Browsing Category

Hidup Minimalis

Hidup Minimalis

Digital Decluttering

7th October 2018 - 8 min read

Ternyata nggak cuma bersih-bersih rumah dan sekitar aja lhoo yang penting, di era digital ini, kita juga nggak boleh lupa untuk merapihkan handphone, komputer, hardisk yang kita selalu gunakan. Biasanya kita lupa akan hal ini, dan tanpa sadar membuat hidup kita lebih complicated.

Sekarang ini, kita sudah bertransformasi ke everything digital. It’s really a big part of our life. Menjaga device-device ini selalu rapih dan terorganisir bisa ngebantu kita untuk lebih efisien dalam bekerja (dan mencari sesuatu), bisa menggunakan space dengan baik dan juga bisa mengurangi stress level kita saat memakainya. (Iyah, pengalaman pribadi hihi).

Saya itu tipe orang yang saat bekerja nggak selalu rapi dan bahkan cenderung messy, nggak langsung mengorganisasikan secara otomatis. Mindsetnya adalah nanti aja bersihinnya. Contohnya, walaupun sudah mengorganize sesuatu, saya akan mencari cara easy fix saat saya sedang mengerjakannya. Nggak langsung taruh file di tempatnya misalnya.. Tapi at some point akan selalu merasa terganggu dengan keberantakan itu. Rasanya nggak enak, berat dan udah mulai bikin bingung. Nah disitu saya tahu saya harus berbenah.

Semakin kesini saya berusaha untuk nggak sampe ke perasaan keganggu, berusaha declutter plus maintain secara langsung, dan menjadikannya habit.

Ini tips-tips yang saya bisa share untuk berusaha minimalis dengan perangkat elektronikmu.

Turn off Notifications

Biasanya saya switch off suara dan kerasa banget bedanya setelah nggak ada notification. Jadi bisa lebih fokus dan less distracted. Saat denger suara dari handphone, biasanya tangan rasanya nggak kekontrol untuk nggak ngecek immediately (at least for me). Kalau untuk notification yang muncul di layar saya tetap nyalakan karena kadang lumayan handy untuk preview. Untuk scroll dan evaluate quickly mana yang penting. Tapi saat saya sedang harus mengerjakan sesuatu, seringnya saya balik sehingga bagian layar tidak terlihat oleh saya. Juga bisa membantu saya untuk lebih present ke apapun yang saya sedang kerjakan saat itu.

Kadang memang suara diperlukan, saat ada telpon contohnya. Tapi in general, dengan menggunakan device secara sadar, kita jadi bisa menghindari hilang fokus. Cara ini ngebantu saya banget untuk nggak constantly on my phone. That I feel like I have control over it..

Clean up Apps

Pasti ada aja aplikasi-aplikasi di handphone kita yang kita nggak pakai. Dengan milihin dan bersihin, akan ngebikin kita untuk punya assortment aplikasi yang memang berguna dan bener-bener kita pakai dalam keseharian. Jadi lebih gampang ditemukan deh.. Karena lagi-lagi tujuannya adalah simplify our life. Dulu saat saya punya lumayan banyak assortment, saya buat folder-folder berdasar kategori yang memang membantu tapi lama kelamaan saya terganggu dengan terlalu banyaknya kotak-kotak kecil di layar handphone saya. Dan kadang susah juga untuk mencari sesuatu yang jarang saya buka.  Akhirnya saya membersihkan dan hanya keep yang saya benar-benar pakai dalam keseharian. Untuk yang seasonal, saya hanya install saat saya membutuhkan untuk kemudian saya hapus kembali hehe Cara saya mengorganize adalah by color 😉

Regular Clean up

Tiap minggu atau tiap bulan bersih-bersih laptop, handphone dan folder-folder di dalamnya. Foto, file, dokumen.. Di whatsapp contohnya, ada banyak foto-foto yang dishare yang sebetulnya kita nggak perlu atau sama sekali nggak pengen simpan, tanpa kita sadari file itu menumpuk dan memenuhi memori device kita. Why do we keep things that are not even meaningful to us? Things pile up tanpa kita sadari. Kadang di laptop juga kita download-download sesuatu yang nggak berakhir digunakan atau sudah digunakan tapi nggak dibersihkan. Pasti juga banyak foto-foto yang ada disitu juga tanpa kita sadar dan bahkan kita nggak pengen foto itu ada di situ karena sudah sangat lama atau we simply don’t like. Go through it and you’ll sweep quite a lot. 

Jadwalkan beberapa menit untuk melakukan ini. Dan lakukan secara reguler sebelum semuanya pile-up dan bikin jadi males untuk ngeberesin.

Bikin folder

Categorize, label it accordingly… It’ll make your life so much easier.

Jangan taruh di desktop

Hapus dan bersihin desktop kita dan juga pilih-pilih yang mau ditaruh di dock (ini lho yang bagian bawah di mac). This is how my desktop looks like after clean up. Sebagian besar hal-hal lain, saya simpan di dalam hard disk dan itu pun juga dikategorikan tergantung gimana kita mengkategorikannya. Yang paling banyak sih pastinya apalagi kalau bukan foto hehe

Keep 1 or max 2 email accounts 

The fewer email accounts the better. Hindari punya terlalu banyak email account karena akan sulit untuk maintainnya.

Manage your inbox

Nah masalah inbox ini adalah masalah yang sampai saat ini masih menjadi pe-er untuk saya. Saya tipe orang yang nggak bisa liat inbox piling up, semuanya harus bersih. Jadi setiap hari saya selalu menghapus termasuk newsletter-newsletter dari website yang pernah saya subscribe. Sehari ada 50 hanya dari newsletter yang saya langsung otomatis hapus. Kebetulan itu yang paling banyak memenuhi email pribadi saya haha nah pe-ernya adalah: Unsubscribe!!! Caranya adalah, di setiap email bagian bawah adalah pilihan Unsubscribe. Secara legal memang itu harus tercantum disitu. Jadi nggak perlu lagi delete email that we dont even read, want or need. You will just not receive it. Perfect.

Storage

Save a lot of space from computer, bisa pakai cloud juga. Saya juga setiap beberapa bulan sekali memindah foto-foto yang ingin saya simpan dari handphone saya. Dan juga saat saya selesai menggunakan kamera, saya langsung memindah semua ke dalam storage dan menghapus  dari kamera. Kalau saya tunda-tunda akhirnya saya lupa sudah dipindah atau belum akhirnya mungkin saya duplicate yang sudah saya pernah pindah sebelumnya, dll. Sebenernya basic rule-nya adalah dont postpone, just do it right there.

Keep it clean regularly

Disinfecting and cleaning barang yang selalu kita pegang setiap hari. We’ll feel great after a good wipe. Kita akan ngerasa bersih dan soo organized. Penting juga untuk kesehatan kita karena selama ini kita menggunakan jari kita yang nggak tahu sudah pernah mampir kemana aja.

Know when to put it down

Nggak cuma masalah decluttering, tapi juga kita harus tau waktunya untuk put it down dan pay attention what’s around us. Be conscious and aware how much we use our devices. Aware when you need and be present.

Semoga bermanfaat ya tips-nya. Simplify your life!

