Finance Hidup Minimalis

Pengalaman Investasi

22nd August 2019 - 6 min read

Setelah kemarin sempat membahas mengenai relevansi antara finansial dan hidup minimalis, next thing is what to do with the extra money saved. Untuk saya intinya adalah dialokasikan ke hal yang lebih prioritas. Prioritas bisa sangat berbeda-beda tiap orang, untuk aku sendiri bisa ke hal-hal seperti travel, sedekah, juga investasi.

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering aku terima begitu membahas mengenai finansial. Investasi kah? Kalau iya, investasi kemana?

Tabungan itu adalah suatu hal yang tidak dapat diganggu gugat setiap bulannya. Kami menargetkan sekitar 10-30% tergantung kewajiban yang harus dijalani di bulan tersebut. Tapi kadang sisa dari pengeluaran di bulan itu, juga menjadi sumber dari uang yang kami masukan ke pos investasi.

Aku akan sharing berdasarkan pengalaman aku dan Damar, kemana-mana saja mengalokasikan tabungan kami untuk berinvestasi. Sebagai milenial di jaman sekarang dimana lifestlye bisa disalah artikan dan jadi prioritas utama, kita harus banget membuat target finansial dan rencana dimana kita akan berinvestasi, karena membiarkan di bank saja tidak cukup. By the way, berdagang juga bisa jadi moda investasi lho, dan disini saya pun melakukannya.

Sebelum mulai, ada 2 macam investasi, yaitu Physical Investment dan Financial Investment.

Physical Investment – Berwujud, contohnya rumah, emas batangan, lukisan, tanah, dan lain-lain
Financial Investment – Tidak berwujud, atau terkadang berbentuk surat atau kertas, contohnya Saham, Reksadana, Forex, peer to peer landing, Surat hutang dan lain-lain

Kebetulan keduanya kami lakukan. Untuk physical investment kami alhamdulillah ada rumah dan untuk financial investment kami mencoba beberapa hal berikut

  1. Deposito
  2. Surat hutang negara
  3. Reksadana
  4. Saham.

Kenapa kami nyoba beberapa hal? karena kami ingin mencoba-coba mana yang paling cocok dengan kebutuhan kami. Dan ke-4-nya memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kira-kira pros dan cons-nya seperti ini.

PROS CONS
Deposito Pasti, Bisa dilakukan kapan aja, Dijamin oleh bank yang kemudian
ditanggung pemerintah, , Mudah, Bisa di roll over
Bisa diambil saat jatuh tempo (bisa milih kapan harus diambil, semakin lama,
semakin banyak return-nya),
Riba masih tidak jelas statusnya
Surat Utang Negara Pasti, Hanya bisa dilakukan di waktu tertentu, Dijamin oleh negara,
Bunga lebih tinggi dari deposito – bisa memilih pilihan syariah (SUKUK)
Uang di keep 2 tahun
Reksadana Diversifikasi risk lebih mudah, bisa dicairkan kapan saja,
return untuk jangka panjang
Harus memilih produk yang sesuai
Saham High risk – High Return Agak ribet untuk set up account
Rumah Property value cenderung akan selalu naik, bisa disewakan High investment, tidak dapat diprediksi, perlu cost untuk maintain,
absen-nya penyewa

Beberapa hal untuk dijadikan pertimbangan adalah latar belakang dari dimana kita menginvestasikan (perusahannya, banknya dll) apakah memiliki rating dan sejarah yang baik atau tidak. Disini aku tidak akan membahas mengenai perdebatan riba dan kaitan perusahaan-perusahaan yang kami pinjami uang dengan apakah mereka korupsi, apakah mereka do something good for the society yang berhubungan dengan gaya hidup yang aku anut, karena ini riset pribadi dan juga menggunakan feeling/instinct. Saat kalian tidak merasa benar atau tidak tenang, jangan dilakukan!

Di post kali ini aku ingin cerita salah satu instrumen yang relatif ramah, yaitu Reksadana. Uang bisa dicairkan kapan saja, return cukup okay dibanding deposito plus kamu juga tidak perlu untuk terus monitor.

Tapi pertama-tama, tujuan berinvestasi itu penting. Buat apa dan untuk jangka waktu berapa lama kita harus tahu. Kita harus bisa bedakan yang namanya main dan nabung saham. Reksadana itu lebih tepat disebut dengan menabung, tapi memang keuntungannya per bulan tidak seberapa. Kalau untuk short term dan high investment, main saham saja, tapi harus ada deep knowledge mengenai ini, harus ngerti banget dan banyak waktu untuk mantau juga banyak uang di awal. Kalau Reksadana, dipercayakan ke asset manager (manajer investasi) yang punya waktu dan pengetahuan.

Reksadana is not for everyone. Karena ini untuk orang-orang yang punya tujuan investasi memang untuk di masa depan. Harus sabar dan jangan gatel untuk dicairin. Uangnya memang bukan untuk sekarang, tapi untuk 5 tahun bahkan 10 tahun kedepan.

Dimana belinya Reksadana?

Bisa ke kantor manajer investasi (tapi cabangnya tidak banyak), ke bank atau online. Enaknya kalau online itu bisa diakses kapan aja dan mudah. Sekarang ada banyak banget platform diluaran sana yang menawarkan jasa penjualan reksadana, tapi saat dilihat-lihat banyak banget pilihan produknya jadi bingung sendiri. Terus kebanyakan perlu modal paling nggak 100rb, sampai akhirnya menemukan si Ajaib. Dia bentukannya aplikasi, sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK & Kemkominfo, bisa mulai investasi dengan minimum modal awal sebesar Rp 10.000 lewat proses pembukaan akun online hanya dalam 1 menit!

Bekerjasama dengan manajer investasi terbaik yang berpengalaman lebih dari 20 tahun, tanpa biaya pembukaan akun, tanpa biaya proses pembelian, penjualan dan pengalihan dan yang paling enak itu ada fitur live chat dengan ahli keuangan Ajaib.

Kalian bisa pakai referral code ku – muri912

Dengan kode referral ku kalian bisa mendapat 10rb ekstra, dan aku bisa main di ‘magic carpet’ dengan kemungkinan mendapatkan 10rb-1juta reksadana gratis.

Apa yang masih aku gunakan sekarang setelah mencoba?

Surat Utang Negara, Reksadana dan Rumah.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply