Browsing Category

Netherlands

Hidup di Belanda Netherlands

Tips Berburu Padang Tulip di Belanda

27th April 2018 - 5 min read

Musim semi dateng lagiiii!!! Minggu lalu (17-23 April), cuaca di Belanda menghangat sampai 25 derajat. Tahun ini memang kerasa banget perbedaannya dengan tahun-tahun lalu. Tahun ini, musim dingin sangat panjang dan spring datang terlambat. Jadi saat Belanda menghangat, disitulah terlihat orang-orang Belanda bertebaran di luar.

Sebenernya sudah mulai akhir maret taman Keukenhof (taman tulip di Belanda yang terkenal) buka, tapi biasanya di minggu-minggu pertama tulipnya tidak berkembang dan berwarna maksimal. Mulai awal april, bunga semakin banyak berkembang dan puncaknya saat cuaca menghangat. Jadi saat kami berdua melihat weather forecast akan menghangat, Damar punya ide untuk bersepeda ke padang tulip. Kebetulan akhir pekan itu adalah akan menjadi akhir pekan kami sebelum Damar business trip selama 3 bulan.

Pertengahan April adalah waktu yang pas untuk jalan-jalan melihat bunga tulip. Ada dua macam cara untuk menikmati keindahan tulip, melalui Keukenhof atau mengunjungi langsung padang tulip yang dikelola langsung oleh petaninya. Kalau menurut saya Keukenhof memang worth untuk dikunjungi paling tidak sekali. Tapi padang tulip lebih memorable dan menarik untuk saya, dan kali ini saya memutuskan untuk sekali lagi berjalan kesana.

Keukenhof (+): 

  • Ramai
  • Tiketnya sekitar 17 euro
  • Terstruktur
  • Moda transportasi yang sudah dibuat untuk ke taman ini
  • Setiap tahunnya, Keukenhof memiliki tema-tema yang berbeda
  • It is beyond tulip. Banyak bunga-bunga lainnya dan bermacam varian.

Padang tulip petani (+)

  • GRATIS
  • Bebas
  • Banyak sekali spotnya dan bisa berpindah-pindah
  • Cenderung lebih sepi
  • Bagus untuk foto karena hamparan yang luas, hampir seperti ada di lautan Tulip
  • Bisa menikmatinya dengan bersepeda dan melihat alam sekitar
Europe Hidup di Belanda Netherlands

Honeymoon di Belanda saat musim dingin

3rd April 2017 - 11 min read

Jadi beberapa minggu yang lalu, saya dapet pertanyaan dari temen SMA saya soal bulan madu di Belanda. Dia tiba-tiba berkirim kabar sekalian tanya-tanya gimana tinggal di Belanda, yang akhirnya berkelanjutan dengan obrolan soal liburan di Belanda. Usut punya usut ternyata si temen saya ini sedang merencanakan pernikahannya dan dia bersama pasangan berencana untuk jalan-jalan ke Belanda selepas menikah nanti. Mudah-mudahan selalu dikasih lancar! Soal bulan madu di Belanda sendiri, sebenernya kalau dipikir-pikir, saya juga nggak terlalu pengalaman. Karena kan saya di Belanda judulnya bermukim, jadi nggak pernah kepikiran untuk plesir di negara sendiri dengan tujuan ‘bulan madu’. Walaupun begitu, sebenernya memang banyak sih tempat-tempat seru yang akan memorable untuk dihabiskan bersama sebagai pasangan baru.

IMG_3146

Bicara soal bulan madu, Eropa memang menjadi salah satu destinasi utama wisata bulan madu terutama belakangan ini. Karena Belanda selalu menjadi tempat singgah pesawat sebelum lanjut ke destinasi yang sebenarnya, akhirnya Belanda pun juga menjadi tempat transit. Dan nggak jarang para pelancong akhirnya memutuskan untuk tinggal lebih lama di Belanda daripada di negara-negara lainnya. Sebenernya yang namanya bepergian atau jalan-jalan pastinya sudah direncanakan dan dihitung budget-nya. Sesuai dengan gaya saya, masukan-masukan saya di blog ini lebih ke arah bulan madu yang reasonable dan affordable, bukan yang mewah. Apalagi saya ngerti banget, pengalaman, setelah menikah kan prihatin dulu karena biaya pernikahan yang nggak sedikit 😉 Toh juga gimana pun, dimana pun, akan selalu seru, karena yang terpenting bukan tempat tujuanya, tapi state of mindnya. Bahwa perjalanan dan pengalaman berdua lebih penting dari kelancaran jalan-jalannya. Karena justru  disitu pengenalan karakter yang sebenarnya akan kelihatan. Anyway.. sorry for the ramble 😉 Let’s start making plan for your honeymoon in the Netherlands. 

IMG_3074

  1. Akomodasi

Menurut saya, nggak ada yang bisa mengalahkan nyaman-nya airbnb. Ini linknya.. Buat yang belum kenal airbnb, airbnb adalah servis online yang memungkinkan orang untuk menyewa penginapan jangka pendek bahkan juga terkadang jangka panjang seperti beberapa bulan. Bedanya dengan hotel adalah kebanyakan dari properti-properti ini dimiliki oleh individual, jadi memungkinan penyewa untuk menyewa satu rumah beserta isinya. Yang bikin saya suka adalah kenyamanan dan rasa seperti rumah.. Saat cari rumah, pilih filter yang ‘entire house’, juga lebih nyaman untuk kalian pasangan baru… Untuk area tinggal di Amsterdam, coba cari di daerah sekitar ring, jadi nggak terlalu jauh dari tengah kota dan bisa jalan kaki ke tempat-tempat pentingnya. Lebih bagus lagi kalau bisa sewa di dekat kanal, sudah pasti lebih mahal tapi kalau ada budget lebih kenapa nggak. Secara umum, price range disekitar 60-100 euro.. Ya, Amsterdam memang relatif lebih mahal dibanding kota-kota lain, atau bahkan negara-negara lain di Eropa Barat.

Kalau kalian lebih nyaman tinggal di hotel karena selalu bersih, siap dan nggak pengen ngerasa seperti dirumah bisa cek beberapa opsi hotel-hotel romantis disini.

Menginap dan bulan madu di Amsterdam, Belanda

Foto dari Wegenforum

     2. Aktivitas

Di musim dingin, cuaca biasanya bisa mencapai minus terutama di bulan Januari-Februari. Jadi aktivitas pun baiknya kombinasi antara outdoor dan indoor, tapi lebih baik banyak di indoor 😛

  • Museum: Untuk kalian pecinta museum, Amsterdam adalah surganya. Utamanya museum seni dan sejarah. Ada sebuah square terkenal di Belanda yang namanya museumplein (yang artinya museum square) karena alun-alun itu dikelilingi oleh bermacam-macam museum yang berbeda. Dari sang legenda Van Gogh, Stedelijk Museum (Modern and Contemporary art), Rijksmuseum (yang guedenya ya ampun, you name it, it’s in Rijksmuseum), MOCO (Modern Contemporary). Dan juga pastinya ada tulisan I AMSTERDAM yang gede banget itu disana. Jadi sekali dayung beberapa pulau terlampaui. Di daerah situ ada Amsterdam concertgebouw (concert building). Menurut Wikipedia, karena kekerenan akustiknya concertgebouw adalah satu concert hall yang palng bagus, setara dengan Boston dan Vienna. Di hari Rabu siang jam 12.30, ada konser gratis di hall-nya yang kecil. Please please make your time to visit if you have a thing for music. 
    Ada museum gratis di daerah North yang worth banget visiting. Kenapa? selain karena gratis tapi juga karena isi-nya yang edukatif dengan instalasi interaktif, seru dan nggak membosankan soal sejarah film. Tempat ini namanya Ij museum. Aku suka bawa tamu atau temen yang lagi main ke Belanda kesitu karena dapat kesempatan untuk menyebrangi sungai dengan Boat fasilitas stasiun (gratis!). Juga karena gedung dari museumnya cantik, kalian bisa makan siang dan menunggu matahari terbenam disitu sambil minum kopi.
    Tips: Kalau kalian memang pecinta museum, akan menarik untuk beli I Amsterdam City Card karena jadi banyak akses ke diskon (plus gratis transportasi publik). Juga pastikan kalian punya tiket museumnya in advance. Karena antrinya yang kadang keterlaluan panjangnya.

Kalau kalian ke Amsterdam di akhir Januari atau awal Februari, kalian masih bisa dapat suasana natal di museum plein seperti foto di bawah ini.

 IMG_3154

  • Sepedahan atau duduk-duduk di taman (Vondelpark atau Amsterdamsche Bosch): Gampang sekali untuk nyari penyewaan sepedah di Belanda. Untuk bulan Februari mungkin itungannya masih lumayan dingin, tapi dengan perbekalan dan pakaian yang cukup, kapan lagi dapet pengalaman sepedahan di Belanda. Jarak dari satu tempat ke tempat lain masih sangat terjangkau dengan sepeda. Kamu bisa parkir dan menikmati segarnya taman-taman di kota Amsterdam. Di dalem Vondelpark ada beberapa kafe dan restaurant yang kamu bisa singgahi untuk minum segelas Chocomel (Dutch Hot Chocolate).
  • Volendam: Mungkin kalian pernah beberapa kali melihat orang-orang berfoto dengan pakaian tradisional khas Belanda. Nah Volendam itu tempatnya! Ada studio berjejer-jejer dan bahkan ada artis dan politikus yang fotonya nangkring di depan display. Untuk pasangan baru, foto ini perlu untuk kenang-kenangan. Volendam bisa dijangkau dengan bus dari Amsterdam Centraal Station dengan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Untuk lebih jelas cara untuk kesana dan harga tiketnya cek disini. Dari Volendam nanti bisa naik ke kapal ke Pulau Marken. Pulau kecil cantik yang ada di atas Amsterdam.
  • Jalan-jalan dipinggir kanal: Ini sih hal favoritku dan suami, jalan-jalan.. Bisa siang atau malam, tapi malam lebih seru dan romantis. Jalan-jalan sambil ngobrol soal kehidupan kalian setelah menikah dan rencana-rencana ke depan, atau ngobrol-ngobrol ringan aja soal gimana kesan soal kota Amsterdam. Saat kalian jalan nanti, kalian pasti akan nemu ‘secret hidden gem’, seperti toko-toko atau cafe/restaurant cantik. Saat sudah kedinginan atau kaki sudah capek berjalan, kalian bisa mampir di salah satu Cafe di sekitar situ sekalian makan malam.

WhatsApp Image 2017-04-03 at 22.09.04

  • Free walking tour: Saat saya berlibur, saya merasa lebih bisa menikmati apa yang saya lihat jika saya tahu makna dan sejarahnya. Walking tour ini walaupun gratis, tapi sangat edukatif dan menyenangkan. Tour ini cukup banyak memberi gambaran umum dari segi kota dan landmark yang mungkin kalian sudah lewati tanpa tau seberapa berharganya. Tidak hanya itu, tetapi juga banyak tentang sejarah dan budaya. Kalian juga akan dijelaskan tentang bagaimana orang-orang Belanda hidup mereka. Tour bertemu di alun-alun DAM dan berlangsung sekitar 2-3 jam. Jangan lupa untuk memberi tips ke pemandu ya! Book your spot here.
  • Canal cruise atau dinner di atas kapal: Sejarah Amsterdam sangat erat dengan air. 165 kanal Amsterdam diciptakan selama berabad-abad untuk merangsang perdagangan dan transportasi dan merebut kembali tanah untuk memperluas kota. Mereka terus mendefinisikan lanskap kota dan pada tahun 2010 cincin kanal (canal ring) Amsterdam diakui sebagai situs warisan dunia UNESCO.
    Sebagian besar canal crusie memakan waktu sekitar satu jam, di mana kalian akan dibawa menjelajah Canal Ring UNESCO yang dilindungi Amsterdam dan menemukan banyak fakta menarik tentang kota sepanjang jalan. Selain itu, saat malam hari tiba, dinner di dalam kapal bisa jadi pilihan romantis yang akan selalu kalian ingat.Bisa cek disini atau disini.
  • Zaanseschan: Saya selalu merekomendasikan tempat ini kepada siapa pun yang minta saran liburan di Belanda / Amsterdam. Tempat ini sedikit di luar Amsterdam, di kota Zaandam. Pada dasarnya kalian dapat mencakup semua apa yang perlu dilihat di Belanda, dari kincir angin, pabrik keju, Albert Heijn yang pertama (supermarket khas Belanda), pabrik klompen, pancake restoran, dll. Zaanse Schans adalah daerah perumahan dari awal abad ke 18-19. Kalian bisa menyewa kapal kecil atau sepeda untuk merasakan suasa desanya. Nggk ada biaya masuk untuk daerah Zaanseschan sendiri dan beberapa museum, tapi kalian harus membayar untuk memasuki pabrik dan beberapa museum. Bagaimana cara ke sana? Kalian dapat pergi dengan kereta sprinter dengan tujuan Uitgeest dan berhenti di stasiun Zaanse Schaan. Atau pergi ke stasiun Zaandam, menikmati sedikit pemandangan di stasiun Zaandam dan mengambil bus 69. Klik disini info lebih lanjut soal Zaanseschan.

        3. Transportasi

Transportasi di Belanda cukup mudah dimengerti. Beberapa transportasi umum yang biasa digunakan di kota-kota besar, seperti Amsterdam khususnya, adalah tram dan bus. Kamu bisa beli tiket transportasi GVB (info di link ini) atau I AMSTERDAM Card (public transportasi dan free/discounted museum entrance (info di link ini). Dan kalau bingung bisa cek google Maps atau tanya ke orang sekitar. Semuanya bisa bahasa inggris kok.