 

Dreams Hidup Minimalis Life Self growth

Time Management

5th August 2018 - 9 min read

Semakin kesini semakin nyadar bahwa waktu berjalan dengan cepat dan rasanya tuh selalu ngerasa nggak cukup. Ngerasa juga nggak sih kalian? And then you look back and then you question where does time fly, plus checked in on what you have done and you can’t really name what’s worth mentioning? Untuk orang-orang yang banyak kegiatan, biasanya seperti kehabisan waktu dan waktu 24 jam nggak cukup. Yang sudah plan aja masih ngerasa nggak cukup apalagi saat nggak diplan sama sekali. Memang sih sebaik-baiknya ngeplan waktu juga pasti ada aja kan yang tiba-tiba terjadi, tapi seenggaknya dengan sadar akan konsep waktu dan kegunaannya kita jadi bisa less procrastinate.

Pertanyaannya apakah kita sudah nge-plan dengan proper atau bahkan sudahkah nge-plan at all? Let’s reflect dan check out what we have done so far. 16 jam (24 jam-minus jam tidur) itu banyak lho sebenernya. Dan kita bisa fit ini semua yang kita mau lakukan, asal dimanage dengan baik.

Kalau dipikir-pikir step ini juga sangat berelasi dengan konsep hidup minimalis. Step ini akan mengharuskan kita untuk ngelist apa aja yang sebenernya harus difokuskan, instead of  letting the time flows dan hanya ngelakuin tergantung kemana waktu dan challenge membawa. Jadi garis besarnya adalah it’s all about simplifying your life, membuat space untuk hal-hal yang substantial yang harus dilakukan. Untuk fokus ke hal-hal penting di dalam kehidupan kita.

First thing first, untuk kita membuat waktu lebih di dalam keseharian kita, pertama-tama kita harus melihat kemana waktu kita pergi. Kemudian kita bisa kontrol dan meluangkan waktu untuk make things happen. Kuncinya adalah take time to manage your time. Duduk dan organize all in paper or in your digital note (Free Ideal weekly plan yang bisa didownload 🙂)

Caution: Poin-poin dibawah ini hanya sekedar guideline dan beberapa cara yang mungkin nggak sempurna. At the end of the day, semua terserah kalian dan see what works for you! Semoga bermanfaat!

Aku pengen share tips dan tricks yang bisa bikin aku gunain waktu dengan lebih baik. Bukan berarti aku nggak pernah procrastinate, pernah juga, sering bahkan apalagi pas pulang kantor abis makan malem pengennya ngebo aja nontonin youtube sampe ketiduran. But yeah, I do realize, managing time well will clear up more space for side hustle, people, hobbies, study interest and rests, no time for ‘ngebo’.. You’ll fit in more things. 

1. Words vomit

Biasanya aku ngelakuin ini pagi-pagi bangun tidur setelah exercise/yoga dan juga sepanjang hari jika perlu. Kira-kira alokasi waktu 5-10 menit di pagi hari. Words vomit itu menumpahkan semua yang ada di kepala, soal apapun. Apa yang kamu pikirkan saat itu, to do list, gratitude, literally everything. Dengan mengeluarkan apa yang ada di kepala, kita jadi bisa lebih fokus dan efisien dalam mengerjakan sesuatu karena kita nggak perlu takut lupa atau terus mengingat-ngingat sesuatu. Udah diinget-inget bikin nggak fokus, akhirnya lupa juga karena kita semua manusia. Dengan numpahin semua, kepala kita jadi ada space extra untuk ngerjain task secara lebih efektif dan produktif.

2. Make a realistic to do list

To do list adalah senjata saat kita melakukannya dengan benar. Ada masanya dulu aku tulis semuanya termasuk task-task yang nggak terlalu penting hanya karena aku suka sekali rasanya scratch the list karena tasknya sudah accomplished. 

Break down secara besar kemudian dikecilkan. Mulai dari goal besar di bulan itu, kemudian di perkecil ke Ideal weekly plan. Nah ada rule of 3 yang juga bisa dijadikan sebagai acuan. Intinya sih daripada kewalahan dengan tugas yang terlalu banyak di checklist, kamu bisa memilih 3 hal yang paling penting yang ingin dicapai. Ini membuat kita memegang kendali lebih. Tapi 3 tasks ini harus non negotiable, sedang yang lain yang tidak tertulis bisa lebih negotiable. What is something you can let go of or save later?

3. Allocate time

Di dalem to-do list, alokasikan waktu secara spesifik. Seperti 1 jam, 2 jam dst. Kalau perlu, nyalain alarm untuk ini. Pernah sadar kalau biasanya kita wander around nggak? tiba-tiba buka social media, scrolling like there is no tomorrow. Tiba-tiba 5, 10, 15 menit ilang gitu aja.. We lose track on social media. Nah untuk mengurangi kemungkinan itu, coba alokasikan waktu di setiap aktivitas yang pengen dikerjakan di hari itu. Kalau kita alokasikan waktu dengan proper dan realistis, pasti a task will be done accordingly. 

Distraction itu manusiawi pasti terjadi pada siapapun. Don’t fight it, but accept and moderate it. Welcome procrastination and set time for it. Mungkin supaya nggak ganggu, handphone bisa diset airplane mode, atau block social media di komputer yang sering dibuka.. Kadang saking udah jadi habit, jadi unconcious saat melakukannya. Kalau udah gini mungkin waktunya social media detox 🙂

Ada juga Pomodoro techniqueThe Pomodoro Technique adalah filosofi manajemen waktu yang bertujuan untuk memberikan fokus maksimum dan balance dengan fresh mind, sehingga memungkinkan mereka untuk menyelesaikan proyek lebih cepat dengan kelelahan mental yang lebih sedikit. Prosesnya sederhana banget, untuk setiap proyek sepanjang hari, anggarkan waktu untuk bekerja atau mengerjakan task, kemudian  beristirahatlah secara berkala. Jadi contohnya, setup 25 menit untuk kerja, kemudian 5 menit break. Check out for more detailed information in here

4. Dengan kata-kata verb atau actionable

Gunakan action words di to-do list biar otak jadi bisa memvisualisasi untuk encourage kita bergerak melakukannya. Contohnya saat harus belajar, tulis pagesnya, chapternya dan buat sespesifik mungkin.

5. Focus and don’t constantly switch to another tasks

6. Staple activities

Multitasking itu sebenernya kurang baik, tapi yang ini menjadi pengecualian. Kita juga pengen baca buku, tapi pengalamanku pribadi aku ngerasa bersalah karena membaca buku juga membutuhkan waktu sedangkan we are just still. Jadi kaya diem aja nggak ngapa-ngapain padahal baca. Supaya tetep bisa nambah ilmu, cari sesuatu aktifitas yang mindless atau nggak perlu mikir. Kemudian bisa denger podcast atau audible atau blinkist. Ketiganya adalah cerita yang berbentuk audio.

Podcast itu free, bisa ditemukan di aplikasi-aplikasi handphone kalian. Di podcast siapapun bisa bikin channel masing-masing kemudian dishare di apps dan siapapun juga yang punya aplikasi ini bisa mendengarkan. Karena siapapun bisa bikin, aku biasanya ke podcast saat aku sudah tau pasti jelas bahwa seseorang yang aku suka memang ada di podcast atau ada subjek tertentu yang kamu pengen denger. Most of the times I had a good experience with this. Tapi karena bentuknya podcast, jadi mirip-mirip youtube atau radio gitu, topik kontennya ada tapi tapi tidak terlalu terstruktur dan suka-suka yang bikin.

