙂 🙂 🙂

Love

Love life Wedding Series

Wedding Series part 4 – Marriage Rules !

27th March 2016 - 5 min read

I recently read a book called the Happiness Project and realizing that getting married is not only about wedding preparation and its glitz&glam, it inspired me to write what I called ‘Marriage Rules’. I think it is important to have a solid base in marriage. Having a perfect wedding is one thing, but having a perfect marriage is a whole another thing. It needs two to tango and sure it needs a ‘goodwill’ to always work it out together. Newlywed will always all about sparks of discovering new things and excitement of creating habits, but as the time goes by, many people say that couple tends to forget things they feel and they do when the marriage starts, for instance saying I love you and being affectionate. The reason why is because it is not easy to get a divorce once you marry someone, hence taking your spouse for granted. That is not acceptable and I (and also Damar) condemn that excuse.

Taking things for granted is the start of unhealthy relationship, because we are urged to stop trying. That is just action and reaction pattern. I think we all need to have a ground rule that is nailed in the back of our mind to always be the best for our spouse and make their happiness as ours.

One point Gretchen made in her book that I agree very much is about setting an example of doing things for the sake of ourselves/personal satisfaction and avoid nagging (which is the nature of woman hahah). Setting an example will automatically set a tone at home, somebody just gotta do what the gotta do, and that is to start a good cycle. The example given will be followed by our partner without he/she realizes it, when she/he does not appreciate what we do, do not get upset because we do thing for ourselves and not for rewards from our spouse. Whilst, nagging and perform bad behaviors to our spouse will lead to even worse behaviors because that is just how human overcome their guilty feeling, to behave worse. Not long after that, we should welcome to the start of a vicious circle which nobody wants. Whenever we want to storm, swallow it and tell them later. We will thank ourselves. So, based on those foundations, I wrote the below marriage rules (which is still in working progress, to be continued… ;))

To manage expectations, we often talked about what our plans are after married including having kids, which country to move next, how to prioritize both of our family and the portion of family’s intervention. We agreed on to something, if things change and priority is shifted, we both would not mind because we know the best planner of everything is Him as we always ask in our prayer to be guided to the path He gives ridho in. “He He will not be lost who keeps on asking the way” aamiinn

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with f2 preset

And for a little intermezzo, I went to V&D yesterday (a big department store in Holland) for its clearance sales as they filed for bankruptcy. I got myself a cute ring holder that I already had in mind ever since I got a ring for Damar that I practically wear everyday.

 

Love

Love life Wedding Series

Wedding Series part 3 – TOMS shoes

19th March 2016 - 3 min read

For me, TOMS shoes are special. Why? It gives me an idea on what I really want to do in life, it gives me a faith that there is a possibility to help people even from the industry that has nothing to do with people in need or often it even hurts the people in need. It makes me believe that there is always a way to make a change in this world, even through the smallest thing, SHOES.

For Damar and I, TOMS are very special. Why? It took part in our love story. The first time we hung out, I told him that I was bored in my job back then. I wanted to move to a place that is different, that has meanings and gives fulfilling sensation everyday when I go to work. In the mean time I was looking and I discovered as well as learnt about TOMS existence. Second time we hung out, I said I really wanted to work for this company, I don’t know how but I said I had to work for this company. We got together, time passed by, I got at job at TOMS. He knew exactly how I felt about working at TOMS, he was the one who supported me, and kept on saying “you are amazing, you will get this job”. I know I am worth, but sometimes human being can forget and needs to be reminded. Damar is there to tell me how beautiful and smart I am. It boosted my confident for sure. I remember he gave a surprise appearance after my 2nd interview, he was there all positive and he said ‘You will get this job”. The day after, I got a call and got offered the job. TOMS takes part of our love story. TOMS also makes me believe that Damar is also a man that I was looking for, a man who keeps on reminding me on what a wonderful person I am. And I will spend the rest of my life making sure he feels the same.

That explains why I want to incorporate TOMS in my wedding a little. Not only because of the meaning for us, but also because when I buy, I will help a couple of people in need 🙂

af073b12-05be-4d2b-85aa-8c23b9c2acc1

These little shoes will be for my flower girls. 2 of my nieces (Aqila and Dina) and Damar’s niece (Aqilla).