        4. Pilihan lain selain Amsterdam?

Ada banyak kota-kota cantik di Belanda selain Amsterdam, dan tentunya lebih sepi. Contoh kota lain-lain itu adalah Haarlem, Leiden, Rotterdam, Den Haag, Delft atau Utrecht. Semuanya perjalanan kurang dari 1 jam dengan kereta.

        5. Pilihan lain selain Belanda?

Kalian bisa naik kereta Thalys dari Amsterdam untuk ke Belgia (Brussel dan Antwerp) atau ke Prancis (Paris). Untuk informasi kereta dan tiket, bisa dilihat disini.

Selamat menikmati honeymoon-nya!

Culinary Hidup di Belanda Netherlands

The best ramen in town – SAPPORO SORA AMSTERDAM

13th March 2017 - 3 min read

Ahh rasanya saya harus banget ngebahas ini diblog..

Ramen ini bener-bener enakkk banget! Sebenernya saya belum pernah ke Jepang sih dan nggak paham rasa ramen harusnya gimana, tapi rasa ramen ini parah banget enaknya menurut lidah saya. Temen-temen Asia yang bermukim di Amsterdam semua punya pendapat yang sama soal tempat ini. Orang Jepang dan Korea yang lidahnya memang sudah terbiasa dengan ramen juga bilang ramen ini sangat sangat autentik. Selain itu, harganya juga cocok di kantong.

The best ramen in town Sapporo Sora Amsterdam

Ini dia link-nya, bisa cek menu juga disitu. Kalau bisa,  pilihlah menu in advance, karena pilihannya sangat banyak! Dan pas waktunya ramai banget (lunch dan dinner), orang akan antre dan kalau saya pribadi merasa nggak nyaman ditungguin orang. Jadi dengan memilih  menu sebelumnya akan mempercepat proses makan.

Di menu-nya diceritakan asal usul dari ramen dan Sapporo Ramen. Sapporo ternyata sebuah daerah di Jepang (ibukota dari Hokkaido) yang terkenal dengan ramen miso-nya.

The best ramen in town Sapporo Sora Amsterdam

Halal atau nggak?

Nggak ada sign yang menunjukkan kalau makanan di warung Sapporo Sora ini halal tapi dia menyajikan menu vegetarian juga.

Menu lain?

Ada juga dan semuanya enak. Saya menikmati sekali takoyaki dari warung ini, juga chicken donburi dan gyoza-nya. Super enak! apalagi dengan ditemani segelas teh hijau  asli Jepang.

The best ramen in town Sapporo Sora Amsterdam The best ramen in town Sapporo Sora Amsterdam

Selamat mencoba!!!

Europe Family Life Netherlands

Birthday and 2nd time at Giethoorn – with parents and husband

28th December 2016 - 7 min read

How time flew, just a few years back I visited Giethoorn with good friends that are now back in Indonesia, with my brother who is already back in Indonesia, and I was still in a long distance relationship with my ex, then.

This time, I touched the water of Giethoorn for the second time with my husband and my beloved parents. My parents were visiting me and my sister, while also babysitting my sister’s children during their Hajj time in mid of September. They stayed in the Netherlands for more than a month. I hoped it could re-pay the time we missed to spend together and paying back a little bit for everything that they have sacrificed for me and my siblings. I know that all of those efforts were priceless and could never been re-paid, but I’d do anything to make them happy and to listen to their wishes. Too bad I was not able to take too many days off, but we managed to escape during the weekend or a little bit more. This little trip to North-West of Holland was in the first weekend of their stay. We were afraid of the weather that gone back the days prior our visit, but our worry was proved to be wrong. The weather turned out so great, very beautiful and sunny. It was just us four and actually the very first quality time my parents spent together with their son-in-law. I had to say it went pretty well. There was something magical seeing Damar interacted with my parents. I shall cherish the moment… Hence the bunch of pictures..

Oh and by the way, my birthday was also that week. Damar got me a beatiful mirrorless camera that I fell in love instantly. To be fairly honest, we had this discussion about camera way before my birthday so I am quite aware for his little surprise. He said so I can take better pictures. That just motivated me to start learning about photography. I was born in a family who loves photography, my dad (and brother) used to be a photographer himself.  The camera is Canon EOSM3 with 24.29 Megapixels (as sharp as the reality). Lens 3.10xzoom 18-55mm, shutter is 1/4000-30 seconds and it is quite light as well just 350 gram. I’d ike to say this is mini version of SLR.

So below are my captures with  my new toy, no editing involved (it’s too beautiful as is but also because I took it from my lens, my perspective while considering the amount of light already). Another challenge in the new age for making my life always alive: Photography and Videography.

Cheers to more adventurous life with my forever travel buddy and good moments with loved ones..



img_0100
img_0153 img_0161img_0164img_0139img_0110img_0082 img_0203
img_0177

img_0216
img_0198

 

About the place

Image result for giethoorn map

Giethoorn. It is so peaceful, so different and has such simple beauty that is very gentle. The only transportation back then was through the canal/water hence the boat as the main tourist attraction. For local, this place is not considered as a place to go, and not so many Dutch know that people call this city as ‘the Venice of Netherlands’. But believe it or not, because I reckoned, a partnership of a Holland trip agency, there a lot of Asian especially Chinese tourist in the city which allows you reading chinese/mandarin menu in the restaurant ad store.

I went from Amsterdam by car and it took around 2 hours via the highway. According to Damar, it is quite convenient driving city to city by car because of the accessibility of high way and lower cost, only we did not contribute to the emission decreasing. Train goes to this city as well. You have to stop in Almere and then Steedwijk and transfer to Bus 70 to the city of Giethoorn. Because of its size, the last public transportation is quite early as well. You have to assure you leave the city no more than 7 pm especially in the winter.

It is worth visiting but it is not necessary to take more than 1 day in this city and you don’t have to stay over in the hotel locally.

Cost

Return ticket Ams-Giethoorn = € 49.17

Boat = € 17.00

Haring = € 3.00

Kibbeling (fried fish) = € 5.00

HAPPY BIRTHDAY, ME!

Dreams Europe Hidup di Belanda Netherlands

Skydiving in Texel Netherlands

14th August 2016 - 14 min read

The day had finally come!! Skydiving has always been in my bucket list for so long and this year I promised myself to get it over with!

It surely is a scary thing, yet exciting just come to think about it. Damar and I were already dating when I saw this discount offer in Groupon.nl. I had been eyeing Groupon for discount in this particular thing and one day I came across “Paracentrum Texel 100eur korting”. The deal was buying the voucher for 20eur, and we got 100eur discount in the original price. The original price for Experience Package (including documentary) was 344eur. Thus total amount would be 264eur for this whole package.