Audible ini punyanya amazon yang gratis di bulan pertama tapi berbayar 15 euro/ bulan di bulan-bulan selanjutnya. Menurut aku, it’s super worthwhile. Mengajak untuk selalu belajar akan sesuatu yang baru tiap bulannya. Karena as I said, baca buku biasanya ada aja excusenya, yang ngantuk lah, yang wasting time lah, etc. Dengan audible, kita bisa ngedengerin kapan aja kita pengen, saat lagi nyetir, di public transport, lagi masak dll. A little suggestion: use this apps to listen to something that is relatively easy to follow. Jangan buku-buku kaya sapiens, the theory of earth or things like that. Because the chances are, you have to sit and listen to it focusedly anyway and then you better read a book 🙂

Blinkist ini adalah apps yang merangkum key lessons dari  buku-buku non fiksi selama 15 menit atau kurang. Jadi dalam 15 menit, kita belajar sesuatu yang baru. Aku sendiri belum pernah nyoba apps yang ini, tapi reviewnya bagus banget. Again, ini preferensi yaaaa. Jadi kalau emang nggak tertarik, yaudah nggak usah. Sama seperti Audible, Blinkist ini juga menawarkan free first month trial.

Selain itu bisa juga save tontonan untuk ditonton saat kita lagi digym. Cari sesuatu yang bisa diincorporate dengan sesuatu yang mindless atau nggak perlu mikir. Niscaya, waktumu akan lebih efektif.

 

If we don’t schedule things, things will not happen. Take your time to sit down, relax and schedule your day, week, month, or year 😀

Hidup Minimalis

Tips untuk nabung!! 50 juta dalam setahun

22nd July 2018 - 6 min read

Uang itu gampang banget untuk dikeluarkan tapi susah untuk disimpen. Walaupun begitu ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bisa simpen uang lebih banyak lagi. Di post kali ini saya pengen share beberapa money saving tips yang yang saya lakukan sendiri beberapa tahun belakangan. Dan saya bisa menyimpan 200-500  euro dalam sebulan yang berarti kalau dirupiahin sekitar 2jt-5 jt dan kalau dikali dalam setahun bisa jadi 30-60 juta hanya dari melakukan hal-hal ini. It’s based on my experience and things that I cut down on, might not work for everyone though 🙂 Hope you can pick away something that can resonate with you.

Hampir semua hal disini saya bisa lakukan karena saya mengubah lifestyle saya. Waktu saya masih sekolah/kuliah dulu, I had so many temptations especially karena lingkungan yang membuat saya merasa peer-pressured. Sekarang saya sudah nggak berada di lingkungan itu dan bisa menjadi diri sendiri. Apa yang kita keluarkan setiap hari walaupun sedikit, it will adds up.

Sebenernya, uang itu pasti akan terpakai juga akhirnya, but on something more essential, important dan priority. We can help more people, we can travel etc.
Okayy let’s start, 
ini adalah beberapa hal yang udah saya cut down beberapa waktu belakangan inii 🙂

  1. No TV – no cable TV(500rb-1jt/month): Buat Damar dan saya hiburan nggak datang dari nonton TV, kalaupun misalnya ingin nonton sesuatu there’s youtube, there’s netflix, there’s streaming. Jadi kita nggak terlalu butuh. Malah saya propose pengennya jual aja TV yang udah ada. Karena makenya bisa banget dihitung, hanya kalau ada tamu yang berkunjung atau menginap di rumah.
  2. I do not eat dinner out as often (1 jt/month): At least 2 times sebulan lah and when we do go we don’t go crazy.. 🙂 Get the main course and be content with that. Kita lebih sering bereksperimen di rumah, masak makanan yang kita belum pernah bikin dan having quality time together. It’s the best. Abis itu, if we feel like it, we take a walk outside and just talk and be grateful for the day. I do however, masih beberapa kali sebulan 2x paling nggak sosialisasi dengan teman dekat/kolega, karena bahwasanya hidup harus seimbang dan networking itu perlu 🙂
  3. No buying water – bringing bottle everywhere (100rb/month) Minuman yang paling sehat ya air putih. Tiap ke restoran, saya seringnya minta air putih, plus di Belanda air gratis karena bisa ambil dari kran. Saat bepergian, beberapa kali saya ngegampangin karena bisa beli, dan selalu nyesel saat nggak bawa botol minum sendiri.
  4. Ngurangin red meat,(200rb/month) : Karena alasan lingkungan dan kesehatan, kami memang sudah sangat mengurangi red meat. Dan memang lumayan kan bisa nyimpennya kalau nggak dipake untuk beli red meat. Kita gantinya dengan tahu tempe ayam atau ikan.
  5. I do not drink out – coffee – tea, no cafe (150rb/ month) : Kita biasanya minum santai di rumah, bisa pilih minuman dan bikin sendiri. Juga dengan suasana lebih homey. Saya nggak ragu untuk mengundang temen ke rumah daripada keluar. Saya juga sudah nggak pernah take away minum lagi.. dont have that as a satisfaction anymore.
  6. Weekly groceries / Meal planning(200rb/month): Kalau yang ini banyak sih manfaatnya selain bisa nyimpen uang juga bisa avoid food waste. Belanja jadi lebih efektif dan efisien.
  7. No longer spend to shoes, etc see if I want to buy no impulse purchases (200rb/month): Sekarang sangat concious untuk belanja, kalau nggak beli baru tapi bener-bener research kainnya, kalau nggak linen ya organic cotton. Atau beli 2nd hand 🙂 Masih berusaha yaaa, not 100% there yet yang jelas sudah sangat sangat kurang dari nafsu belanja jaman dulu.
  8. No movie theater (100rb/month): Ini juga hal yang kita sama sekali nggak pernah lakukan selama ini hahaha somehow kita lebih ngerasa content when we travel or do something new. We do read and learn though, tapi nggak dari movies. Saya kadang masih longing saat ada film yang bener-bener saya pengen nonton model-model yang based on true story gitu, tapi biasanya akhirnya nunggu streaming (sorryyy..)
  9. No longer buy extended cleaning products, no disposable stuff (50rb/month): Masih ada kok sisa-sisa cleaning yang jaman dulu dan masih dipakai. Tapi ke depannya, cleaning product akan hanya disekitaran vinegar, lemon, baking soda dan essential oil. Amaaaaan sehat dan hemat
  10. No conventional face pad and menstrual pad (100rb/month): Sekarang pakai selang seling antara menstrual cup atau cloth pad. Face pad sama sekali nggak pernah pakai karena saya mengubah cleaning routine ke oil yang setelahnya diusap dengan handuk hangat dan soap. Jadi nggak perlu pad lagi 🙂
  11. Cut my own hair (30rb/month average): Yes yes sudah 2-3 tahun belakangan rambut saya selalu dipotong sendiri dirumah, biasanya minta bantuan Damar sih. So we cut each other’s hair. I am happy with it so far 🙂 Karena somehow aku nggak terlalu ngerasa worth it tiap potong rambut di salon.
  12. I don’t use drier untuk nyuci. Clothes last longer (100rb/month): Lebih murah untuk listrik dan untuk nambah umur jangka panjang pakaian. Juga it’s better for the environment.
  13. I don’t buy snacks (100rb/month): Nggak ngerasa pengen atau butuh biasanya.. jaraaaaaangggg super jaraaaang banget hampir nggak pernah. And I dont long for that 🙂
  14. I dont go for gym or yoga classes anymore (500rb-1jt/month): I work out at home. Lebih flexible, pakai youtube aja.. All you need is mat and tablet/laptop for opening youtube.

