Browsing Category

Love life

Europe Hidup di Belanda Love life Netherlands

Marriage life

5th August 2016 - 5 min read

Most people ask about how does it feel to be married. It just sounds to me like a very excessive step to do in life by how people perceive and by the kind of inquiries asked in regards of handling marriage. I was worried in the beginning as when people ask the very first question after getting married, I thought there was something wrong with my answer that was always as flat as a pancake. My answer was around ‘it’s okay, it’s good, it’s  nice‘. I mean, don’t get me wrong, I still consider getting hitched, especially with Damar, as the best decision I have ever made by far. But, seems like the word ‘marry‘ is by nature a burden for a lot of people. And to be honest, I don’t think it should be seen that way. No doubt that getting married meaning you will spend the rest of your life with this one (supposedly special) person, but the process of selection has passed, decision is made, so being married is about walking the dreams, giving effort in loving each other, being our true self with at the same time, respecting one another. I don’t think getting married should stop doing what you like or start doing something you don’t like, unless we are willing to do it , noted: not only for our spouse but for ourselves. Nothing should be a strain when we do it sincerely with the aim of making the marriage work, again, not for anybody but yourself. Hence, I do not sense any force to abandon something.

It should be each other’s responsibility to put efforts in the process of understanding and actually, I do think discovering something new in the blastoff married phase is very much intriguing. As intriguing as finding out Damar does not like to close something he opens (drawer, tooth paste tube, etc) *eyeroll*. But I told him my dislike for the habit, and he has tried to correct it, no nagging involved! Because I trust him that he is trying. It is absolutely something that needs to be cherished, as the moment of such kind will not necessarily re-occur in the future.

Ok, so I think I know what to answer for the next person who asks me how does it feel to get married, “nothing much change, only everything becomes nicer. Feels good to know I have someone worth going home to” .  And plus, I wake up in every morning willing to be a better person, for me, for Damar, for us.

 

WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.22.10 WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.22.08 (1)WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.22.08 WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.21.40 WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.21.32WhatsApp Image 2016-08-02 at 23.21.39

 

*the above post-wedding pictures were taken during our first Ramadhan together (June, 2016). Our goal is to take capture good moments of two of use and dismiss the opinion that ‘pre-wedding’ picture should only be taken prior to the wedding.

Asia Indonesia Love life Wedding Series

Wedding Series part 12 END – Resepsi

3rd July 2016 - 9 min read

22 May 2016

Untuk acara Resepsi, kami sengaja adakan di malam hari tepatnya di hari yang sama dengan Akad Nikah. Banyak orang yang punya pertimbangan lain untuk melangsungkan resepsi di hari lain, contohnya agar nggak terlalu capek. Kalau saya dan keluarga malah kebalikannya, kami pikir lebih baik capek dimaksimalkan dalam satu hari, biar setelahnya sudah lega dan bisa istirahat tanpa pikiran. Konsekuensinya adalah, lumayan hectic  jadinya, karena acara Akad Nikah baru benar-benar selesai pukul 12.30. Sedangkan saya harus menghapus make up sebersih-bersihnya dan keramas hingga hair spray dari sasakan konde nggak bersisa. Kira-kira pergulatan itu memakan waktu sekitar satu jam. Kemudian saya harus sudah kembali ke gedung karena janjian sama mbak Joice (Make up artist) pukul 14.00. Saat Damar masih santai-santai dan tidur siang (bersama Bapak di rumah joglo lol), saya sudah harus bergegas lari-larian ke gedung acara.

Untuk make- up tes dengan mbak Joice sudah seminggu lalu dan happy banget sama riasannya yang flawless. Jadi udah nggak ada perasaan ragu. Biaya MUA emang nggak murah, tapi saya dari awal sudah mikir bahwa selain catering, MUA adalah hal yang worth investing. Gimana enggak, kan harus menghadapi tamu semalaman dan senyum harus menyungging selalu, jadi riasan merupakan sesuatu yang harus tahan lama dan bikin pede.  Jadi, soal make-up saya sudah tenang dan percaya hasilnya pasti bagus hihi. Yang bikin saya kepikiran malah bagian dekorasi. Ini hal yang untuk saya benar-benar akan menjadi kejutan. Selama ini saya berkomunikasi lewat mbak Shinta (sahabat kakak saya, mbak Fany, yang membantu kami), saya hanya memberi gambar, menjelaskan dengan garis besar dan memberi kepercayaan ke Pak Mitro dari Mitra Flower 100% untuk bebas berkarya dengan batasan-batasan yang saya tentukan. Jadi konsep yang datang dari saya adalah memindah suasana outdoor ke dalam ruangan dimana pohon-pohon dan kayu menjadi hal yang teramat esensial. Tapi alhamdulillah kecemasan saya tidak beralasan, karena hasil kerja tim pak Mitro yang hampir nggak ada kurangnya. Detil banget…