I proposed this idea to Damar and he immediately agreed. All we needed to do was making the reservation. As much as I was excited, I kept on postponing it until at the moment I realized that I just had got to call, reserve and wait to the day. Honestly, we bought the ticket on March and made the reservation last week LOL. We thought to make the reservation for week after so we did not have to wait that long and did not have time to get nervous. WRONG! I was still nervous!

In fact, I was already nervous on Friday on my way from work to the office, my head was dizzy and my stomach was tickled. It was a mixed feeling between excitement and anxiety, predominantly the anxiety. That Friday night we spent resting and chilling at home, as the next day we had to go to Texel very early in the morning to assure that we would get our initial time slot (09.00-11.30). The next day, of course, we overslept for an hour 😛 but we knew we would still be on time. That’s the perks of giving buffer time!

We woke up at 6.30, got ready, had some leftover Rendang fried rice from last night and left the house at 7.10 to catch the bus at 7.23. First, going to Zaandam (25 mins), then take the train to Den Helder from Zaandam (60 minutes). Apparently, Damar and I arrived earlier so we had times to buy ourselves lunch and drinks for on the way. As the Texel Airport was in the middle of nowhere, we anticipated that it would be rather difficult to find what we want, even if there is, it would be pricey. We took  bus number 33 and arrived in the harbor. The ferry is called TESO and it had everything inside i.e proper cafeteria and toilet.

The journey took 20 mins, it allowed us to enjoy ourselves in the ferry. That morning was very beautiful and the sky looked blue. Seemed like a good sign! We were hoping that it’d stay that way the whole day..

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.32

This is how the Ferry looks from the inside, quite spacious huh

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.31 (1)

Could be an idea to feed the seagul with some breads, they will come over around you. Look at that blue sky!

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.31

Still fresh and full of energy! Who know what was inside my head.

Once we arrived in Texel harbor, we were already being waited by Texel Hopper bus, the only bus that would take us the the airport. It was 3 euro/person and the reservation needed to be made online at least an hour before the schedule of departure. The list of which can be checked online. It was a mini bus and it could accommodate like only 8-10 people. I started getting anxious and could not stop holding Damar’s hand. Actually a moment before that I realized my gum, where the stitch made after wisdom removal surgery 2 weeks ago, felt weird, apparently it got bigger. But hell, the nerve was dominating my feeling.

We went directly to the reception and told them we made the reservation. Unfortunately there was one thing we did not consider that they might ask for the Groupon voucher. And yes they did. Actually it should have not been a problem but it was because at that very moment, Groupon website decided to be down! The timing could not be more right *eyeroll* I could not connect and find my voucher anywhere in my mail. We struggled for one hour, called people at home, until Damar’s lil bro at home could find the voucher in my laptop somehow. Fuhhhh!

But by the time we were ready, the skydivers were on standby due to the low cloud and we had to wait until 3 pm. We killed the time by having coffee in the Hotel Texel Restaurant next to the airport or what divers call ‘dropzone’. We sipped the drinks, read, moved here, talked superficially, moved there, talk deeply, ate, took a nap, then we got so boreeeeeeeed and needed to move so we went outside.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.30 (1)

Still okay.. Reading is good

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.29

The look of my ‘getting bigger’ cheek. It started getting a bit hurt.

WhatsApp Image 2016-08-17 at 23.33.29 (1)

Coffee and reading. GOOD! for the first 2 hours.

It was such a good idea to (buy) bring some snacks for the wait. At 15.30, the sky looked not so gloomy anymore and the crew started to call out people’s name meaning they started to send skydivers up again. Oh my God, after the rest, my heart was jumping again. The first plane went up and 20 minutes later, we saw black dots came down from the sky, 1,2,3,4,5,6,7,8,9, people with parachute getting closer to the ground and eventually arrived safely. My head was full with excitement!!!

After 5 rounds, they put on standby again as the cloud was not as clear, but forecasted the condition would be better at 18.00. So we waited again. By then, I was laying my back down the bean bag, no energy and plus my gum was painful. I laid down in the big hangar where the divers practiced and folded their used parachute. I was watching them and trying to investigate what they did 😛 One thing I learnt, those people seems very free-spirited and happy. Looks like they enjoyed what they are doing and they get paid for their hobby.

The clock turned to 19.00, Damar came back from checking our name in the board and he said it got closer to our turn. Okay, I was a bit shaky but EXCITED!!!! 5 minutes 10 minutes, I heard my somebody called my anme and asked to put our stuff in the locker. Here it is…. (could not feel the pain of my gum anymore, as my mind was distracted).

We put on our astronaut’s clothes with the gears and was explained what we could expect up there. We had to wait until the plane picked us up while in the mean time we met our tandem. My tandem was Alexandre, we did not have so much chances to chat. I was so worried because I did not know the guy so well, who knows what could happen righttt?. I think it’s a good thing to get to know your tandem to build the trust. Obviously, I did not get it in the beginning. All I did was surrender.

However at the end, I discovered that he’s nice and quite cynically funny whom the joke I could get. We went on the plane and was videographed the entire time, guessing my fear face could not be covered anymore lol. Damar and I had our own videographer, we were practically followed by them.

On the airplaine, we were instructed by our own tandem what to do. The good thing about doing the jump with tandem is that we do not have to worry about opening the parachute and so on. We are supposed to just relax and enjoy the view. Alexandre started getting ready, he made sure I saw that he hooked the locks which connected both of us. I was apparently the first one that would be jumping. Basically, all I had to do was getting on Alexandre’s lap, leaned on him and when jumping turn my head to the left as well as pulled the legs to the back. Before we noticed, the airplane reached 9000 feet (3 km), the plane door was opened and we had to jump!

WOWWWW.. I still remember the feeling of adrenaline! Alexandre tapped my back twice and it means that it’s the time to spread my wings 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

The feeling up there was incredible, I could not really put it into words. It was very quiet, heart full of gratitude.

The freefall took about half minutes and I posed to the camera trying to make heart shape, but FAILED big time. My weight is too light to force the pressure of the wind lol. It was cold up there, and I could not see anything as we went through the white cloud. 30 seconds later, I could see the lands, and Alexandre opened his parachute. It pulled us up gently and let us hang there for minutes. Worst thing is before landing, he had to make the turn (going round) to stir and avoid all of us arrived in the drop zone at the same time. That made me dizzy badly, I promised I could vomit. So one tip: close your eyes when it happened, it reduced the feeling of vomitting. Anddd we landedd!!!!!

I was so happy! Apparently Damar was already there. Glad to see each other again! We promised to meet again on the ground, and there we were! Alhamdulillahhhh!!!!

It was totally worth the wait!!

