Browsing Category

Zero Waste Journey

Hidup di Belanda Zero Waste Journey

#WORLDCLEANUPDAY2018 AMSTERDAM

16th September 2018 - 8 min read

15 September kemarin adalah #worldcleanupday around the world. One day. One planet. One goal.

Berjuta-juta orang dari 150 negara di dunia bersatu untuk membersihkan dunia kita dari sampah-sampah yang dibuang sembarangan atau sampah-sampah yang somehow berakhir disitu dari tempat pembuangan akhir. Gila sih ternyata ada lebih dari 13 jt orang di seluruh dunia yang join (hasil akhir perhitungan participants belum keluar) dan ngerasa bangga (padahal kerjanya juga ga gitu-gitu amat) bisa menjadi bagian dari 13 juta itu. Dan itu hanya 5% dari populasi di seluruh dunia, tapi sebenernya signifikan banget message-nya.

Keindahannya ada di kolaborasi orang-orang ini. Bayangin komunitas yang berbeda, background yang berbeda, semua lapisan dari masyarkat dari warga biasa, pemerintah, pejabat, dan lain-lain. We all care with this our one and only planet. Remember, THERE’S NO PLANET B!

Menurut website mereka, gerakan ini lahir 10 tahun yang lalu di Estonia, ketika 4% dari populasi Estonian keluar untuk membersihkan seluruh negara sampah yang dibuang secara nggak bener, dalam hitungan jam. Ini mendapat banyak perhatian dari orang-orang di seluruh dunia, yang akhirnya terinspirasi untuk mengikutinya dengan misi ‘one world one day’.

Nah saya kebetulan berpartisipasi di salah satu tempat yang ada di Amsterdam. Saya nggak join melalui website official #worldcleanupday tapi melalui https://www.nudge.nl. Untuk yang tinggal di Belanda, Nudge ini meng-connect orang dan organisasi untuk mewujudkan inisiatif yang berkelanjutan. Nudge kali berkolaborasi dengan Plastic Soup Foundation (check out their work here). Jadi organisasi-organisasi atau bisnis di Belanda sign up untuk world clean up day melalui Nudge kemudian Nudge ini membuatkan program dan fasilitas di websitenya untuk memudahkan navigasi. Ada map (peta) untuk memilih acara-acara apa yang ada di sekitar kita. Sayangnya semuanya in dutch, jadi nggak gampang nemunya. Tapi kalau udah diwebsite, semua bisa ditranslate. Sooo it’s okay!

Leave No Trace

Kalau mau berpartisipasi pribadi gini caranya

Source: https://www.worldcleanupday.org/get-involved/

The Program

// 12:30 – Welcome
// 13:00 – Beach Clean-up (supported by WeRevolution)
// 15:00 – DJ’s, snacks & drinks
Acaranya di Beach Blijburg, sekitar 30-40 menit dari rumah saya dengan public transportation. Blijburg itu pantai kecil di tengah kota Amsterdam. Kecil banget. Please jangan bayangin pantai-pantai di Indonesia ya….. Di beach ini sering banyak festival-festival dan yang organise festivalnya itu ceritanya mau give back sama pantai ini. Karena setelah ini beach ini sudah nggak boleh lagi bikin acara karena satu dan lain hal. Asumsi saya sih sampah adalah salah satu masalahnya. Ini kaya jadi semacam say goodbye-nya gitu dan sekalian dibuat di hari bersih-bersih nasional.

Tim from WeRevolution (Event organizer) giving welcome speech

Kita dapet minum dan snacks gratis plus tiket untuk ke Amsterdam Dance Event yang saya sedekahkan (wkwkwk) ke temen saya hari itu hehe soalnya nggak akan ke acara itu juga sih. Lumayan kan, itu caranya mereka untuk attract the people, walaupun menurut saya tanpa mereka mencoba untuk attract pun, orang-orang yang ada disitu adalah orang-orang yang care.
Dari sekitar 30 orang yang datang, kami dibagi menjadi 2 group untuk lebih memudahkan koordinasi aja. Kemudian setiap orang dibagi tugas untuk fokus kepada 1 tipe sampah, sampahnya dibagi menjadi 5 tipe:
1. Plastik
2. Kaca
3. Kaleng
4. Kertas
5. Cigarette Butt (filter rokok) YES IT’S SEPARATE
Kami juga dibagikan perbekalan yaitu;
– Plastik sampah (yang sebenernya bisa diganti dengan goni atau yang lain)
– Glove (bisa juga bawa sendiri dari rumah)
– Picker (pencapit)
– Overall outfit
Sampah-sampah ini akan diolah kembali di pembuangan sampah akhir di Belanda yang untungnya sudah punya teknologi yang cukup baik. Jadi nggak cemas sama setelahnya.
Kebetulan saya kebagian ngambil puntung rokok, bah! banyak bangettt sampe sakit punggung karena harus terus nunduk arah jongkok. Dan yang saya temui adalah puntung rokok yang recent yang baru aja dibuang. Kalau digali lebih lagi, banyak puntung rokok yang sudah memutih dan menua. Imagine how many are still in there?
Setelah itu saya jadi belajar lagi soal bahaya puntung rokok. It is so dangerous apparently, could be more dangerous to the ocean than plastic. 
Each year, 5.6 trillion cigarettes are manufactured worldwide, about two thirds or more than 66 percent of those are improperly disposed of by the smokers. There are also certain chemical dangers from cigarette butts, especially for marine life. A lot of them get swallowed by sea turtles, fishes, dolphins, and whales. Also, no, these filters are not biodegradable, they are made of a different type of plastic which contains a lot of harmful chemicals.
The situation is a lot worse since there is no regulation for the proper disposal of cigarette filters, compared to the environmental policies put in place for plastics.

Key Takeouts

  • Banyak banget sampah di dunia ini dan itu hanya yang terlihat, dig more and you’ll find more! More things yang kita nggak tau udah berapa lama disitu. Bayangkan kalau kita nggak mengubah gaya hidup kita. Thats how your trash will end up. Stay for years. And it accumulates because it’ll stay for hundreds years. And it contaminates your surroundings and eventually you.
  • Ini bukan (hanya) soal membuang sampah sembarangan tapi soal produk yang kita konsumsi dan bagaimana penggunaan plastik dalam hidup kita.
  • Juga waktu yg tepat utk map out the brands that use plastic as the packaging juga mengetahui asal dari limbah tersebut and shout to them. Asal limbah dapat membantu kita lebih dekat dengan pertanyaan siapa yang bertanggung jawab untuk pengelolaan bahan yang tepat. Contoh, banyak tempat pembuangan sampah dengan limbah rumah tangga berarti bahwa kotamadya belum melakukan pekerjaan mereka dengan baik, limbah non-rumah tangga berarti itu adalah tanggung jawab produser dan kita dapat menargetkan area komersial atau industri terdekat. Juga kita menargetkan ke diri kita sendiri, sudahkah kita memilih produk-produk kita dengan selektif.
  • Di tengah2 cari sampah, diumumkan bahwa sampai detik itu sudah ada over 13,5 million people joining the movement.
  • What you do, each one of you create difference in this world! Jangan pernah understimate effort yang kamu lakukan!