Belgium Hidup di Belanda Hidup Minimalis Life Travel

Caravan Trip to Ardennes

8th April 2018 - 9 min read

Akhir pekan lalu adalah akhir pekan yang panjang karena libur paskah. Keluarga saya dan keluarga kakak saya memutuskan untuk menyewa camper van untuk perjalanan ke Ardennes, Belgium. Ardennes adalah sebuah region yang terdiri dari wilayah hutan yang luas, medan yang naik turun, bukit yang terbentuk dari fitur geologis pegunungan Ardennes dan cekungan sungai-sungai yang mengelilingi. Perjalanan dari Den Haag tempat kakak saya tinggal memakan waktu sekitar 4 jam. Damar dan saya sudah lama sekali ingin berlibur menggunakan camper van dan begitu pula kakak saya. Perencanaan trip ini lumayan last minute, tapi semuanya berjalan dengan baik.

Soal camper van, katanya setengah populasi orang di Belanda ini punya camper van lho. Makanya jadi pengen nyoba the hype, apa sih yang bikin orang belanda seneng dengan kegiatan ini. Salah satunya ya karena bisa memboyong rumah mereka kemanapun mereka pergi dan tentunya faktor pelit/hemat 😛

Kami bertujuh, 5 adults (saya, damar, adek kami, kakak saya, suaminya) dan 2 anak kecil (anak-anak kakak saya) untuk camper bermuatan 6 orang. Untuk perjalanan pertama menggunakan camper, rasanya semua menyenangkan walau di awal-awal kami perlu benar-benar harus cek bahwa barang di dalam camper aman dan tidak akan bergerak mengikuti laju camper. Kami berangkat pukul 5 sore karena memang peraturan dari camptoo.nl dimana kita menyewa camper, camper hanya boleh dijemput di atas pukul 3 sore. Kebetulan camper yang kami pilih berlokasi di luar kota, jadi perjalanan penjemputan sendiri sudah cukup lama. Camptoo ini kurang lebih memiliki konsep sama dengan snapcar atau airbnb, jadi campernya milik orang dan disewakan saat tidak digunakan.

Di jalan lumayan mati gaya karena nggak bawa banyak mainan. Untung saya bawa buku dan earphone jadi bisa dengar podcast saat yang lain tidur. Setelah 5 jam di jalan, akhirnya kami pun sampai di camping site yang kami sudah book sebelumnya, namanya Parc La Clusure yang terletak di Bure (Tellin). Pemiliknya orang belanda, kami memutuskan menginap disitu karena ratingnya yang bagus plus tempatnya yang friendly untuk anak-anak. Fasilitasnya termasuk kolam renang, play ground di banyak titik, dan lain-lain. Setelah sampai, reception-nya sudah tutup tapi bisa bel dan salah satu dari kru mereka keluar untuk membantu kami cek in sekaligus menjelaskan hal-hal standar soal camp site mereka. Servisnya bagus dan ramah sekali..

Hal pertama yang harus dilakukan saat sampai di camping site adalah mengisi air dan menyambungkan ke listrik. Tujuan untuk mengisi air adalah untuk heating, kamar mandi, dapur, sedangkan menyambungkan listrik adalah untuk penerangan dan juga kulkas (yes mbak Vicka sudah menyiapkan banyak makanan yang pre-cook dari Belanda, jadi bisa runyam kalau sampai bermasalah dengan ini). Listrik oke, karena bisa dengan mudah dicolok di parkiran camper. Tapi karena hari sudah gelap, kami memutuskan untuk tidak pergi ke camper station untuk mengisi air toh juga karena kebetulan tempat sanitasi dekat sekali dari tempat parkir kami. Saat itu kami tidak tahu bahwa air juga berhubungan dengan sistem pemanas. Alhasil, semalaman kami mengginggil kedinginan, untung beberapa dari kami membawa sleeping bag. Lesson learned: Always consider these things! dan karena ini bukan camper kami sendiri, selalu make sure gimana cara kerja hal-hal esensial seperti ini.

DAY  1

Kami bangun lumayan siang hari itu, kayanya masih kecapaian dari perjalanan panjang. Note: Kita nggak boleh tiduran di kasur selama perjalanan walaupun kasurnya lega dan keliatan enak banget ditidurin. Dan karena ada 2 anak-anak yang wajib pake car seat, akhirnya saya, Damar dan Giras duduk dempet-dempetan di kursi yang seharusnya buat 2 orang hahaha. Lelah lah rasa otot-ototnya. Sekitar pukul 09.30 pagi, kami mulai beraktivitas, ada yang mandi, isi air, siapkan makan dll.

Aktivitas hari itu adalah HIKING. Dan ternyata daerah di camping site itu indah sekali, tipikal keindahan Ardennes. Mereka punya rute khusus sejauh 4 km (still okay for kids – Mbak Qila sama dek Dina itungannya hebat, harus selalu disemangatin). Dan kami pun mengikuti rute itu. Bagus banget nget nget ngettttt. Serasa kaya di New Zealand. Beruntung banget pagi itu cuaca cerah dan matahari nggak malu-malu keluar.

Total kira-kira kami berjalan sambil menikmati selama 2-3 jam. Nggak lama setelah kami sampai kembali di camping site, hujan mengguyur dan nggak berhenti-berhenti sampai malam.

Tips: Bawa bekal (minum dan makan), maps, dan extra sunscreen. Rute 4km is super worth it!

DAY 2

Kami berencana ke kota sebelah yang bernama Rochefort yang nggak kalah cantiknya. Disitu terletak gua Grotte de Han yang masih aktif (masih membentuk stalaktit dan stalakmit, juga ditinggali tumbuhan dan binatang) dan menarik sekali karena perjalanan ke gua-nya harus dengan kereta (sudah termasuk di harga tiket). Gua itu adalah hasil dari erosi bawah tanah bukit batu kapur oleh sungai Lesse. Di dalamnya sepertia sungai berliku-liku. Di area ini nggak hanya gua dan jalan kereta yang menarik tapi juga hutannya karena kita bisa melihat banyak binatang-binatang (tiger, babi hutan, beruang dll) yang pastinya dipagari tanpa menghilangkan habitatnya. Safari ini bisa dilakukan berjalan kaki ataupun dengan kereta. Juga ada playground besar untuk anak-anak main. Semuanya happy! Hanya saja hari itu hawanya dingiiiin, sampai saya kembung hahaa.

Caravan-Trip-Ardennes-Hiking

Main di playground

Kami kembali ke penginapan sekitar pukul 7 sore dan dilanjutkan dengan makan dan istirahat untuk siap-siap bangun pagi keesokan harinya. Rencana keesokan hari adalah berfoto dengan camper van di salah satu titik tinggi untuk menunjukkan keindahan alamnya. Kami semua harus bergegas karena peraturan camptoo untuk pengembalian adalah selambat-lambatnya pukul 12 siang. Itu pun kami terlambat dan hasilnya dicharge ekstra satu hari. Peraturan tetep peraturan, ah yasudahlah.. yang penting kami semua have fun!

Tips: Beli tiket di tempat kamu menginap karena lebih murah dan tidak perlu antre.