So, what to prepare before skydiving? It is no big deal, big deal, but I did some of these before skydiving, and it helped

  • Before scheduling the day, check the weather forecast and how to go there
  • Healthy fitted body! It will certainly be unenjoyable when you are ill, and the pressure might worsen the sickness. (Dont jump with swollen cheek or stitches in your body!)
  • Tell all the family, especially parents. Their motivation and admirance will be very positive to have approaching to the day of skydiving
  • For me, prayer is one of those things that can make me calm, thus do whatever it is that makes your nerve a bit more loosen up, e.g meditation
  • Bring some snacks/food and a bottle of water (that you can refill), drinking water can help to freshen the mind. Also, like in my case, you’ll never know with the cloud condition, all those will be useful when you have to wait for the entire day
  • Documents that you will need for registration in the front desk (in my case, Groupon print out/email)
  • Wear the most comfortable clothes that you own in your wardrobe, wear sneakers that are very tights to avoid it getting lose and fall from the sky
  • Tie up your hair!! It will be very hardly windy up there, and last thing you want to do is to annoy your instructur with your long flying hair
  • Take off whatever is valuable and detachable (I removed my wedding ring for example)
  • Feed your mind with positivity
  • And last but not least, happy mind, face and SMILEEEE! After all, you will be able to scratch off your bucket list! For me, that is very motivating

 

 

 

IMG_9901

IMG_9904

IMG_9905

IMG_9906IMG_9909 IMG_9912 IMG_9917

DSC07829

DSC07839
IMG_9942 IMG_9945    DSC07878

 

Europe Hidup di Belanda Life Netherlands

Life in Amsterdam

7th August 2016 - 10 min read

Ever since I moved my luggage of life to the Netherlands in 2009, I had always been living in The Hague, the third biggest city in the Netherlands. It truly witnessed my struggle during college life. I adapted-adopted with things about being ‘Dutch’ since day one in that friendly city. I call it friendly because it had everything I could ever asked for as an Indonesia foreigner. As pathetic as it sounds, I still wanted to have a piece of Indonesia in where I live, and The Hague has the largest population of Indonesian (mixed blood, half blood, veteran, pure, etc). No wonder, it is practically very easy to find things that can eliminate longing feeling of my beloved home country, such as food, spices, cultures, as well as the people. In every meter I walked, I could find one or 2 Indonesians, to be roughly calculating. And I found it astonishing.. I felt like I was not alone, even though I clearly did not know all of them. Though, I made friends who then become family, I made a place who then become a home (one, two, three, four moving around, with and without my sister). I made myself an independent young woman in this very city, I watched myself grew from a spoiled little girl to be a responsible adult woman. This city was also a place that beheld the sparks between Damar and I…. whom at the end I ended up marrying to and whom the reason I had to move from this old city…..

Never had I thought, I would move to the only city I never wanted to live in, the city of tourists, Amsterdam. By only being a guest for a couple of times, I concluded that I would never live there. Oh well, I jinxed it. I started daily working and commuting The Hague-Amsterdam from 2014, hence the intensity spend in the city. I started falling in love with its beauty; the flow of its canals, its modern people, it’s old yet modern architecture, its expats life, its culinary, its parks, its easiness to access whatever. Most importantly, it allows people to have the balance life, where people could have fun and relax at the same time. Oh yes, and ultimately the fact that it is a shorter distance to work. 

Well, here I am… since I got back from Indonesia after the wedding, I moved and started living together with Damar. He has been living here from 2012. We are living in the North of Amsterdam which is likely underrated even by myself, earlier. But actually, it has a big potential, and it is exactly when I describe ‘have fun and relax at the same time’ because the neighbourhood is calm but it is still Amsterdam and I can get to the city to find madness if I’d like.

I wanted to share a sample day living in this beautiful city…

Yesterday was marked as the Gay Pride Festival. The city was all of the sudden fully packed with tourists, local people, and people from throughout the Netherlands to celebrate the freedom of choosing gender preference. Damar and I did not really want to be part of the crowd, but already planned to go the city with our bikes (YES I GOT A BIKE, TRYING TO BE A PROPER AMSTERDAMER! :P) to get ourselves to a glasses showroom of a brand called polette.nl. I am in the need of a new pair of glasses as I am getting blinder and blinder everyday. This is again what I like about Amsterdam, this kind of hippie brand, you will not find in any other cities. Amsterdam is always the first place to open something cool haha. I heard about the brand from my colleague, she said it’s very affordable with a high range of trendy, classy, cool options. I thought we could buy it right away in the store but apparently, I could only check my eyes (for free! and according to the shopkeeper the machine is one of the most expensive and accurate). I ended up finding out that my eyes are sooooo bad. Anyway, the concept of the store is to only try on and fit the glasses, to be subsequently order online. Not a problem at all! I found the winner!

polette-indonesian-amsterdam-dutch-holland-xxx

With my so not amused husband :p

We cycled through Amsterdam North, getting ourselves to the Ferry (because the connecting tunnel between the central and North is closed due to maintenance). FYI, Amsterdam North is a separate island, hence the need of connection/water transportation, and hence the underrate (haha). It was a hot sunny beautiful day, everybody was just simply smiling and happy. I almost forgot why it was more crowded than usual until I saw the rainbow flags fluttered in every corners. Here we go again, the sign of freedom 🙂 I am constantly reminded of differences between people, than we have to stay open-minded and being non-judgmental. Every body really have their own stories and people here just simply mind their own business. Let’s say, it is easy to have a true colour here, to differentiate between you and other people. 

Bicycle is the first transportation in Amsterdam, just because Amsterdam is not big, and people like to save their money. Actually it was trended because at one point, the Netherlands were full of traffic jam and the government promoted the use of bike. Anyway, it has become part of the culture for so long, and as the infrastructures support bikers, every body just gotta own it. We went through the small streets, seeing little houses and bars, and the crowd of gay pride. We stopped at a traditional market in the Old West of Amsterdam to buy some fruits. Note: if you want to buy fruit in Holland or in this case Amsterdam, buy it in the traditional market, sooo much cheaper and fresher. What I like about being in the traditional market was not only because of the price, but also the whole experiences, the life that comes with it. I liked seeing the vendors who were shouting loudly about the price their offer competing with the other vendors next to them, seeing the different people walking through the market alleys for the sake of walking, window shopping or groceries (dutch word: ‘bodschappendoen’). We ended up buying 3 different kind of fruits in a big bowl; blueberries, strawberries, and nectarines. Those are my favourite fruits that are now currently the season. We only paid less than 5 euros!!!! In Albert Heijn or Jumbo (the name of popular supermarkets), it would be like 8 euros I guess.

indonesian-amsterdam-cycleindonesian-woman-flower-dutch-holland-amsterdam woman-indonesian-fashion-amsterdam-holland-1 woman-indonesian-fashion-amsterdam-holland-2 woman-indonesian-fashion-amsterdam-holland

After fruits (and flowers) shopping (and strike posing), we cycled back to the city towards the crowd and found a very very very nice organic salad bars (again: only in Amsterdam, this kind of lots of place options are possible :)). The place is called SLA (in English, it means ‘lettuce or salad’). We fuelled ourselves there with a powerful meal! It was super good.