After all, what we do, whatever it is, do make difference. Be kind and keep on improving!

Culinary Hidup Minimalis Life Zero Waste Journey

Current Obsession – Teh jahe lemon

25th March 2018 - 3 min read

My current obsession nowadays adalah Ginger Lemon tea atau teh jahe lemon. Awalnya gara-gara liat salah satu blogger/vlogger/business woman favorit saya, Mimi Ikonn yang selalu minum Ginger Lemon tea. Jadi terinspirasi karena sebenarnya dua hal ini adalah dua hal yang selalu ada di rumah. Awalnya saya ngira minum teh ini setiap pagi hanya untuk menyegarkan diri. Super mudah untuk dipersiapkan, tetapi juga memberi banyak manfaat kesehatan. Dan begitu baca manfaatnya, saya lebih yakin lagi untuk mencoba dan menjadikannya rutin. Dan ternyata enakk.. Awalnya saya taruh jahenya pelit2 gitu, tapi ternyata jahenya kurang kerasa. Setelah saya ambil agak gedean plus digeprek, rasa jahenya lebih keluar dan enak banget di tenggorokan. Dan satu lagi saya tambahin madu..

Benefitnya*:

  • Meringankan gejala pilek dan flu. Semua bahan ini memiliki kualitas obat alami mereka sendiri dan ketika dikombinasikan akan menjadi teh yang menenangkan dan santai yang dapat meredakan gejala dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
  • Jahe bisa membantu mencegah pembekuan darah dan mengurangi kolesterol. Ini dapat membantu melawan penyakit jantung, di mana pembuluh darah menjadi tersumbat dan menyebabkan stroke atau serangan jantung.
  • Jahe dapat membantu mencegah atau mengobati muntah dan mual. Ini juga digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang terkait dengan perut. Bisa meringankan perut yang upset.
  • Ketika ditambahkan ke teh, jus lemon dapat memberikan banyak manfaat kesehatan. Jus lemon adalah sumber vitamin C yang baik, vitamin yang larut dalam air yang membantu menyembuhkan luka dan memperbaiki serta memelihara tulang dan gigi. Sebagai antioksidan, vitamin C membantu melawan molekul jahat yang disebut radikal bebas yang merusak DNA dan dapat berkontribusi pada pengembangan masalah kesehatan, termasuk kanker, arthritis dan penyakit jantung.
  • Untuk meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Lemon mengandung bioflavonoid yang membantu mempertahankan kadar vitamin C yang cukup di setiap sel tubuh Anda.
  • Improves mood and concentration
  • Helps improve liver function
http://www.stylecraze.com/articles/benefits-of-lemon-ginger-tea-for-skin-hair-and-health/#gref
http://healthyeating.sfgate.com/health-benefits-ginger-lemon-honey-tea-10658.html
http://www.vegkitchen.com/tips/
https://www.organicfacts.net/health-benefits/beverage
Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Hal-hal yang saya berhenti membeli

25th March 2018 - 6 min read

Beberapa barang yang saya sudah nggak lagi beli, karena saya sadar itu sebenernya nggak terlalu penting dan butuh untuk saya. Dan mungkin juga nggak terlalu kalian butuhkan. Karena bahwasanya hidup secukupnya itu enteng dan membahagiakan….

 1. The “shoulds”

Banyak miskonsepsi soal apa yang membuat rumah menjadi ‘rumah’. Seperti harus ada TV, CD player, PS, harus punya banyak macam sprei, sandal rumah, gelas piring fancy untuk tamu dll. Dont buy things because you SHOULD. Well I did it and I learnt from it. Hanya soal waktu kami akan menjual tv di rumah kami. Karena intensitas pemakaian hanya sedikit dan di waktu luang biasanya kalau nggak sibuk dengan laptop kami masing-masing, kami keluar rumah atau have people over untuk ngobrol.

Soal bathrobes, sprei, lap dan lain-lain, to be honest dua itu cukupWith a good quality ones, karena yang kita perlukan hanyalah pengganti saat yang satu lagi dicuci. That is all! Bener nggak? And dont buy things that won’t last. Go for a better quality.

2. Duplicates

Lima gunting, dua peelers, dua handphone (yang mungkin satunya udah nggak kerja), empat bathrobes. Seringnya kita beli barang baru tanpa clear out dulu barang yang lama (yang udah rusak atau bahkan yang kita nggak tau di dalam rumah). Kadang kita mikir, ah saya nggak punya gunting, padahal ada dan kamu lupa karena jarang banget dipake atau mungkin kamu kira hilang. When you have less stuff, this thing won’t happen.

Kalau misalnya ada barang di rumah yang udah rusak, throw it or better yet find another home for it before you get a new stuff.

3. Spur of the moment – Diskonan

Dulu jaman kuliah, saya kerjaannya berburu diskonan. Masuk ke toko nggak jelas apa yang mau dibeli, justifikasi bahwa saya memerlukan sesuatu yang sebenernya saya nggak perlukan demi kebahagiaan sesaat. Hafal banget waktu-waktu diskon pada jamannya mulai dari H&M, Zara, River Island, dan macam-macam toko lainnya. Sekarang saya udah sama sekali nggak ngerti kalau ditanya sama mama (karena mama suka sekali dengan fashion dan bajunya buanyak banget – kemungkinan besar memang saya ketularan hehe). Dan saya nggak ngerasa terbebani dengan pakai barang-barang sama setiap hari. Mungkin itu salah satu kelebihan tinggal di luar negeri karena social pressure yang rendah, walaupun akhirnya saya percaya itu semua pilihan ya. Saya beruntung bisa adapt dengan kebiasan yang menurut saya baik ini.

Untuk tetap mendapatkan diskonan, biasanya saya list barang yang saya dan Damar perlukan. Biasanya kalau ini menyangkut barang-barang yang tingkat ke-urgensi-annya rendah seperti jaket gunung, alat camping, baju dalem dll. Saya termasuk tipe orang yang pemikir banget kalau beli-beli sesuatu kadang suka kesel ke diri sendiri karena jadi lama banget kalau harus belanja atau milih sesuatu, tapi sebenarnya itu blessing in disguise karena saya selalu mikir berkali-kali untuk membeli sesuatu yang baru. Akan banyak pertimbangan sekarang-sekarang ini untuk membeli sesuatu yang baru.

4. Cleaning products

Banyak macam-macam tipe pembersih. Perusahaan-perusahaan itu menciptakan perbedaan ‘fungsi’ untuk berjualan, bukan karena kita perlu. I stick with standard all purpose cleaning (vinegar – resep disini) dan pembersih untuk marble+batu.