Caravan-Trip-Ardennes-Grotte-de-Han Caravan-Trip-Ardennes-Grotte-de-Han

Rincian biaya pengeluaran (4 hari 3 malam, 6 people*)

Sewa Camper Van                  : €231
Denda keterlambatan            : € 72
Bensin                                       : € 100
Makan                                       : € 50
Camp Site                                 : € 180
Cave entrance (+safari)         : € 155
Total                                       : € 788

Biaya per hari per orang        : € 43,7

*2 kids dihitung jadi 1

Tips and trick

  • Siapkan makanan dan bahan makanan, kelebihan dari camper van adalah nggak ada maksimal bawa barang. Jadi bebas! Meal planning dan meal prep play a big role untuk berhemat uang dan waktu.
  • Cek cuaca untuk bersiap bawa perbekalan. Sleeping bag akan sangat berguna di waktu-waktu dingin in case heater-nya mati. Kalau cuacanya bagus bisa bawa barbeque, kalau cuacanya jelek bisa bawa ekstra peralatan bersih-bersih haha
  • Bawa lighter untuk menyalakan kompor.
  • Bawa mainan atau time killer (ipod, buku, dll) untuk road trip.
  • Bawa bantal, sprei dan selimut
  • Siapkan wadah untuk sampah
  • Untuk reduce sampah plasti di perjalanan dengan camper: Bawa masing-masing botol minum, cuttlery dan kotak makan untuk bekal. Karena untungnya di dalam camper kami sudah tersedia peralatan makan.
  • Di camping site kami, wifi hanya bisa digunakan oleh satu orang. Bisa bawa router untuk memecah wifi.
  • Pergilah dengan orang yang kamu nyaman, karena lingkupnya bakal disitu-situ aja. Gak banyak tempat untuk escape. So bringing intimate friends or family adalah pilihan yang baik.
  • Bawa sabun cuci piring dan sponge-nya!!!

All in all, it was a very cool experience!!! Selamat mencoba!! I’d say this is one of the things to do before you leave Netherlands 😉

Culinary Hidup Minimalis Life Zero Waste Journey

Current Obsession – Teh jahe lemon

25th March 2018 - 3 min read

My current obsession nowadays adalah Ginger Lemon tea atau teh jahe lemon. Awalnya gara-gara liat salah satu blogger/vlogger/business woman favorit saya, Mimi Ikonn yang selalu minum Ginger Lemon tea. Jadi terinspirasi karena sebenarnya dua hal ini adalah dua hal yang selalu ada di rumah. Awalnya saya ngira minum teh ini setiap pagi hanya untuk menyegarkan diri. Super mudah untuk dipersiapkan, tetapi juga memberi banyak manfaat kesehatan. Dan begitu baca manfaatnya, saya lebih yakin lagi untuk mencoba dan menjadikannya rutin. Dan ternyata enakk.. Awalnya saya taruh jahenya pelit2 gitu, tapi ternyata jahenya kurang kerasa. Setelah saya ambil agak gedean plus digeprek, rasa jahenya lebih keluar dan enak banget di tenggorokan. Dan satu lagi saya tambahin madu..

Benefitnya*:

  • Meringankan gejala pilek dan flu. Semua bahan ini memiliki kualitas obat alami mereka sendiri dan ketika dikombinasikan akan menjadi teh yang menenangkan dan santai yang dapat meredakan gejala dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
  • Jahe bisa membantu mencegah pembekuan darah dan mengurangi kolesterol. Ini dapat membantu melawan penyakit jantung, di mana pembuluh darah menjadi tersumbat dan menyebabkan stroke atau serangan jantung.
  • Jahe dapat membantu mencegah atau mengobati muntah dan mual. Ini juga digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang terkait dengan perut. Bisa meringankan perut yang upset.
  • Ketika ditambahkan ke teh, jus lemon dapat memberikan banyak manfaat kesehatan. Jus lemon adalah sumber vitamin C yang baik, vitamin yang larut dalam air yang membantu menyembuhkan luka dan memperbaiki serta memelihara tulang dan gigi. Sebagai antioksidan, vitamin C membantu melawan molekul jahat yang disebut radikal bebas yang merusak DNA dan dapat berkontribusi pada pengembangan masalah kesehatan, termasuk kanker, arthritis dan penyakit jantung.
  • Untuk meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Lemon mengandung bioflavonoid yang membantu mempertahankan kadar vitamin C yang cukup di setiap sel tubuh Anda.
  • Improves mood and concentration
  • Helps improve liver function
http://www.stylecraze.com/articles/benefits-of-lemon-ginger-tea-for-skin-hair-and-health/#gref
http://healthyeating.sfgate.com/health-benefits-ginger-lemon-honey-tea-10658.html
http://www.vegkitchen.com/tips/
https://www.organicfacts.net/health-benefits/beverage
Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Hal-hal yang saya berhenti membeli

25th March 2018 - 6 min read

Beberapa barang yang saya sudah nggak lagi beli, karena saya sadar itu sebenernya nggak terlalu penting dan butuh untuk saya. Dan mungkin juga nggak terlalu kalian butuhkan. Karena bahwasanya hidup secukupnya itu enteng dan membahagiakan….

 1. The “shoulds”

Banyak miskonsepsi soal apa yang membuat rumah menjadi ‘rumah’. Seperti harus ada TV, CD player, PS, harus punya banyak macam sprei, sandal rumah, gelas piring fancy untuk tamu dll. Dont buy things because you SHOULD. Well I did it and I learnt from it. Hanya soal waktu kami akan menjual tv di rumah kami. Karena intensitas pemakaian hanya sedikit dan di waktu luang biasanya kalau nggak sibuk dengan laptop kami masing-masing, kami keluar rumah atau have people over untuk ngobrol.

Soal bathrobes, sprei, lap dan lain-lain, to be honest dua itu cukupWith a good quality ones, karena yang kita perlukan hanyalah pengganti saat yang satu lagi dicuci. That is all! Bener nggak? And dont buy things that won’t last. Go for a better quality.

2. Duplicates

Lima gunting, dua peelers, dua handphone (yang mungkin satunya udah nggak kerja), empat bathrobes. Seringnya kita beli barang baru tanpa clear out dulu barang yang lama (yang udah rusak atau bahkan yang kita nggak tau di dalam rumah). Kadang kita mikir, ah saya nggak punya gunting, padahal ada dan kamu lupa karena jarang banget dipake atau mungkin kamu kira hilang. When you have less stuff, this thing won’t happen.

Kalau misalnya ada barang di rumah yang udah rusak, throw it or better yet find another home for it before you get a new stuff.

3. Spur of the moment – Diskonan

Dulu jaman kuliah, saya kerjaannya berburu diskonan. Masuk ke toko nggak jelas apa yang mau dibeli, justifikasi bahwa saya memerlukan sesuatu yang sebenernya saya nggak perlukan demi kebahagiaan sesaat. Hafal banget waktu-waktu diskon pada jamannya mulai dari H&M, Zara, River Island, dan macam-macam toko lainnya. Sekarang saya udah sama sekali nggak ngerti kalau ditanya sama mama (karena mama suka sekali dengan fashion dan bajunya buanyak banget – kemungkinan besar memang saya ketularan hehe). Dan saya nggak ngerasa terbebani dengan pakai barang-barang sama setiap hari. Mungkin itu salah satu kelebihan tinggal di luar negeri karena social pressure yang rendah, walaupun akhirnya saya percaya itu semua pilihan ya. Saya beruntung bisa adapt dengan kebiasan yang menurut saya baik ini.

Untuk tetap mendapatkan diskonan, biasanya saya list barang yang saya dan Damar perlukan. Biasanya kalau ini menyangkut barang-barang yang tingkat ke-urgensi-annya rendah seperti jaket gunung, alat camping, baju dalem dll. Saya termasuk tipe orang yang pemikir banget kalau beli-beli sesuatu kadang suka kesel ke diri sendiri karena jadi lama banget kalau harus belanja atau milih sesuatu, tapi sebenarnya itu blessing in disguise karena saya selalu mikir berkali-kali untuk membeli sesuatu yang baru. Akan banyak pertimbangan sekarang-sekarang ini untuk membeli sesuatu yang baru.