Berikut adalah beberapa tips-tips yang saya rumuskan untuk menghadapi dan melewati hari H dengan baik dan stress free

  • Banyak minum air putih dan mengurangi konsumsi makanan yang nggak sehat (lemak jenuh, etc) karena bisa jadi sumber jerawat atau minyak di kulit. Itu semua asal mula dari wajah yang kurang segar.
  • Inget kalau kita nggak selalu bisa on top of everything, delegasi dan kepercayaan itu penting. Saya selalu bilang kalau kepercayaan adalah pilihan. Jangan biarin pikiran kita dimakan oleh kecemasan-kecemasan yang nggak beralasan.
  • Banyak ketawa 😀 Laugh along!! di situasi apapun! Itu akan nge-attract hal-hal baik di sekeliling kita. Happy happy dan bersyukur setiap hari. Things could have always been worse.
  • Kemarin saya bikin Technical Meeting sekitar 2-3 hari sebelum acara. Tujuannya adalah untuk memantapkan segala rencana dan check list segala kebutuhan yang harus dikerjakan. Beri jarak beberapa hari agar jika ada minor-minor yang kurang, masih cukup waktu untuk menutupi.
  • Istirahat yang cukup, biasanya manten lupa akan hal ini karena terlalu sibuk menyiapkan atau menjamu keluarga. Akhirnya jatuh sakit di hari H. Jujur aja kemarin sempat istirahat lumayan intensif karena kena diare. Bayangin deh, pas lagi fitting baju, saya hampir jatuh pingsan. Jadi mau nggak mau harus banyak di rumah dan mengerjakan segala sesuatu dari rumah. Daripada sakit duluan, lebih baik diantisipasi.
  • Tunjuk satu orang yang selalu ada di dekat kamu dan selalu bisa dihubungi kapan saja kalau ada keperluan tertentu. Disini peran maid of honor bisa dimainkan, tapi karena maid of honor saya wanita karir, akhirnya saya memutuskan untuk mengutus kakak tercinta. FYI, hari saya menikah itu tepat hari ulang tahun dia, mba Fany 🙂
  • Berdoa dan minta doa dari orang-orang di sekitar kita.
  • Selalu ingat bahwa pernikahan hanyalah acara satu malam yang cuma kamu dan keluarga serta orang-orang terdekat yang akan ingat. Nikmati perjalanan dan hari penting itu. Kesempurnaan itu mindset yang bisa berubah tergantung dengan keadaan emosi kamu hari itu. Kalau kamu bahagia, semuanya akan terlihat sempurna. Pasti akan ada kekurangan di sana-sini, itu nggak masalah yang penting besok pagi setelah acara kamu bangun dan menemukan sosok yang kamu kagumi selama ini di sebelah kamu 🙂

Review Vendor Surabaya (RESEPSI)