 

life-in-amsterdam-healthy-salad-life-woman-indonesian-2 life-in-amsterdam-healthy-salad-life-woman-indonesian-3 life-in-amsterdam-healthy-salad-life-woman-indonesian

 

There goes our Saturday and we will keep on exploring the nice new places every time we could… Seems like, the size of the city does not define the richness inside it 🙂

I am glad I have got the chance to move to Amsterdam and live as an Amsterdamer.

 

XXX

Europe Hidup di Belanda Love life Netherlands

Marriage life

5th August 2016 - 5 min read

Most people ask about how does it feel to be married. It just sounds to me like a very excessive step to do in life by how people perceive and by the kind of inquiries asked in regards of handling marriage. I was worried in the beginning as when people ask the very first question after getting married, I thought there was something wrong with my answer that was always as flat as a pancake. My answer was around ‘it’s okay, it’s good, it’s  nice‘. I mean, don’t get me wrong, I still consider getting hitched, especially with Damar, as the best decision I have ever made by far. But, seems like the word ‘marry‘ is by nature a burden for a lot of people. And to be honest, I don’t think it should be seen that way. No doubt that getting married meaning you will spend the rest of your life with this one (supposedly special) person, but the process of selection has passed, decision is made, so being married is about walking the dreams, giving effort in loving each other, being our true self with at the same time, respecting one another. I don’t think getting married should stop doing what you like or start doing something you don’t like, unless we are willing to do it , noted: not only for our spouse but for ourselves. Nothing should be a strain when we do it sincerely with the aim of making the marriage work, again, not for anybody but yourself. Hence, I do not sense any force to abandon something.

It should be each other’s responsibility to put efforts in the process of understanding and actually, I do think discovering something new in the blastoff married phase is very much intriguing. As intriguing as finding out Damar does not like to close something he opens (drawer, tooth paste tube, etc) *eyeroll*. But I told him my dislike for the habit, and he has tried to correct it, no nagging involved! Because I trust him that he is trying. It is absolutely something that needs to be cherished, as the moment of such kind will not necessarily re-occur in the future.

Ok, so I think I know what to answer for the next person who asks me how does it feel to get married, “nothing much change, only everything becomes nicer. Feels good to know I have someone worth going home to” .  And plus, I wake up in every morning willing to be a better person, for me, for Damar, for us.

 

WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.22.10 WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.22.08 (1)WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.22.08 WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.21.40 WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.21.32WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.21.39

 

*the above post-wedding pictures were taken during our first Ramadhan together (June, 2016). Our goal is to take capture good moments of two of use and dismiss the opinion that ‘pre-wedding’ picture should only be taken prior to the wedding.

Europe Family Hidup di Belanda Life Milestone Netherlands

Idul Fitri 1437 – Lebaran di Belanda

18th July 2016 - 3 min read

Alhamdulillahhh akhirnya melewati hari kemenangan juga. Puasa selama 1 bulan penuh terbayar dengan makanan yang berlimpah di hari raya 😀

Damar, saya, dan mas Argo (kakak Damar) memang sengaja ngambil cuti tanggal 6 Juli kemarin karena kami pengen merayakan hari Idul Fitri dengan proper. Apalagi kan tahun ini adalah lebaran pertama sebagai istri, jadi pengen banget masak masakan Lebaran yang serius. Dan tahun ini ceritanya mau bikin menu Lebaran yang beda, karena keluarga suami yang berdarah Medan. Menu yang biasanya lontong opor, berubah jadi lontong gule nangka dan rendang. Untuuuuunggg banget mamanya Damar super baik bawan bumbu gilingan gule dan rendang, jadi gak perlu terlalu repot bikin semua dari scratch. Dan pastinya terbebas dari potential error hhaha. Jadi cuma tinggal nambah-nambahin sedikit spices dan santan, bikin lontong, bikin sambal balado, dan nggak ketinggalan opor (pengen banget!).

“Lebaran sebagai minoritas hanya bisa dirasakan lewat suasana yang diciptakan sendiri”

Jadi di hari H-nya, kami bangun pagi-pagi, sarapan, pake baju muslim yang akhirnya sukses bikin orang-orang dijalan ngeliatin kami haha padahal belum lengkap sama jilbab dan kopyah lho. Sepi banget rasanya hari itu, nggak ada kumandang takbir atau apapun, sama sekali nggak kerasa suasana lebarannya. Tapi ini lebaran ke-7 saya di Belanda, jadi sudah lumrah. Kami pergi ke masjid komunitas indonesia di Amsterdam yang namanya Al Ikhlas. Sholat ied disini dimulai jam 09.00 pagi. Setelah selesai, kami dibagikan goreng-gorengan dan lontong opor. Alhamdulillah rejekiii! selama ini saya selalu sholat ied di Den Haag dan setelah sholat nggak ada dibagikan lontong opor karena pukul 13.00 ada makan siang dengan sajian lengkap menu lebaran di wisma duta (rumah duta besar).

Hari itu penuh dengan makan, makan, dan makan. Makanan yang full dengan santan *elus-elus perut* dan akhirnya bisa menikmati kue kering yang sengaja disiapkan jauh-jauh hari hihi. Sorenya saya beli kue spekkoek di toko Oriental untuk dibawa ke kantor, ceritanya berbagi dan merayakan idul fitri bersama-sama, supaya mereka aware soal kultur islam yang suka bersyukur dengan cara berbagi. Besoknya orang-orang senang sekaliiii dibawakan kue indonesia, dan banyak yang mengucapkan selamat idul fitri ke saya. Indahnyaaaa!!

Foto-foto di bawah ini adalah foto-foto yang diambil di akhir pekan, saat kami berkumpul di rumah kerabat dan akhirnya bertemu dengan mbak Vicka (kakak perempuan saya) sekeluarga. Suddenly feeling like home. Itu ada foto saya sedang skype dengan bapak mama di rumah 🙂

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum – Taqabal ya Kareem

Europe Netherlands

Jalan-jalan ke Pasar Natal di Valkenburg, Limburg

27th December 2015 - 5 min read

Valkenburg is a Christmas town in the Netherlands. In 2014 the event attracted, welcomed by the US television network CNN was placed on a list of “twelve best places to spend Christmas” more than a million visitors (source: Wikipedia).