4. Cleaning products

Banyak macam-macam tipe pembersih. Perusahaan-perusahaan itu menciptakan perbedaan ‘fungsi’ untuk berjualan, bukan karena kita perlu. I stick with standard all purpose cleaning (vinegar – resep disini) dan pembersih untuk marble+batu.

5. Ingredients buat di dapur yang nggak ngerti kegunaannya

Being adventurous is nice. Ini bicara pengalaman banget sih, karena kalau ke toko kadang liat barang diskonan dan mata jadi ijo walaupun nggak ngerti barang itu buat apa. Jadi sekarang biasanya saya beli yang super basic, food ingredients I know I will use. Karena akhirnya akan berakhir di tong sampah saat sudah kadaluarsa. Saya jadi inget punya garam masala yang harus saya pakai sebelum kadaluarsa. Dulu beli ini karena it sounds really indian dan padahal untuk bikin makanan india nggak harus selalu perlu spice itu. Always do a proper research before picking things up from Supermarket shelves. 

6. Fancy tech things

Kalau kalian perlu hal ini untuk pekerjaan kalian, it’s okay. Karena barang itu akan serves its purpose dengan baik. Tapi kalau nggak butuh dan bahkan nggak tau cara pakainya, baiknya dihindari. Kalau kalian nggak terlalu into photography, why buy something expensive. Maksimalkan apa yang kita punya dulu, mungkin dengan Iphone dan belajar dari situ dulu sekalian mencoba apakah kita bener-bener suka dengan itu.

7. Fun Kitchen Gadget

They’re fun, but how often do we use it. I also stop giving people that.

8. A million make up products or brushes

Make up di tas make up saya hanya ada eyeshadow pallete, blush on, eyeliner, concealer, lipstik, mascara dan brush untuk eyeshadow. Udah itu aja dan nggak berencana untuk beli lebih. Semuanya satu kecuali lipstik (4 biji), because why do you need more? 

Indonesian minimalist

Semoga menginspirasi untuk lebih selektif mengurangi barang dan fokus ke what is important 🙂

Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Hal-hal yang bisa disingkirkan untuk hidup Minimalis

15th March 2018 - 6 min read

Buat saya, minimalis bukan tentang berapa banyak atau sedikit hal yang kita miliki. Bukan juga soal memaksakan diri kita untuk let go sesuatu yang berarti untuk kita. Nggak ada yang salah dengan punya barang karena beberapa hal membuat hidup lebih mudah, lebih indah, lebih bahagia, dan lebih nyaman.

Tapi hal yang perlu dimiliki oleh kita adalah kesadaran. Sadar akan prioritas dan sadar saat membuat keputusan untuk menyimpan barang, karena salah-salah bisa jadi kita yang dikuasai oleh barang. Tiba-tiba aja rumah bisa jadi penuh dengan barang-barang yang nggak terpakai dan hal-hal yang nggak punya value ke kehidupan kita. Barang semakin bertambah banyak dan tanpa kita tau kita nggak punya cukup tempat.

Setelah ngobrol-ngobrol sama beberapa temen, ternyata banyak juga yang kepengen simplify hidupnya tapi bingung mulai darimana. Untuk saya, saya ngerasa setiap saya pindah rumah, itu adalah momentum untuk mengurangi volume barang yang dipindahkan. Tapi yang penting, tujuannya sudah diset dari awal bahwa pengurangan barang ini akan dimaintain kedepannya.

Kalau emang nggak ada momentum pindahan, mulailah dari tempat yang paling mudah. Kenali hal-hal yang kita yakin nggak menambah nilai di kehidupan kita. Contohnya: lemari yang berantakan dengan sprei dan handuk yang berbeda-beda warna, kenali sebenernya berapa handuk dan sprei yang bener-bener kita perlukan dan kita gunakan. Utilities ekstra di dapur yang sudah tak tersentuh selama bertahun-tahun, berapa banyak piring dan mangkuk yang benar-benar kita butuhkan? Saya baru nyadar kemarin ini bahwa saya sebenernya nggak perlu punya 3 set (x6) piring dan mangkuk di rumah, akhirnya saya kasih ke temen yang kebetulan memerlukan. Dulu tujuan awalnya adalah jaga-jaga kalau ada tamu, but as a matter of fact seberapa sering ada tamu datang dengan jumlah 3 set perangkat makanan. Pun kalau misalnya bener terjadi kita bisa bekerja sama dengan temen deket atau tamu untuk meminjamkan alat mereka.

Saya ngerasa saat saya punya lebih sedikit barang atau at least barang-barang yang bener-bener berarti buat saya, ada perasaan lega karena saya tau apa yang saya punya dan saya benar-benar menggunakan sesuai fungsinya. Perasaan light atau enteng juga jadi salah satu alesan kenapa saya pengen berhidup minimalis.  Rasanya jauh dari suffocated. Dulu waktu saya kuliah, saya bener-bener kebalikannya, kerjaannya beli baju tiap minggu dan selalu nongkrongin toko-toko. Hidup jadi dipusingkan oleh hal-hal yang sebenernya nggak necessary, mulai dari bingung mau naruh baju dimana, beberes lemari yang akhirnya jadi berantakan lagi, mau pake baju apa dan sebagainya.

Juga dari punya yang seperlunya dan hidup sederhana, saya ngerasa belajar untuk nggak attach terhadap benda..

So, let’s get started dari hal yang paling kecil dan mudah dulu.

Getting started is freeing. Amid an endless sea of stuff, simplfying our lives keeps us from drowning.

Memulai adalah membebaskan. Di tengah lautan yang tak ada habisnya, menyederhanakan hidup kita membuat kita tidak tenggelam.

Saya paham banget bahwa memulai adalah hal yang paling exciting tapi juga yang paling susah dikerjakan, karena tanpa panduan yang jelas memang akan membingungkan. Berikut, sedikit rincian barang-barang yang bisa kita get rid of untuk memulai hidup minimalis:

Barang yang kita nggak tahu kegunaannya

Sadar nggak sih kita tuh suka nyimpenin barang-barang yang aneh-aneh yang kadang kita juga nggak tahu esensinya apa. Kayak tempat koin yang lucu-lucu atau alat elektronik murah. Biasanya beranggapan, suatu hari nanti akan butuh, jadi disimpen aja. Padahal saat kita nggak tahu kapan mau pake atau bahkan ga tau kegunannya apa, chances are nggak bakal kepake juga di bulan-bulan ke depan.

Baju yang bikin kita nggak comfortable dan udah lama nggak dipake

Kalau baju yang kita punya nggak bikin kita ngerasa comfort atau cantik, baju itu nggak akan berubah jadi bagus any other day. Kita nggak bakal lebih tinggi, lebih pendek, lebih gendut atau lebih kurus untuk fit baju yang kita punya. Better to donate this.

Kado yang kita kurang perlu atau kurang suka

Sama kayak yang dibilang Marie Kondo, bagian ini adalah bagian yang paling susah. Kita suka ngerasa jahat karena nggak menghargai effort orang yang kasih barang ke kita. Sedangkan tujuan mereka memberi kado adalah membuat kita happy dan menunjukkan perhatiannya. Tapi kalau kadonya malah berbuat kebalikannya karena jadi makan tempat atau kita nggak butuh, mending dikasih ke orang lain supaya kadonya bisa fulfill its purpose for other people. Dan juga sebenernya esensi dari pemberian kado sudah tersampaikan dengan baik, kita jadi tahu bahwa temen kita sayang sama kita.