5. Ingredients buat di dapur yang nggak ngerti kegunaannya

Being adventurous is nice. Ini bicara pengalaman banget sih, karena kalau ke toko kadang liat barang diskonan dan mata jadi ijo walaupun nggak ngerti barang itu buat apa. Jadi sekarang biasanya saya beli yang super basic, food ingredients I know I will use. Karena akhirnya akan berakhir di tong sampah saat sudah kadaluarsa. Saya jadi inget punya garam masala yang harus saya pakai sebelum kadaluarsa. Dulu beli ini karena it sounds really indian dan padahal untuk bikin makanan india nggak harus selalu perlu spice itu. Always do a proper research before picking things up from Supermarket shelves. 

6. Fancy tech things

Kalau kalian perlu hal ini untuk pekerjaan kalian, it’s okay. Karena barang itu akan serves its purpose dengan baik. Tapi kalau nggak butuh dan bahkan nggak tau cara pakainya, baiknya dihindari. Kalau kalian nggak terlalu into photography, why buy something expensive. Maksimalkan apa yang kita punya dulu, mungkin dengan Iphone dan belajar dari situ dulu sekalian mencoba apakah kita bener-bener suka dengan itu.

7. Fun Kitchen Gadget

They’re fun, but how often do we use it. I also stop giving people that.

8. A million make up products or brushes

Make up di tas make up saya hanya ada eyeshadow pallete, blush on, eyeliner, concealer, lipstik, mascara dan brush untuk eyeshadow. Udah itu aja dan nggak berencana untuk beli lebih. Semuanya satu kecuali lipstik (4 biji), because why do you need more? 

Indonesian minimalist

Semoga menginspirasi untuk lebih selektif mengurangi barang dan fokus ke what is important 🙂

Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Hal-hal yang bisa disingkirkan untuk hidup Minimalis

15th March 2018 - 6 min read

Buat saya, minimalis bukan tentang berapa banyak atau sedikit hal yang kita miliki. Bukan juga soal memaksakan diri kita untuk let go sesuatu yang berarti untuk kita. Nggak ada yang salah dengan punya barang karena beberapa hal membuat hidup lebih mudah, lebih indah, lebih bahagia, dan lebih nyaman.

Tapi hal yang perlu dimiliki oleh kita adalah kesadaran. Sadar akan prioritas dan sadar saat membuat keputusan untuk menyimpan barang, karena salah-salah bisa jadi kita yang dikuasai oleh barang. Tiba-tiba aja rumah bisa jadi penuh dengan barang-barang yang nggak terpakai dan hal-hal yang nggak punya value ke kehidupan kita. Barang semakin bertambah banyak dan tanpa kita tau kita nggak punya cukup tempat.

Setelah ngobrol-ngobrol sama beberapa temen, ternyata banyak juga yang kepengen simplify hidupnya tapi bingung mulai darimana. Untuk saya, saya ngerasa setiap saya pindah rumah, itu adalah momentum untuk mengurangi volume barang yang dipindahkan. Tapi yang penting, tujuannya sudah diset dari awal bahwa pengurangan barang ini akan dimaintain kedepannya.

Kalau emang nggak ada momentum pindahan, mulailah dari tempat yang paling mudah. Kenali hal-hal yang kita yakin nggak menambah nilai di kehidupan kita. Contohnya: lemari yang berantakan dengan sprei dan handuk yang berbeda-beda warna, kenali sebenernya berapa handuk dan sprei yang bener-bener kita perlukan dan kita gunakan. Utilities ekstra di dapur yang sudah tak tersentuh selama bertahun-tahun, berapa banyak piring dan mangkuk yang benar-benar kita butuhkan? Saya baru nyadar kemarin ini bahwa saya sebenernya nggak perlu punya 3 set (x6) piring dan mangkuk di rumah, akhirnya saya kasih ke temen yang kebetulan memerlukan. Dulu tujuan awalnya adalah jaga-jaga kalau ada tamu, but as a matter of fact seberapa sering ada tamu datang dengan jumlah 3 set perangkat makanan. Pun kalau misalnya bener terjadi kita bisa bekerja sama dengan temen deket atau tamu untuk meminjamkan alat mereka.

Saya ngerasa saat saya punya lebih sedikit barang atau at least barang-barang yang bener-bener berarti buat saya, ada perasaan lega karena saya tau apa yang saya punya dan saya benar-benar menggunakan sesuai fungsinya. Perasaan light atau enteng juga jadi salah satu alesan kenapa saya pengen berhidup minimalis.  Rasanya jauh dari suffocated. Dulu waktu saya kuliah, saya bener-bener kebalikannya, kerjaannya beli baju tiap minggu dan selalu nongkrongin toko-toko. Hidup jadi dipusingkan oleh hal-hal yang sebenernya nggak necessary, mulai dari bingung mau naruh baju dimana, beberes lemari yang akhirnya jadi berantakan lagi, mau pake baju apa dan sebagainya.

Juga dari punya yang seperlunya dan hidup sederhana, saya ngerasa belajar untuk nggak attach terhadap benda..

So, let’s get started dari hal yang paling kecil dan mudah dulu.

Getting started is freeing. Amid an endless sea of stuff, simplfying our lives keeps us from drowning.

Memulai adalah membebaskan. Di tengah lautan yang tak ada habisnya, menyederhanakan hidup kita membuat kita tidak tenggelam.

Saya paham banget bahwa memulai adalah hal yang paling exciting tapi juga yang paling susah dikerjakan, karena tanpa panduan yang jelas memang akan membingungkan. Berikut, sedikit rincian barang-barang yang bisa kita get rid of untuk memulai hidup minimalis:

Barang yang kita nggak tahu kegunaannya

Sadar nggak sih kita tuh suka nyimpenin barang-barang yang aneh-aneh yang kadang kita juga nggak tahu esensinya apa. Kayak tempat koin yang lucu-lucu atau alat elektronik murah. Biasanya beranggapan, suatu hari nanti akan butuh, jadi disimpen aja. Padahal saat kita nggak tahu kapan mau pake atau bahkan ga tau kegunannya apa, chances are nggak bakal kepake juga di bulan-bulan ke depan.

Baju yang bikin kita nggak comfortable dan udah lama nggak dipake

Kalau baju yang kita punya nggak bikin kita ngerasa comfort atau cantik, baju itu nggak akan berubah jadi bagus any other day. Kita nggak bakal lebih tinggi, lebih pendek, lebih gendut atau lebih kurus untuk fit baju yang kita punya. Better to donate this.

Kado yang kita kurang perlu atau kurang suka

Sama kayak yang dibilang Marie Kondo, bagian ini adalah bagian yang paling susah. Kita suka ngerasa jahat karena nggak menghargai effort orang yang kasih barang ke kita. Sedangkan tujuan mereka memberi kado adalah membuat kita happy dan menunjukkan perhatiannya. Tapi kalau kadonya malah berbuat kebalikannya karena jadi makan tempat atau kita nggak butuh, mending dikasih ke orang lain supaya kadonya bisa fulfill its purpose for other people. Dan juga sebenernya esensi dari pemberian kado sudah tersampaikan dengan baik, kita jadi tahu bahwa temen kita sayang sama kita.