Akhir tahun nggak harus kok jalan-jalan ke luar negeri (sebenernya alesannya karena budget constrain sih haha). Jalan-jalan mengeksplor Belanda juga nggak kalah serunya, karena sebenernya banyak tempat yang masih belum dikunjugi. Kebetulan di selatan Belanda, perayaan natalnya relatif meriah mengingat mayoritas penduduk mereka masih memeluk agama Kristen secara kuat. Daerah Limburg seperti Maastricht dan Valkenburg, termasuk tujuan utama turis lokal maupun asing untuk merasakan suasana natal. Kerstmarkt (Pasar Natal) di Maastricht adalah pasar natal yang paling ok di Belanda, sedangkan di Valkenburg adalah yang paling unik karena pasarnya ada di dalam Goa. Kerstmarkt itu sebenarnya adalah origin Jerman dan memang pasar Natal di Jerman sangat besar, marak dan banyak makanan enak-enak, seperti wafel, churros, roti-roti, cokelat. Tapi sekali lagi, karena budget constrain, akhirnya aku memutuskan untuk menetap di Belanda aja dan menjelajah apa yang ada. Pilihanku jatuh ke Valkenburg, karena keunikan pasar natal di dalam goanya. Dan memang Valkenburg itu benar-benar kota natal, terbukti dari rute natal yang disiapkan oleh pemerintahnya. Rute natal itu sebagai berikut, fyi Valkenburg itu kota kecil bangettttt, jadi kemana-mana bisa jalan kaki…

Cable car

Ini tujuan pertama kita karena kita sampai pukul 15.30 dan cable car ini tutup pukul 17.00. Letaknya di Wilhelmina tower. Ini salah satu hal yang bikin aku excited haha terakhir aku naik cable car itu di jakarta kayanya, di Dufan dan itupun aku minta turun cepet-cepet. Takut! Aku sekarang berani bukan karena ketakutanku hilang, tapi karena ketakutanku bisa dimanage 😛 Cable car ini untuk naik ke tower di atas. Disini ada magic sand dan slide ride. Aku ga masuk ke magic sand tapi ikut naik slide ride, seru banget.

IMG_3505 IMG_3517IMG_3526IMG_4046

 

Christmas Gemeentegrot

Ini nama dari pasar natal di bawah gua yang paling terkenal dan besar di Valkenburg. Guaini dijadikan pasar semenjak kira-kira tahun 80an. Sayang sekali, waktu kita kesana kemarin pasarnya sudah tutup. Sedih.. Tapi kira-kira bisa kebayang kaya gimana, di dalem. Kita jadinya cuma foto diluar dan kita ke Pasar Natal yang outdoor.

IMG_4091

Makan di A en B Thai Restaurant

Enak bangetttt. Sangat autentik..

IMG_3533

Christmas Parade
Parade Natal ini sebenernya 2 kali seminggu (Rabu dan Sabtu) dan terjadi di hari kita mengunjungi Valkenburg. Tapi pukul 19.30, takut kemalaman, jadi setelah dinner kita bergegas pulang. Tapi kita tetep melewati rute natal dan mampir ke pasar natal yang diluar.

IMG_3527 IMG_3536

IMG_3534

Santa’s Village

Foto di bawah ini adalah foto pintu masuk Santa’s village dimana Pasar natal outdoor bertempat.


IMG_4148

 

In a nutshell, I loveeee Valkenburg. It’s perfect for a day trip. I felt like I was out of country for a bit, karena bangunan yang berbeda, lampu-lampu, juga letak kotanya yang jauh (3 jam dari Den Haag) dan mepet sama border ke Jerman. Not too shabby at all! It’s my kind of city, petite and quite….

Europe Hidup di Belanda Life Netherlands Thoughts

Dutch – Indo Cross Culture

21st December 2015 - 10 min read

Setelah resmi keluar dari pekerjaan, aku punya waktu 2 minggu untuk berlibur sebelum mulai bekerja di TOMS. Aku memutuskan untuk nggak berlibur ke luar negeri, mengingat bulan Februari aku berencana untuk berlibur musim dingin untuk mencari Aurora di Islandia, jadi sekarang waktunya untuk menabung karena katanya Islandia itu mahal banget. Dan juga, di pekerjaan  baruku, bulan Januari nanti, ada beberapah hal yang aku harus pelajari untuk menunjukan performa maksimal hihi maklum anak baru. Selain itu juga, aku sedang dalam proses mendapatkan permanen residen di Belanda. Dan step yang harus aku ambil adalah mengambil tes Inburgeren (Bahasa Belanda). Tesku dijadualkan tanggal 8 Januari, jadilah aku harus mempersiapkan tes yang jumlahnya 6 itu.

Jadi ceritanya kemarin aku lagi latihan di website inburgeren.nl. Dan banyak menemukan pertanyaan tentang perbedaan kultur Belanda dan negara asalku. Asik juga kayanya nulis diblog tentang ini.. Terutama buat orang-orang yang berencana tinggal sementara, sekolah atau menetap lama di Belanda. Ini bisa jadi persiapan dan antisipasi untuk cross cultural barrier.

Jadi menurut kesimpulan aku yang sudah beberapa tahun tinggal di Belanda, berikut adalah perbedaan paling menonjol dari kultur budaya Indonesia dan Belanda:

1. Belanda itu tepat waktu. Indonesia suka telat

Indonesia terbiasa dengan orang-orang yang nggak menjaga janjinya. Telat itu adalah sesuatu yang lumrah. Saat sesuatu dianggap normal, maka pada saat itulah perkembangan kultur baru akan melejit. Semua orang akan berpikir, kalau semua telat, kenapa kita harus ontime? Orang jadi meremehkan arti waktu dan jadi memiliki asumsi tertentu kalau acaranya pasti telat, pasti molor dsb. Aku pun juga begitu, karena kalau semua orang terlambat, acaranya pasti molor, dan kalau kita nggak ikut acara sampai selesai, kitu juga ikut rugi. Serba salah yah.. Yang jelas kalau disini, orang sangat menghargai waktu dan semua terencana dengan baik. Aku tidak menyalahkan, mungkin banyak faktor eksternal di Indonesia yang membuat terlambat, seperti macet atau tidak adanya jadwal transportasi publik yang jelas, jadi pada akhirnya semua orang menghadapi masalah yang sama. Sedangkan disini, semuanya tersedia online dan memungkinkan untuk merencakan perjalanan. Mungkin saat Indonesia sudah memiliki ini semua, mentalitas soal waktu juga bisa ikut dibenahi. Mudah2an… Tapi tetep, menurut aku telat itu adalah pilihan, bukan alasan.

2. Belanda itu direct. Indonesia suka ngalor ngidul dan pemalu

Dulu saat pertama kali aku sampai di Belanda, teman satu grup pernah konfrontasi soal kecewanya dia saat aku nggak membela dia di suatu grup diskusi. Saat itu kelihatan dari mimik mukanya kalau dia marah banget. Tapi setelah itu dia baik lagi, mengajak makan bersama di kantin. Aku kaget karena nggak biasa menerima konfrontasi langsung. Bingung harus ngapain. Tapi karena dia santai, aku pun juga santai. Di Belanda, orang akan menyatakan maksudnya pada saat itu juga. Iya iya, enggak enggak. Kalau nggak suka mereka akan bilang, begitupun sebaliknya. Tapi yang aku suka dari mereka, direct-nya mereka nggak menyebabkan fraksi di hubungan profesional atau pertemanan. Nggak ada yang taken personally.. Positifnya dari kebiasaan ini adalah, aku jadi tau secara jelas maunya apa dan harus ekspektasi seperti apa. Juga, aku jadi nggak usah bingung dengan hipokrasi, karena saat mereka bilang A, maksud mereka adalah A, bukan ABCDE…. Saat mereka bilang mau membantu, mereka akan mengerahkan segenap jiwanya untuk membantu. Bukan menawar-nawari dengan setengah hati berharap tawaran bantuannya ditolak, hanya karena menawari adalah hal yang benar haha pengalaman pribadi.