Barang yang udah rusak

Kalau barang udah rusak, coba dicek bisa dibenerin atau dijual nggak. Dulu saya sering tuh kalau ada barang rusak bakal saya simpen-simpen aja sampai masanya datang, nunggu-nunggu sampai ada orang lain di deket kita yang perlu. Kalau kaya gini mendingan dijual aja. Nggak cuma membebankan energi pikiran tapi juga bisa dapat ekstra uang saku.

Old magazines

Ini juga nih salah satu biangnya. Rasanya suka sayang aja gitu untuk membuang atau mendonasikan majalah-majalah lama yang sudah kita baca. Kadang pengennya adalah dibaca lagi di masa depan tapi biasanya, berbicara dari pengalaman, saya jaraaaanggg banget baca lagi. Biasanya numpuk ajah yang akhirnya jadi berdebu.

All ini all yang paling menyenangkan saat punya barang secukupnya adalah so easy to move out or travel because you just need to pack up your bag. At the end, I want things that fit me, I don’t want myself that fit things.

Less stuff means I need less space, less cleaning, less maintenance=more time, more money, more freedom

 

Hidup di Belanda Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Toko bekas – A way to reduce waste

20th January 2018 - 6 min read

Ketika saya memutuskan untuk lebih concious mengurangi sampah, maka saat itulah saya tahu bahwa saya pun harus merubah kebiasaan belanja saya. Baik itu pakaian atau barang-barang rumah tangga.

Di Belanda ini pengolahan barang bekasnya relatif teratur, bahkan ada toko-toko bekas yang dikelola pemerintah. Selain yang dikelola pemerintah, banyak juga yang dikelola perseorangan. Bentuknya pun beragam, dari yang serba murah sampe yang curated dan fancy yang harganya di atas rata-rata barang bekas. Biasanya pilihan pertama untuk menyingkirkan barang-barang adalah titip jual ke platform-platform online. Cara lain dan biasanya cara terakhir adalah kalau nggak donasi, bisa drop ke second hand shop (secara cuma-cuma). For your info, di Belanda barang-barang yang ditaruh di donation bin (ada dimana-mana di Belanda khususnya untuk tekstil) suka end up ke toko bekas juga tapi pemerintah minta bagian untuk kemudian uangnya diputar kembali. Tujuan akhirnya tetap untuk kesejahteraan rakyat mereka, terutama yang kurang mampu. Karena toko bekas itu adalah source terakhir, jadi pilihan barang-barangnya memang nggak semua bagus, tapi kalau teliti dan beruntung bisa dapet barang yang keren dan unik yang nggak pasaran.

Impression dari toko bekas biasanya dari baunya, yang agak berdebu-debu sedep gitu. Which is orang-orang kebanyakan nggak prefer. Tapi kalau dipikir-pikir, agak sedih juga yaa bahwa orang-orang (termasuk saya sendiri) mengasosiasikan bau plastik dengan hal baru. Tapi itulah realitanya dengan konsumerisme jaman sekarang, orang lebih suka berbelanja di toko yang berbau plastik karena baunya berhubungan dengan hal baru. Menurut saya bau toko bekas itu kayak rumah yang udah nggak ditinggalin lama which has so many history in it. Kalau kata ‘bekas’ agak annoying, sebut aja ‘vintage‘. Somehow, reputasi kata ‘vintage‘ lebih baik dari kata bekas 🙂

Pergi ke toko barang bekas bisa bikin kerasa overwhelming bagi banyak orang (termasuk juga saya dulu) tapi saya punya beberapa pengalaman belanja bekas yang terbilang lumayan sukses, jadi saya akan bagikan tips-tipsnya. Beberapa hari yang lalu saya dapet tea pot lucu banget yang selama ini saya idam-idamkan heheh.. Yang paling saya sukai dari belanja di toko bekas adalah bisa berburu yang unik-unik, harga minimal, dan ngurangin carbon footprint.
Semoga bermanfaat yaaa..

  1. Dateng dengan tujuan

    Pas saya kuliah dulu saya suka mengunjungi toko second hand/toko bekas/thrift shop atau dalam bahasa belanda kringloop. Dulu pas masi pecicilan gitu alesannya cuma satu, pengen lihat-lihat dan kalau ada yang bagus pasti beli (padahal gak butuh). Akhirnya barang-barang itu cuma kepake sekali, 2 kali dan jadi piled up di rumah. Dateng tanpa tujuan hanya akan bikin overwhelmed dan berpotensi terjadinya impulsive buying. Jadi, jangan beli cuma karena murah. Kalau bisa, list barang-barang yang perlu dan jangan keburu-keburu. Disitulah art-nya belanja di toko bekas.

  2. Tentukan Budget

    Tentukan harga dari barang yang kamu beli. More or less nggak masalah. Bikin budget dari awal bakal ngerem kita untuk beli barang keburu-buru.

  3. Cuci dulu sebelum pakai

    This is a rule of thumb yang harus kudu banget dilakukan demi kebersihan dan antisipasi gatel-gatel.

  4. Puterin tempatnya yang lama, take your time

    Toko barang bekas penuh dengan harta karun tersembunyi yang kita nggak mau lewatin gitu aja.

  5. Don’t be afraid to walk out empty handed

    Remember, secondhand shopping takes time, dedication and patience. Tapi apapun itu, jangan takut keluar toko tanpa barang. Satu barang yang bisa dipake berkali-kali jauh lebih baik daripada beli 3 barang yang cuma akan dipakai sekali.

  6. Keep an open mind. 

    Kadang lingkungan memberi dampak ke bagaimana sebuah barang akan terlihat. Beri kesempatan dan lihat secara teliti barang-barang yang ada di depan kamu. It might be a big treasure without being noticed.

  7. Bawa tas kain gede

    Biasanya toko bekas nggak nyediain ‘cart’ atau trolley. Jadi tas kain gede akan berfungsi sebagai keranjang. Ini akan bikin kalian bisa lebih fokus berburu daripada harus bingung taruh barang di lengan.

  8. Pakai baju yang lumayan ngepas

    Mungkin untuk yang berjilbab bisa pakai baju pas di dalem kemudian baju yang gedenya diluar. Jadi gampang lepasinnya. Supaya gampang nyoba-nyoba dan ga perlu bolak balik ke kamar pas. Walaupun sampai saat ini belum pernah ke toko bekas yang ada kamar pasnya. Juga pakai sepatu yang gampang pakai lepasnya untuk coba-coba.

  9. Check the size and tag carefully

    Thrift stores terima banyak donasi dari orang-orang, bisa baru ataupun lama. Jadi ukurannya bisa dari negara beda-beda dan ukurannya pun juga beda-beda standarnya. Walaupun tokonya di Eropa belum tentu ukurannya dengan standar eropa.