Barang yang udah rusak

Kalau barang udah rusak, coba dicek bisa dibenerin atau dijual nggak. Dulu saya sering tuh kalau ada barang rusak bakal saya simpen-simpen aja sampai masanya datang, nunggu-nunggu sampai ada orang lain di deket kita yang perlu. Kalau kaya gini mendingan dijual aja. Nggak cuma membebankan energi pikiran tapi juga bisa dapat ekstra uang saku.

Old magazines

Ini juga nih salah satu biangnya. Rasanya suka sayang aja gitu untuk membuang atau mendonasikan majalah-majalah lama yang sudah kita baca. Kadang pengennya adalah dibaca lagi di masa depan tapi biasanya, berbicara dari pengalaman, saya jaraaaanggg banget baca lagi. Biasanya numpuk ajah yang akhirnya jadi berdebu.

All ini all yang paling menyenangkan saat punya barang secukupnya adalah so easy to move out or travel because you just need to pack up your bag. At the end, I want things that fit me, I don’t want myself that fit things.

Less stuff means I need less space, less cleaning, less maintenance=more time, more money, more freedom

 

Zero Waste Journey

Easy Ingredients Homemade Cleaner

9th March 2018 - 4 min read

Topik kali ini tujuan awalnya bukan karena saya mau ngurangin sampah, tapi lebih ke arah untuk kesehatan dan kepraktisan. Di supermarket bisa ada satu aisle sendiri yang isinya penuh dengan macam-macam tipe pembersih. Dulunya kami juga memiliki hampir semua di rumah, dari pembersih toilet, pembersih dapur, pembersih kamar mandi, dll. Yang ternyata pembersih-pembersih itu isinya kebanyakan toxic dan yang satu dengan lainnya hampir mirip-mirip. Setelah baca-baca, isinya bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan (pernapasan, iritasi kulit, masalah reproduksi, kerusakan sistem saraf, dll). Idealnya si apapun yang kita pakai disekitar kita itu paling nggak sesuatu yang kita nyaman dan juga aman untuk dikonsumsi. Bahan-bahan dasar yang diperlukan ini bisa ditemukan di lemari dapur kita lho, jadi pasti aman.

Ceritanya, sudah sekitar 2 tahun kami berpindah dari berbagai macam produk bersih-bersih konvensional yang ada di supermarket. Setelah lebih mindful bikin sampah, dipikir-pikir kebiasaan ini juga sangat paralel dengan konsep zero waste. Walaupun sebenernya juga nggak 100% zerowaste karena masih perlu botol dari vinegar (juga essential oil – optional), tapi perbandingannya lumayan signifikan dengan membeli satu persatu pembersih secara khusus. Dari 4-5 macam botol berisi cairan keras untuk tujuan yang berbeda-beda, jadi hanya 1.

Kunci dari nontoxic homemade cleaner ini adalah vinegar. Pasti sering denger ya karena emang sering banget muncul di video-video lifehack di sosial media. Dan emang nggak hoax sama sekali. Bahan ini ajaib sih menurut saya. Vinegar ini fungsinya banyak banget, termasuk stain remover, fabric softener, juga untuk bersihin kaca. Setelah pakai ini, secara otomatis saya ngerasa nggak nyari lagi pakain pembersih-pembersih yang kami miliki sebelumnya. Dan nggak perlu takut tangan kasar atau kering atau susah nafas waktu lagi bersihin kamar mandi. Downside-nya sih baunya memang agak kenceng, khas vinegar gitu kecut-kecut gimana, tapi dianginin dikit juga cepet ilang. Salah satu cara mengurangi bau kenceng vinegar adalah ditambah esensial oil dan/atau vinegar yang udah di-infuse dengan sisa kulit jeruk/lemon/limau. Yes, sisa kulit jeruk yang habis kita makan isinya, bisa berguna buat bikin aroma.

Btw, be careful using it on marble and granite because the acidity of the vinegar eats away at the surface of it.

 

3 Ingredients Homemade Cleaner 3 Ingredients Homemade Cleaner 3 Ingredients Homemade Cleaner

All purpose cleaner

  • Air
  • (Distilled) white vinegar (infuse with orange zest 1-2 weeks – optional)
  • Scented essential oil (optional)

Window cleaner

  • 1 sdm cornstarch
  • 60 ml (distilled) vinegar (infuse with orange zest 1-2 weeks – optional)
  • 30 ml alcohol
  • 250 ml of hot tap water or distilled water

Metal or rust cleaner

All purpose cleaner + baking soda

Benefits

1.  Menjauhkan toxic dari hidup kita

Can you even read the below ingredients? ….. EXACTLY

propylene glycol
2 Hexoxyethanol
Ammonium Hydroxide
Mirapol Surf S-210
Viden EGM
Sodium C14-17 Sec-Alkyl Sulfonat
Fragrance Palette
Liquitint Sky Blue Dye

2. Less waste

Karena ngurangin plastik dan kemasan-kemasan yang nggak perlu karena biasanya pembersih komersial di-pack di botol plastik

3. Hemat

Bisa banget nabung dari uang yang biasa dibelanjakan untuk beli 5 macam pembersih komersial. Heheheehe

Zero waste cleaning tips (from Lauren Singer):

  • Clean frequently – you don’t need heavy cleaners like bleach if you’re diligent with cleaning your home consistently with your nontoxic cleaner.
  • Use rags, cut up old t-shirts and reusable cleaning towels instead of paper towels.
Hidup di Belanda Life Zero Waste Journey

Weekend routine and zero waste groceries haul

8th March 2018 - 4 min read

Sebenernya rutinitas pagi hari-hari biasa dan di weekend more or less sama sih. Bedanya di weekend lebih bisa leyeh-leyeh dan bangunnya lebih siang. Di weekend pun saya nggak kelewat buat morning routine. Menurut riset, yang sudah saya validasi (setelah mencoba menjadikan habit), pagi hari adalah waktu yang paling oke dan efisien untuk fokus ke diri sendiri. Damar biasanya bangun lebih siangan daripada saya, jadi perfect banget. Ada kalanya juga saya males-malesan dan kalau saya sudah skip morning routine terlalu lama, biasanya kerasa banget mentally (lebih gampang annoyed plus stress) dan physically (karena artinya secara otomatis saya skip olahraga). Menetapkan rutinitas pagi weekend ngebantu banget untuk bikin kita ngerasa punya kendali atas waktu, pikiran dan tubuh. It keeps me balanced! Dan yakin banget ini adalah salah satu cara untuk self love. Walaupun rutinitas pagi saya membantu saya memulai hari in my best self, saya nggak menyalahkan diri sendiri saat saya tidak dapat melakukannya. Sebagai gantinya, saya mencoba menyesuaikan hari sesuai kebutuhan.