 3. Di Belanda, semua orang punya hak dan diperlakukan dengan sama. Di Indonesia, tergantung bawaannya apa

Mau kamu naik mobil, naik sepeda, naik angkot, dll, semua akan diperlakukan sama. Nggak banyak yang namanya kesenjangan sosial disini. Jadi jarang tuh ada orang pamer setelah dia beli tas Hermes atau mobil Lamborghini. Kalaupun mereka punya, mereka akan biasa saja, karena pertemanan atau pemberian servis di toko atau mall tidak didasari dari bagaimana orang berpenampilan dan dari status seseorang tersebut.

4. Di Belanda, cara hidup mereka sangat individual. Di Indonesia, sangat berbasis kekeluargaan dan gotong royong

Orang Asia khususnya indonesia, suka banget sama yang namanya kumpul-kumpul, arisan, makan-makan. Saat kamu tinggal di suatu perumahan di Indonesia, kamu akan mengenal tetangga sekitarmu dan mereka akan dengan senang hati menerima kamu. Itu adalah salah satunya pilihan yang bisa dilakukan dan juga the right thing to do. Di Belanda, mereka punya pilihan untuk terbuka atau tidak. Di Indonesia, saat terjadi sesuatu dengan kita, kita merasa tenang karena orang-orang disekiling sangat ramah dan mengenal kita. Sedangkan di Belanda, orang-orangnya cenderung tertutup dan hanya akan terbuka dengan teman yang sudah dikenalnya lama. Disini kita harus sedikit berhati-hati, karena orang Indonesia cenderung banyak omong dan juga suka berkomentar. Orang-orang bule tidak terlalu mengapresiasi hal ini, apalagi kalau belum dekat.

5. Di Belanda orang-orangnya perhitungan. Di Indonesia sangat royal.

Orang Indonesia menganut faham banyak memberi banyak rejeki. Hal ini juga diajarkan di agama. Sedangkan di Belanda, planning adalah everything, mereka tidak biasa mengeluarkan sesuatu yang tidak terplanning atau untuk sesuatu yang hukumnya nggak wajib. Saat kamu diundang oleh orang Belanda di suatu acara, jangan lupa makan dulu dari rumah, karena mereka biasanya tidak menjamu tamunya dengan makanan. Hanya minuman dan snack ringan. Ada cerita lucu dari kakakku yang diundang ke pernikahan temannya orang Belanda. Untuk kita, pernikahan adalah ajang makan makanan-makanan enak dan gratis. Jadilah, dia berangkat dengan perut kosong. Eh ternyata, di acara pernikahan itu tidak sedikitpun makanan disuguhkan. Hanya minuman keras, soft drink air putih, juga cheese dan olive. HAHAHAH Dan itu saat musim dingin, jadi dia pulang kedinginan dengan perut kosong. Akhirnya besoknya dia masuk angin.

6. Di Belanda, acara ulang tahun, adalah acara untuk menyelamati semua orang dan duduk melingkar. Di Indonesia, acara ulang tahun adalah untuk menjamu tamu undangan 

Saat diundang di acara ulang tahun orang Belanda di rumah, kamu harus masuk dan menyelamati semua orang yang ada di rumah itu dengan ucapan ‘gefeliciteerd’.  Ini adalah tradisi Belanda. Di dalam rumah akan tersedia kursi-kursi melingkar, minuman, dan juga kacang atau chips. Setelah itu disambut dengan obrolan-obrolan, kemudian pamit pulang. Bosen yah? Sedangkan di Indonesia sebaliknya banget. Ah yaaa, dan di Indonesia saat kamu mengundang orang ke acara ulang tahunmu di luar rumah, maka yang bertanggung jawab membayar adalah orang yang mengundang. Di Belanda, orang yang mengundang atau ulang tahun-lah yang harusnya ditraktir. Lucu ya…

7. Di Belanda, kamu bisa berteman dan hang out bareng dengan bos. Bisa ngomong apa aja ke dia. Di Indonesia boro-boro…

Di Belanda, kamu bisa panggil guru atau bos kamu dengan nama depan mereka. Berpengalaman kerja di Belanda, membuat aku jadi mengerti bahwa hierarki itu hanya struktur organisasi yang nggak membuat kita nggak bisa berteman dengan bos kita. Mereka bukan orang yang suka dipuja-puja, hal yang berkebalikan sekali di Indonesia.

8. Planning is everything, agenda di tangan. Indonesia angin-anginan

Semua orang disini punya agenda di tangan. Jaman sekarang sudah pake ponsel yaaa, jadi nggak perlu buku lagi. Orang Belanda sangat menghargai waktu, jadi mereka membuat rencana hari-harinya dengan baik. Itulah mengapa mereka selalu menepati janji, karena waktu mereka terencana dan dibukukan. Jadi saat mereka membuat janji dengan seseorang, mereka akan cross check dulu dengan agendanya dan tidak ada yang namanya membatalkan di hari yang sama atau 1 jam sebelum ketemu. Jangan kaget kalau buat janji dengan orang Belanda, biasanya mereka sudah memiliki jadwal sebulan atau dua bulan ke depan. Dari sisi ini, aku suka banget, karena aku dasarnya emang perencana, jadi hal ini aku adopsi dengan cukup baik.

9. Di Belanda gift giving bisa menciptakan ketidaknyamanan, di Indonesia gift giving sangat lumrah

Ini terkait lagi dengan orang-orang Indonesia yang suka memberi dan loyal. Dengan atau tanpa tendensi, orang Indonesia suka sekali memberi dan membuat orang lain senang. Seperti contohnya oleh-oleh souvenir yang harus dibawa saat pergi jalan-jalan. Seperti mamaku, semua orang di kompleks harus dapet. Satu sisi, memberi adalah habit yang baik selama itu tidak merepotkanmu sendiri. Lain halnya dengan orang Belanda, aku pernah cuma ngasih teh 1 kotak ke salah satu kolega karena aku tau teh itu baik buat dia yang susah tidur. Dengan sopan dia bilang, terima kasih sekali tapi lain kali jangan membelikan dia apa-apa, karena itu membuat dia nggak nyaman.  Uhmm okayyyy.. Orang Belanda akan merasa harus membalas budi jika menerima sesuatu dari orang lain tanpa occasion tertentu (ulang tahun, dll)

Seru banget sih punya pengalaman hidup di 2 negara yang bertolak belakang tapi juga punya banyak keterkaitan. Pikiran aku jadi lebih terbuka dan nggak gampang menghakimi. Dunia ituu kaya bangettt.. Akan sangat baik, jika kita bisa eksplor dan meninggalkan hati di beberapa tempatnya.