  1. Venue: Graha ITS (5 stars) Harga sangat terjangkau, parkir luas dan relatif nggak jauh dari gedung. Untuk undangan sekitar 2500-3000 orang masih muat dan nyaman. Kemarin acara saya total tamu sekitar 1500 dan masih banyak space. Kami sengaja menghilangkan antre dan salam-salaman dari acara kami sehingga tamu bisa langsung makan. Bentuk gedung ini memungkinkan kami membuat flow seperti itu.
  2. Dekorasi: Mitra Flower (5 stars) Pak Mitra berhasil membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Banyak hal yang kami ingin dobrak. Seperti memindah suasana outdoor ke indoor, memindah kuade di tempat yang bukan seharusnya, membuat panggung yang harusnya tempat kuade menjadi panggung konser jazz spektakuler lengkap dengan tumbuhan hijau yang memang saya khusus minta untuk suasa taman
  3. Make up: Joice Ananta (5 stars) Kalau hasil make up sudah nggak diragukan. Jadi saya nggak akan bahas. Tapi, di luar fakta bahwa make up artist jaman sekarang itu nggak stay sampe acara selesai seperti halnya Dukun manten, tapi mbak Joice make sure kalau make up-nya tahan lama selama-lamanya acara. Dan itu emang terbukti dari make up yang flawless sampe acara selesai, nggak cracking dan cakey sama sekali. Orangnya pun menyenangkan sekaliiiiiii! Bikin suasana jadi cair dan rasa cape setelah akad jadi hilang karena cerita-ceritanya yang sukses bikin ngakak
  4. Busana Resepsi: Gamar Azis (3.5 stars) Saya memang mengambil resiko untuk memakai penjahit yang belum pernah kenal sebelumnya semata-mata karena dia langganan sahabat saya dan selama ini hasilnya selalu bagus. Jadi saya berani. Pada akhirnya, saya (dan juga mama saya) effort sekali untuk memastikan bahwa desain yang saya inginkan bisa diikuti dengan baik. Saya sempat terkena mini heart attack 3 minggu sebelum acara karena ditunjukkan hasil bajunya lewat foto. Jauh sekali dari bayangan dan gambar. Mungkin memang susah karena mengerjakannya harus long distance, juga nggak bisa fitting properly. Walaupun semuanya berakhir bahagia, namun saya lumayan dag-dig-dug dibuatnya….
  5. Photography: Poetoegraphy.com (4.5 stars) Mas Putunya baik sekali dan sangat kooperatif dengan segala kemauan kami. Semua tepat waktu dan dikerjakan dengan profesional. Tapi tetap, hasil akhir foto itu akan kembali ke taste orang masing-masing 🙂
  6. Videography: Paper Pic (….) Masih belum terima hasilnya, tapi sudah ditunjukkan sneak peak-nya yang langsung jadi sehari setelah acara. Dan memang cantik banget. Mas Angky dan mas Ian orangnya asik, lucu, dan berusaha sekali memenuhi semua kemauan kami.
  7. Catering: Hidayah Catering (3.5) Semua orang bilang lontong kikil-nya nikmat sekali juga makanan-makanan yang lain. Kurangnya adalah pelayanan dari pekerja yang turun tangan di hari H. Supervisor pun saat itu nggak ada di sekitar. Panitia konsumsi dari keluarga sangat kecewa dengan ketidaksigapan untuk mengisi makanan sehingga banyak tamu-tamu yang menemukan buffet-nya kosong.
  8. Band: Green Tea (5 stars) Mereka berusaha sekali memenuhi wish song list dari kami. Melodi dan rendition mereka kami suka. Tampilan dari para pemain-nya pun menyesuaikan dengan tema acara kami. Awalnya agak deg-degan dengan rencana kami yang ingin meletakkan mereka sebagai point of interest di panggung besar. Takutnya mereka merasa dimanfaatkan karena tarifnya yang sama, tapi ternyata mereka malah senang dan merasa dihargai 🙂 Ketara sekali mereka bermain musik dari hati, karena hobi.
  9. Cake: Creamy Dreamy (5 stars) Cake-nya cantik dan enak sekali rasanya. Sesuai dengan konsep yang saya harapkan.
  10. Wedding Organizer: Mama, Saya Damar, dan bantuan dari The Party Story (5 stars) Hands up untuk mbak Shinta dan mas Boim. Mereka dari the Party Story yang ngebantu menengahi keinginan saya dan mama, juga pol banget menggiring dekorasi di hari H demi memenuhi permintaan kami. Keinginan untuk tidak ada antre juga terjadi karena campur tangan mereka. Semua acara tepat waktu dan berjalan dengan baik 🙂

Resepsi

Asia Indonesia Love life Milestone Wedding Series

Wedding Series part 11 – Akad Nikah

16th June 2016 - 6 min read

22 May 2016

Exactly a month ago, I married a man of my dream. Everything that I was looking for to be in a person.

I never thought being married would be this great. And I guess, it is not about the marriage, rather about being married to the right person.