     

    Toko bekas - A way to reduce waste Toko bekas - A way to reduce waste

Hidup Minimalis Zero Waste Journey

Beginner’s guide to ‘zero waste’ living

7th January 2018 - 4 min read

Saya masih sangat super jauh dari ‘zero waste’ living. Tapi yang namanya merubah lifestyle nggak akan pernah bisa terjadi overnight. Beberapa hari yang lalu saat saya post di insta story mengenai post pertama saya mengenai zero waste, ternyata ada banyak teman yang juga tertarik. Saya jadi belajar bahwa sebenernya ini bukan persoalan baru, banyak yang tertarik tapi nggak tau mau mulai darimana dan bahkan ngerasa bersalah karena hidupnya masih jauh dari zero waste. Tapi bukan berarti karena nggak beli beras grosiran terus jadi sekalian belanja pakai plastik dan selalu beli botol minum. In fact, it’s all process and we just have to start somewhere. 

Jadi untuk saya sendiri atau kalian yang mulai tertarik dengan ‘zero waste’ or ‘less waste’ living, tanamkan di kepala hal-hal ini:

Cari the ‘WHY‘ (alesan kenapa kita pengen ‘zero waste’ living)

Banyak banget macam alesan yang bikin kita tertarik dengan zero waste living. Kalau saya, walaupun bukan surfers atau divers, saya lumayan aware dengan sampah-sampah yang berakhir di laut. Dari laut juga manusia bertahan hidup dengan konsumsinya, kembalinya akan ke kita-kita juga. Sedih juga dengan global warming in general yang lagi menyerang bumi akibat ulah manusia. I want my kids to still see what I see today. Kalau aja kita bisa lebih mindful dalam berperilaku dan lebih mengedukasi diri sendiri soal baik buruknya akan sesuatu, mungkin kerusakan itu akan melambat.

Apapun alasannya, find one you can always go back to!

Make a decision 

First step to anything is just to decide to do it. That’s a starting point of everything! We’ll never get ready to anything 100%, we just have to decide to do it.

Research gimana recycle, donasi, atau menjual barang-barang lama kita

Goal kita semua adalah ‘zero waste‘ jadi jangan dimulai dengan ngebuang semua barang yang udah lama di tempat sampah. Nggak perlu mulai dari nol. Saya masih pakai tas-tas plastik yang saya simpan dulu untuk digunakan kembali. Recycle sebisa kita, donasikan barang yang sudah ngga perlu atau hadiah yang nggak terpakai. Cari cara dimana sebaiknya mendonasi atau menjual barang-barang lama kamu untuk mencegah end-up di landfills.

Cek tempat sampah kamu

Tujuan utamanya sih supaya jadi tau sebenernya sampah macam apa yang paling banyak kita buat. Di kasus saya sudah pasti dari dapur, dari bahan-bahan makanan. Dari situ saya fokus untuk selektif ke masalah belanja mingguan.

Kalau misalnya kalian sering banget take out kopi atau makanan, mungkin bisa beli reusable mug atau meal prepping supaya nggak sering jajan, atau bawa container sendiri. Untuk product junkie, mungkin bisa cari alternatif lain untuk fulfill ‘kebutuhannya’ yang lebih sustainable. Kalau misalnya suka beli perintilan atau baju atau aksesoris, bisa mulai lihat-lihat pilihan toko bekas di flea markt atau second hand store. Dengan ini kita jadi bisa tahu dan memulai perlahan dari prioritas kita nomor satu.

Hidup Minimalis Self growth Zero Waste Journey

Belanja grocery menuju ‘zero waste’

6th January 2018 - 4 min read

Sampah harian yang paling besar asalnya dari rumah tangga alias dapur. Karena itu, untuk mengurangi sampah rumah tangga, sebisa mungkin kurangin jumlah sampah yang berasal dari belanjaan. Dari sinilah pentingnya daftar belanja karena selain untuk menghindari belanja yang nggak perlu, dengan daftar belanja kita bisa siapin kemasan atau kantong dari rumah.

Biasanya saya belanja mingguan setiap hari Sabtu. Bedanya hari ini saya kembali lagi ke Pasar setelah sekian lama. Usahakan memang sebisa mungkin memilih pasar sebagai pengganti pergi ke supermaket. Kalau bisa ke Farmer market/ Pasar Petani, hanya aja belum ada regular farmer market di daerah rumah saya. Ini bakalan lebih effort sih karena Supermarket dan toko-toko lain hanya sejengkal dari rumah saya sedangkan ke pasar perlu waktu sedikit lebih lama (5 menit naik sepeda). Jadi tadi akhirnya saya ke beberapa tempat yang berbeda, ke pasar, ke supermarket dan toko turki. Mungkin minggu-minggu selanjutnya saya akan stick dengan toko turki dan supermarket. Kalau memang mau ke Pasar akan sekalian ke Farmer market.

Inilah tips-tips yang nggak terlalu ekstrim yang juga bisa digunakan untuk memulai belanja  dengan ‘zero waste‘:

1. Bawa +- 2 tas kain besar

Untuk barang-barang besar seperti sayur dan buah bisa langsung masuk ke tas kain besar.

2. Bawa +- 3 tas kain kecil-kecil

Tas kain kecil-kecil ini fungsinya untuk memuat belanjaan yang loose seperti kacang-kacangan, bawang-bawangan atau buah yang kecil-kecil tapi kering (anggur, jeruk mandarin, leci, dsb). Dalam hal ini buah yang gampang berair kayak berries memang agak tricky. Kalau belinya sudah harus pak-pak-an kita jadi nggak punya pilihan lain, tapi kalau dijual loose bisa pakai container dari rumah (liat di poin berikutnya).

3. Bawa lap rumah (cloth atau napkin) yang bersih

Fungsinya untuk meng-cover roti, kacang-kacangan atau belanjaan kecil kering yang butuh untuk dipisahkan

4. Bawa container gelas atau plastik high quality

Ini fungsinya untuk menaruh jajanan-jajanan atau barang-barang basah yang kita beli. Bisa sebagai pengganti tas-tas kecil atau napkin. Nah kekurangannya adalah container ini terbuat dari gelas yang cenderung menambah ekstra berat dari belanjaan kita. Kalau nggak salah jaman sekarang di Indonesia ada brand yang ngasih jaminan wadah plastik seumur hidup, jadi mereka menerima wadah yang sudah rusak dan menukarnya dengan yang baru. Wadah yang rusak akan didaur ulang menjadi wadah baru. Salah satu contoh yang saya tahu adalah twin tulipware. Nggak tahu sekarang masih atau enggak, bisa dicek di web mereka.

5. Bawa tas plastik bekas yang ada di rumah

Karena saya masih super duper pemula jadi saya masih punya simpanan plastik-plastik di rumah. Dan memang masih suka lupa untuk menghentikan penjual-penjual untuk nggak secara otomatis ngepakin dengan plastik. Biasanya plastik ini dibawa untuk mewadahi daging, ayam, ikan atau belanjaan yang basah.

Belanja kali ini masih jauh dari sempurna. Tapi yang jelas saat saya bikin ‘decision‘ untuk menuju ‘zero waste‘ saya jadi lebih mindful belanjanya. Untungnya di Belanda proses recycle gelas dan karton/kertasnya bagus. Jadi walaupun sebisa mungkin menghindari, kalau masih kebeli pun lega juga karena tau akan direcycle dengan baik.

Pada awalnya memang terasa lebih merepotkan. Contohnya untuk nggak keduluan penjual ngepakin di plastik. Perlu kelihaian untuk cepat tanggap dan menyodorkan wadah kita. Mungkin juga cara menimbang yang aneh ini membuat penjual agak malas melayani karena menyita waktunya. Juga kasir yang ngeliriki karena mereka nimbangnya jadi ribet. Salah satu caranya kalau di pasar lihat-lihat dan pilih penjual yang sedang tidak melayani banyak pembeli.

Selamat belanja!