Check more morning routine ideas here.. Banyak tokoh-tokoh keren yang menceritakan morning routine mereka..

Setelah morning routine biasanya saya tulis plan dan make sure weekend itu akan menjadi weekend yang produktif. Saya ngerasa sayang aja kalau waktu di weekend cuma dipake buat nonton film. Bukannya ngga boleh, saya pun kadang-kadang juga gitu tapi nggak pernah bisa nggak ngerasa bersalah. Atau kalau saya memutuskan untuk nonton film yang bener-bener pengen saya tonton, harus ada pay off yang saya kerjakan setelahnya. Ini juga berkaitan dengan post saya sebelumnya soal how to slow down the time. Saya ngerasa dengan saya nonton film dan leha-leha, waktu jadi cepet banget berlalu. Tiba-tiba udah malem, tiba-tiba udah minggu.

Share kali ini sebenernya pengen cerita aja sih buat dibaca lagi atau mungkin bisa jadi nambah ide kegiatan dirumah selain nonton film/series 🙂 Hari-hari akhir pekan saya biasanya saya habiskan di rumah bersama Damar. Salah satu alesan untuk tinggal di rumah adalah karena diluar masih dingin walaupun sudah jalan bulan Maret dan selain itu kami berdua memang dasarnya termasuk pasangan yang lumayan selektif soal uang. Makanya kami nggak terlalu sering keluar-keluar makan atau nonton bioskop karena buat kami ini bukan prioritas. Dalam setahun bisa banget dihitung jari. Kami lebih pilih untuk melakukan hal mendasar di rumah dan juga travelling. Buat kami travelling adalah salah satu prioritas penting dan sekarang ini kami sedang merencanakan perjalanan lumayan besar yang butuh kesiapan mental dan finansial. Semoga rencana kami dilancarkan Aamiin aamiinn.

Biasanya kalau nggak dirumah, Damar dan saya jalan ke taman atau ke tempat baru yang kami belum pernah datangi entah itu museum, gang, kadang cafe, atau concept store. Kadang kalau lagi pengen banget, kami ngopi sambil ngobrol ngalur ngidul diluar, berdua aja. Dibanding Damar, saya lebih bersosial dengan teman-teman, tapi itupun saya bener-bener cuma pergi dengan temen yang saya tahu saya nggak hanya cuma basa-basi.

Dibawah ini beberapa point penting yang saya wajib lakukan di akhir pekan

Meditation 

HIIT dan Yoga

Have a big brunch

Long coffee while writing down gratitude journal, planning the day and maybe the rest of the week

Prioritize what is important

Make time for hobbies

Meal Prep

Groceries 

Ini dia groceries zero waste beberapa waktu lalu. Masih tetep berusaha walaupun the struggle is real

Weekend routine and groceries haul

More ideas here

We are all responsible in how to spend our life.

Design a simple organized life. Start here. Start now.

Zero Waste Journey

Resep Vegetable Broth

20th February 2018 - 4 min read

Hello hello..

Weekend kemarin ribet jadi nggak sempet nulis blog. Sabtu kemarin seharian bantuin kakak saya (dia tinggal di Den Haag) buat pindahan rumah. Niat baiknya sih masih tetep nulis blog (belajar konsisten) tapi energi nggak cukup yaaaa hehe dan waktunya juga kurang fleksibel..

Kemarin sempet mikir-mikir mau share apa yaa minggu ini.. terus kepikiran beberapa waktu lalu saya beli broth sayur jadi (itu lho kaya kaldu blok atau kaldu di kaleng, tapi dari sayur-sayur sebagai pengganti hewani). Setelah di rumah, saya jadi inget kalau dulu pernah sempet lihat resep broth sayuran dimana gitu. Lumayan banget untuk menghemat dan mereduksi sampah plastik/alumunium, saya jadi niat pengen bikin broth saya sendiri. Sebelum googling, rasanya kok sayang yaaa buang-buang sayuran gitu karena setelah direbus harus dibuang. Tapi setelah googling jadi tahu bahwa biasanya yang dibuat kaldu sayur itu malahan bagian bekas-bekas atau sayuran yang sudah menguning atau terlupakan. Nah kebetulan kemarin saya ada seledri, wortel dan tomat di kulkas yang kondisinya sudah nggak terlalu baik alias sudah hampir layu.  Kemudian terjadilah AHA moment yang membuat saya tergerak untuk bikin.

Membuat kaldu di rumah bisa menghemat tiga hal: membuang sayuran yang sudah layu, hemat uang untuk membeli kaldu, dan mereduksi kemasan-kemasan yang nggak perlu.

Resep Vegetable Broth

This is how: Di akhir minggu, cek sayuran-sayuran di lemari es yang mulai menguning. Atau bisa juga simpan sisa sayuran seminggu di container, seperti bagian bawah wortel, paprika, cabe, isinya tomat (yang biasanya suka dibuang), batang kangkung, dll sampai agak banyak untuk direbus sama-sama. Kemarin saya menggunakan bawang putih, bawang bombay, seledri, sisa tahu dari makan malem, wortel, tomat, dan batang sawi. Bisa ditambah seaweed dan jamur kalau ada, bayanginnya kayanya enak. Saya tumis dulu dengan olive oil supaya lebih beraroma dan rasanya lebih keluar. Kemudian isi panci dengan air, sedikit garam, merica dan kecap asin tutup. Biarkan mendidih selama satu jam atau sampai rasanya beraroma.. Saring ampasnya kemudian disimpan di botol atau gelas kaca untuk disimpan di kulkas selama paling nggak seminggu. Kalau mau lebih tahan lama, bisa disimpan di dalam freezer.

Gampang banget kan dan gratis! Biasanya yang suka masak dirumah akan selalu menyisakan batang-batang sayuran, bagian atas bawang, kulit bawang, dll. Daripada masuk ke sampah, ini bisa dimanfaatkan untuk bikin masakan kita jadi lebih flavourful. Kalau misalnya bahan-bahan (sisa) ini terasa kurang untuk dibikin vegetable broth, bisa dimasukkan ke freezer dan dibikin bersama-sama saat bahannya sudah cukup.

Resep Vegetable Broth

What to make from vegetable broth: Nggak perlu hanya dibikin sup, tapi bisa untuk merebus kacang-kacangan juga atau untuk buat saus. Rasanya akan lebih gurih daripada dengan air biasa. Selain itu bisa untuk bikin risotto, pasta, couscous, mashed potato, dan lain lain. Saatnya berkreasi…

Manfaatnya: Selain berlaku baik untuk lingkungan tapi juga bagus untuk immune boosting dan penambah vitamin, mineral dan nutrisi dari apa-apa yang terkandung dari bahan yang dipakai. Dan pastinya nggak pake pengawet, jauh lebih sehat daripada beli di supermarket.

Selamat mencobaaaaa!!

 

Zero Waste Journey

Review and how to use menstrual cup (Ruby cup)

4th February 2018 - 7 min read

Kira-kira sekitar 4-5 tahun yang lalu saya pertama kali denger soal menstrual cup. Pertama kali baca dan ngeliat bentuknya, saya sama sekali nggak kebayang gimana benda asing itu bisa ada di dalam vagina. Gimana caranya masukin cup segede gitu?? Apalagi kan belum sepengalaman itu ya dulu haha. Jaman itu, saya hanya sebatas googling dan tahu manfaatnya hanya diseputaran bahwa ini bagus untuk orang-orang yang sering iritasi atau punya alergi dengan pembalut atau orang-orang yang ingin menjauhi dioxin dan serat sintesis yang ada di pembalut konvensional. Jadi pada saat saya mulai jalan ke arah hidup yang lebih sehat, saya menjatuhkan pilihannya ke pembalut yang 100% cotton. Dulu mikirnya sesimpel ‘ngapain susah-susah’. Bayangin konsep tampon aja udah ngeri, apalagi menstrual cup yang bentuknya jauh lebih mengintimidasi.

Tapiiiii, semenjak saya lebih concious ngurangin sampah, menstural cup ini muncul lagi ke kehidupan saya. Banyak sekali review positif di blog-blog zero waste yang saya baca. Nah saya jadi lebih terpanggil untuk belajar lebih lanjut. Memang yaaa, semua-semua itu kembalinya ke diri masing-masing, ‘hidayah’ itu memang bentuknya beda-beda. Mau dulu dipaksa kaya gimana pun saya nggak akan mau pake menstrual cup. Tapi sekarang bedaaaa, karena tujuannya jelas dan selaras dengan visi saya.

Akhirnya, saya mulai cari-cari tahu lagi. Semakin saya cari tahu, semakin yakinlah saya buat nyoba menstrual cup. Dari beberapa merk yang terkenal (diva cup, ruby cup, meluna cup, organic cup, moon cup, etc), saya menjatuhkan pilihan pada Ruby Cup, the little menstrual cup that makes a big difference. Jadi, setiap satu pembelian cup, satu cup akan didonasikan ke anak-anak perempuan di negara-negara berkembang. Karena anak-anak disana nggak punya cukup uang untuk beli pembalut, mereka biasanya memilih untuk nggak ke sekolah karena kawatir dan malu. Jadi Ruby cup mau prevent itu supaya generasi muda perempuan nggak berhenti teredukasi karena masalah-masalah kaya gini. Selain itu Ruby cup juga certified  100% vegan, terbuat dari 0% medical-grade, soft silicone dan free dari toxin (plastic, latex, bleach).

Review and how to use menstrual cup (Ruby cup)

Source: google

Di Eropa sini lumayan kerasa beda dari harga dan pilihan membeli. Harganya sekitar 20-30 euro atau sekitar 300-450 rb, sedangkan di Indonesia bisa mencapai 600 ribu. Memang in general terlihat mahal, tapi coba bandingkan dengan harga pembalut selama 10 tahun. Ekonomis!!!

Pertama coba, jujur aja agak nervous. Sebelum dapet udah deg-degan duluan karena harus mulai pake cupnya. Dan pas udah dipakai, ah jatuh cinta! Ternyata nggak ngganjel sama sekali, malah beberapa menit kemudian saya lupa kalau lagi mens haha saking nggak kerasa pakai apa-apa. Terus, satu lagi, nggak bau!! Penyebab bau itu ternyata karena darah bercampur dengan bahan kimia, keringat, yang akhirnya tempat bersarang bakteri (biang bau nggak sedep).

Review and how to use menstrual cup (Ruby cup)

Source: google (mooncup)

Untuk Ruby cup, bisa dilihat disini.

Dalam sehari, saya mengosongkan cup 2x (siang dan malam). Bisa dipakai 6–12 jam baru perlu dikosongin lagi. Tapi volume menstruasi tiap orang kan beda-beda, jadi lama-lama juga akan terbiasa kapan harus buang dan pakai lagi. Nah ini saya tuliskan positif dan negatifnya, supaya bisa dijadikan bahan pertimbangan.

 Review and how to use menstrual cup (Ruby cup)
Brand apapun itu selalu dapat wadah menyimpan, ini wadah penyimpan dari ruby cup. Simple canvas pocket.

Positif

  1. Nyaman bangetttttttt, karena nggak kerasa pakai apa-apa dan bisa beraktifitas jungkir balik. Jangan takut darahnya akan tumpah kembali ke dalam rahim, karena rahim nggak seterbuka itu untuk menerima sesuatu dari luar.
  2. Non toxin, no bleach and other chemicals. Jadi kemungkinan untuk terkena toxic shock syndrome rendah. Yang pasti nggak bikin daerah vagina sensitif.
  3. Good for environment. Fun fact: per wanita, paling nggak butuh 12 pads atau tampons percycle. In a life time, itu bisa adds up jadi 10000. It’s a good deed for our mother earth that we can do.
  4. Lebih ekonomis, walaupun di awal harganya terlihat mahal. Tapi untuk 10 years, kita nggak perlu beli-beli pembalut lagi  yang jatuhnya jadi lebih irit
  5. It holds more jadi nggak perlu sering-sering buang pakai
  6. Nggak perlu kuatir lupa atau kurang bawa ganti
  7. Nggak bikin bau nggak sedap

Negatif

  1. Konsep memasukkan barang asing ke vagina mengerikan buat saya dan buat banyak orang terutama buat yang nggak atau belum sexually active. Juga saya baca-baca karena banyak yang tanya, pemakain cup ini bisa nge-stretch hymenalias ada kemungkinan bikin selaput dara koyak (walaupun tiap orang beda-beda yah). Jadi, saya nggak suggest ke perempuan-perempuan yang belum menikah.
  2. Butuh waktu untuk terbiasa memakainya. Menurut saya memasukannya cukup mudah, mengeluarkannya yang lumayan tricky.Tapi sih, practice makes perfect dan relakskan sajahh..
  3. Karena saya yang orangnya ngilu ngelihat yang kotor-kotor, saya prefer untuk pakai cup saat saya tahu saya akan ganti di rumah. Pengakuan: saya selalu ganti di kamar mandi i/o toilet supaya bisa langsung bilas secara seksama.
  4. Harus selalu dicuci dengan bersih, gimana-gimana cup ini ada di dalam tubuh kita dan berinteraksi dekat dengan rahim kita. Karena saya belum punya anak, saya hati-hati sekali soal ini. Saat saya yakin saya bisa higienis soal ini, saya akan terus pakai.

Tips

  1. Kalau cup terasa ngganjel dan nggak nyaman, ada kemungkinan ukuran batangnya terlalu panjang. Bisa dicoba untuk potong sedikit bagian ujungnya.
  2. Baca baik-baik instruksinya sebelum memakai (jangan kaya saya yang nggak sabaran)
  3. Di hari-hari pertama mencoba, mungkin masih belum terlalu lihai memakainya. Pakai pantyliners extra untuk berjaga-jaga supaya ada bemper kalau kalau sampai bocor karena salah posisi.
  4. Untuk memilih ukuran ikuti tips dari tiap-tiap merk karena berbeda-beda. Bahkan ada questionnare yang akhirnya menyimpulkan ukuran mana yg cocok untuk kita (saya lupa linknya). Untuk Ruby cup, saya pilih ukuran S karena volume mens saya yang nggak terlalu besar. Bisa dilihat di link ini penjelasannya.

Kalau ada yang mau tanya lebih lanjut karena sekedar penasaran atau memang tertarik nyoba, monggo tanya di komen. Di video berikut adalah unboxing Ruby cup dan hari pertama make. Jangan ditiru ya ke-ignorant-an saya!! HARUS selalu baca instruksi sebelum make, saya terlalu pede karena ngerasa udah banyak liat video tutorial haha. Selalu rebus dan sterilkan cup sebelum dipakai terutama ketika masih baru atau sudah nggak lama dipakai.

 

Zero Waste Journey

Easy substitute for frequent disposable use at home

31st January 2018 - 7 min read

Ngga kerasa sudah tiba di penghujung bulan Januari dan sudah hampir sebulan semenjak saya secara sadar memutuskan untuk mengurangi sampah. Walaupun masih jauh dari sempurna, tapi saya ngerasa lumayan banyak perubahan dari cara pikir saya sehari-sehari. Di minggu pertama saya browsing dan cek-cek toko online (salah satunya aliexpress) untuk mencari substitusi barang-barang yang biasa digunakan secara disposable. Khususnya untuk di dapur! Dan barang-barang ini adalah hal-hal standar yang banyak orang pakai sehari-hari.

Walaupun begitu, ada satu hal yang sampai saat ini belum berhasil saya pecahkan yaitu pengganti plastik untuk tempat sampah. Bakal lama si pindahnya sampai bener-bener ada substitusi yang cocok. Huhu. Boleh dong kalau ada ide… Tempat sampah yang punya kemampuan kompos harganya masih sangat mahal jadi untuk saat ini bukan pilihan dulu. Mudah-mudahan ada cara yang lebih affordable in the future. Tapi ngga apa-apa, let’s start out with this, with what we can.. things that we always use nearly everyday. Mulai dari yang kecil…

Awal minggu ini beberapa barang yang saya beli baru sampai dan pengen bahas disini sekalian juga share bahwa sebenernya ada cara lain untuk dipraktekan 🙂 Selamat membaca dan mencoba!!

  1. Tisu dan tisu dapur

    Saya ini termasuk orang yang super meleran, sering bersin, jadi di rumah saya selalu ada tissue halus untuk muka. Nah ini bisa diganti dengan handkerchief atau sapu tangan dan kalau memungkinkan cari yang bahan dasarnya cotton. Cotton ini seratnya lebih halus dan punya daya serap yang baik. Tipsnya supaya reachable adalah saya isi ulang kotak tisu saya dengan sapu tangan. Dengan sapu tangan sebagai pengganti, saya ngerasa otomatis pemakaiannya jadi lebih hati-hati. Biasanya kalau tisu sekali pakai buang, sekali pakai buang, nah dengan sapu tangan saya bisa berkali-kali pakai dalam sehari sebelum diistirahatkan di tempat sampah sementara (tempat sampah kering) untuk kemudian dicuci. Fotonya ada di paling atas, di foto kebetulan bukan sapu tangan melainkan handuk kecil. Dan setelah coba, saya lebih prefer sapu tangan…. Handuk kecil saya gunakan sebagain pengganti kitchen paper (tissue dapur).

  2. Baking Paper atau alumunium foil

    Baking paper atau kadang disebut parchment paper ini biasanya juga disposable atau sekali pakai buang. Walaupun terbuat dari kertas dan bisa dengan mudah didaur ulang, tapi untuk membuat kertas ini perlu melewati banyak steps (yang salah satunya melibatkan pohon). Dengan lebih mindful menggunakan kertas kita bisa mengurangi penggunaan energi, air, juga mengurangi limbah. Saya suka banget baking dan saya ngerasa sedih dan sayang kalau ngebuang buang baking paper atau bahkan kadang juga alumunium foil. Substitusi untuk ini adalah reusable baking paperCari yang aman dan nggak mengandung any adhesive coating. So far so good yang saya beli, bisa didapat disini. Setelah beberapa kali pakai akan terlihat worn out (lecek dan warnanya berubah), tapi ini masih aman dipakai. Katanya sih ini bisa dipakai sekitar 2-3 tahun. Bonusnya sekalian berhemat 🙂 Easy substitute for frequent plastic use at home

  3. Plastik sealed

    Dulu saya selalu nyimpan apa aja di plastik yang atasnya ada perekat di atasnya. Plastik ini bisa digunakan kembali saat isinya adalah sesuatu yang kering, tapi saat nggak, harus langsung dibuang karena rawan simpan bakteri mau dicuci gimanapun. Sekarang saya sudah nggak pernah pakai ini, dan diganti dengan container plastik atau gelas. Downside-nya adalah saat kita ada di tempat orang dan harus membawa pulang sesuatu sedangkan kita lagi nggak bawa container apa-apa, jadi harus nolak atau pinjam-meminjam container huhu yang rasanya jadi seperti hutang. Anyway, sampai saat ini masih managable sih. Dengan nggak memprakktekkan ini di rumah udah sangat mengurangi plastik yang nggak necessary. Substitute satu lagi adalah plastik sealed yang terbuat dari silikon seperti ini, for your information. Kalau saya tetep lebih prefer container, karena rasanya lebih punya freedom untuk mencuci .

  4. Alumunium foil atau plastik penutup makanan

    Kalau ini biasanya dipakai untuk menyimpan bahan makanan atau makanan sisa. Baru-baru ini saya nemu substitusinya yang bisa dibeli di aliexpress yaitu tutup yang terbuat dari silikon. Dan tutup ini bisa berfungsi sebagai penutup yang lumayan ketat karena dia nempel ke any surface termasuk plastik atau keramik. Kira-kira penampakannya seperti foto di bawah.. Saya happy banget dengan ini terutama kalau saya pengen simpan makanan di kulkas, nggak perlu repot-repot masukkan ke container. Time saving!  Selain ini, ada juga wrap yang terbuat dari beeswax untuk membungkus sayur atau buah yang sudah kepotong. Sayangnya harganya masih mahal. Tapi nggak apa-apa juga karena barang-barang ini merupakan salah satu bentuk investasi hehe.Easy substitute for frequent plastic use at home Easy substitute for frequent plastic use at home

  5. Kemasan botol plastik

    Memang sih saat kepepet, sangat perlu dan nggak ada pilihan lain, kita kudu dihadapkan dengan pilihan kemasan. Saat itu terjadi, selalu pilih kemasan yang terbuat dari box atau cardboard daripada yang jelas-jelas terbuat dari botol plastik.

  6.  Telenan plastik

    Telenan atau papan kayu adalah pilihan bagus untuk mengganti ini. Kayu jauh lebih baik dan sehat, cara membersihkannya pun mudah (gosok dengan irisan lemon). Kadang saat telenan plastik digunakan untuk memotong sesuatu yang raw bakterinya susah dibersihkan dan kadang mengeluarkan toxic yang kita nggak ketahui saat dicuci dengan air panas.

Begitulah kira-kira. Yuk dicoba yukkk! Dimulai dari yang paling gampang dan memungkinkan dulu!! Semangattttt!! Tiap hari saya mikirnya ini adalah sebuah challenge yang somehow harus dipecahkan. How interesting life is 🙂  Please share juga kalau ada ide-ide lain yang saya bisa terapkan untuk hal-hal basic kaya gini di dapur.

 

Hidup di Belanda Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Toko bekas – A way to reduce waste

20th January 2018 - 6 min read

Ketika saya memutuskan untuk lebih concious mengurangi sampah, maka saat itulah saya tahu bahwa saya pun harus merubah kebiasaan belanja saya. Baik itu pakaian atau barang-barang rumah tangga.

Di Belanda ini pengolahan barang bekasnya relatif teratur, bahkan ada toko-toko bekas yang dikelola pemerintah. Selain yang dikelola pemerintah, banyak juga yang dikelola perseorangan. Bentuknya pun beragam, dari yang serba murah sampe yang curated dan fancy yang harganya di atas rata-rata barang bekas. Biasanya pilihan pertama untuk menyingkirkan barang-barang adalah titip jual ke platform-platform online. Cara lain dan biasanya cara terakhir adalah kalau nggak donasi, bisa drop ke second hand shop (secara cuma-cuma). For your info, di Belanda barang-barang yang ditaruh di donation bin (ada dimana-mana di Belanda khususnya untuk tekstil) suka end up ke toko bekas juga tapi pemerintah minta bagian untuk kemudian uangnya diputar kembali. Tujuan akhirnya tetap untuk kesejahteraan rakyat mereka, terutama yang kurang mampu. Karena toko bekas itu adalah source terakhir, jadi pilihan barang-barangnya memang nggak semua bagus, tapi kalau teliti dan beruntung bisa dapet barang yang keren dan unik yang nggak pasaran.

Impression dari toko bekas biasanya dari baunya, yang agak berdebu-debu sedep gitu. Which is orang-orang kebanyakan nggak prefer. Tapi kalau dipikir-pikir, agak sedih juga yaa bahwa orang-orang (termasuk saya sendiri) mengasosiasikan bau plastik dengan hal baru. Tapi itulah realitanya dengan konsumerisme jaman sekarang, orang lebih suka berbelanja di toko yang berbau plastik karena baunya berhubungan dengan hal baru. Menurut saya bau toko bekas itu kayak rumah yang udah nggak ditinggalin lama which has so many history in it. Kalau kata ‘bekas’ agak annoying, sebut aja ‘vintage‘. Somehow, reputasi kata ‘vintage‘ lebih baik dari kata bekas 🙂

Pergi ke toko barang bekas bisa bikin kerasa overwhelming bagi banyak orang (termasuk juga saya dulu) tapi saya punya beberapa pengalaman belanja bekas yang terbilang lumayan sukses, jadi saya akan bagikan tips-tipsnya. Beberapa hari yang lalu saya dapet tea pot lucu banget yang selama ini saya idam-idamkan heheh.. Yang paling saya sukai dari belanja di toko bekas adalah bisa berburu yang unik-unik, harga minimal, dan ngurangin carbon footprint.
Semoga bermanfaat yaaa..

  1. Dateng dengan tujuan

    Pas saya kuliah dulu saya suka mengunjungi toko second hand/toko bekas/thrift shop atau dalam bahasa belanda kringloop. Dulu pas masi pecicilan gitu alesannya cuma satu, pengen lihat-lihat dan kalau ada yang bagus pasti beli (padahal gak butuh). Akhirnya barang-barang itu cuma kepake sekali, 2 kali dan jadi piled up di rumah. Dateng tanpa tujuan hanya akan bikin overwhelmed dan berpotensi terjadinya impulsive buying. Jadi, jangan beli cuma karena murah. Kalau bisa, list barang-barang yang perlu dan jangan keburu-keburu. Disitulah art-nya belanja di toko bekas.

  2. Tentukan Budget

    Tentukan harga dari barang yang kamu beli. More or less nggak masalah. Bikin budget dari awal bakal ngerem kita untuk beli barang keburu-buru.

  3. Cuci dulu sebelum pakai

    This is a rule of thumb yang harus kudu banget dilakukan demi kebersihan dan antisipasi gatel-gatel.

  4. Puterin tempatnya yang lama, take your time

    Toko barang bekas penuh dengan harta karun tersembunyi yang kita nggak mau lewatin gitu aja.

  5. Don’t be afraid to walk out empty handed

    Remember, secondhand shopping takes time, dedication and patience. Tapi apapun itu, jangan takut keluar toko tanpa barang. Satu barang yang bisa dipake berkali-kali jauh lebih baik daripada beli 3 barang yang cuma akan dipakai sekali.

  6. Keep an open mind. 

    Kadang lingkungan memberi dampak ke bagaimana sebuah barang akan terlihat. Beri kesempatan dan lihat secara teliti barang-barang yang ada di depan kamu. It might be a big treasure without being noticed.

  7. Bawa tas kain gede

    Biasanya toko bekas nggak nyediain ‘cart’ atau trolley. Jadi tas kain gede akan berfungsi sebagai keranjang. Ini akan bikin kalian bisa lebih fokus berburu daripada harus bingung taruh barang di lengan.

  8. Pakai baju yang lumayan ngepas

    Mungkin untuk yang berjilbab bisa pakai baju pas di dalem kemudian baju yang gedenya diluar. Jadi gampang lepasinnya. Supaya gampang nyoba-nyoba dan ga perlu bolak balik ke kamar pas. Walaupun sampai saat ini belum pernah ke toko bekas yang ada kamar pasnya. Juga pakai sepatu yang gampang pakai lepasnya untuk coba-coba.

  9. Check the size and tag carefully

    Thrift stores terima banyak donasi dari orang-orang, bisa baru ataupun lama. Jadi ukurannya bisa dari negara beda-beda dan ukurannya pun juga beda-beda standarnya. Walaupun tokonya di Eropa belum tentu ukurannya dengan standar eropa.

     

    Toko bekas - A way to reduce waste Toko bekas - A way to reduce waste