My thought flew to the milestone we both had a month ago.
The ceremony was started at 9 in the morning. I was preparing myself with a big help from tante Made, the woman behind Sanggar Mitapuri in Surabaya, since 5 in the morning. I love Tante Made’s dedication in transforming me to a proper Javanese bride complete with Paes (that is the black paint in my face that is continued to my hair which shows maturity and readiness to be someone’s wife). Javanese make up artist had to go through serious study and taken diploma in Javanese culture and make up. Thus they would not only do the job, but also having in-depth knowledge about every rituals in the Javanese traditions, including how to do the make up (which color of eyeshadow is allowed, etc), where to tide up the jasmine flowers, what kind of prayer she needs to do before starting to work on the bride’s face, etc. It was very sacred already starting from the make-up process.

I made the request from the test period with tante Made to not have to high ‘pompadour’ and a big synthetic hair bun that Javanese bride always has. And she granted my request properly. I think the ceremony is the most important and sacred moment of the whole wedding process, where both Damar and I should be a feeling a little nervous. And not being confident does not make the situation any better. Thus, being comfortable with our selves and confident with everything we wear is foremost. That is why, choosing the right vendors to work together and deliver the expectations is vital.

Alhamdulillah, the ijab qabul went smoothly. Damar apparently was less nervous than I was. The moment when Damar said the words, happy tears were bursting. I was very moved by the minute my dad officially gave me away to another man. Subsequently happy and smiling from ear to ear to have another amazing man in my family. Moreover because everything happened witnessed by my family 100th years Rumah Joglo (type of traditional vernacular house of the Javanese people made of teak tree).

After the Islamic married procession successfully took place, the ceremony continued with Panggih. Panggih in Javanese means to meet, is a traditional cultural event held after the ceremony. Meaning that the newly married couple can live their domestic life with a happy and prosperous accompanied by the blessing of both parents and relatives. This ceremony is usually performed at the bride’s house which is my house. I love this part of the wedding, felt very sacred and traditional. I felt like I was a real pure Javanese woman 🙂

Supplies used in this ceremony are: Banana, 3 kinds of flowers: roses, jasmine and magnolia, etc. Kembar Mayang is a series of decoration consisting of palm leaves, especially foliage is plugged into a banana tree leaves which are arranged in the shape of the mountain, a dagger, whip, umbrella, grasshoppers and birds. There is also a banyan leaves, pineapple, jasmine, rice, cotton, cengkir. The significance of those are so that the life of the bride and groom are well and do not encounter obstacles and barriers so quickly to achieve happiness in life. Gantal (betel leaf that has been tied by a thread). Ranupada (washing feet) consisting scoop, bowl, tray, flowers and eggs for the event sritaman ngindak endog. Rice, coins, seeds, bags of cloth, fabric for tablecloths for Kacar Kucur. Rice and side dishes for Dulangan/Feeding each other. The below slideshow is kind of in order on how the procession happened.

Nice to have everything documented and to be able to flashback. That is the main reason I write it down here.

To one month and forever…..

Review Vendor Surabaya (AKAD)

  1. Venue: Rumah Joglo Keluarga Imron (5 stars) Rumah ini merupakan peninggalan nenek moyang kami dari sisi Bapak. Bapak memindahkan rumah ini dari desa beliau di Pati, Jawa Tengah. Saya sangat beruntung bisa menikah disaksikan dengan saksi bisu rumah ini.
  2. Catering: Hidayah Catering (reviewed in here)
  3. Dekorasi: Mitra Flower (reviewed in here)
  4. Make up: Tante Made dari Sanggar Mirapuri (5 stars) Tante Made sangat tidak memaksakan kehendaknya dan beliau dapat memadukan sifat kekunoan dengan kekinian. Dengan sifat keibuan tante Made, saya merasa tenang di make up-in dan mempercayakan segala sesuatu ke tante Made. Harganya juga sangat terjangkau, jauh dari komersialitasan jaman sekarang. Terasa sekali kehati-hatian dan ketulusan dari make up yang dibuat.
  5. Busana Akad putih: Ibu Daud  (5 stars) Bu Daud sukses sekali membuat busana yang pas dan cocok dengan ukuran saya walaupun saya tidak disana. Sekali fitting langsung pas 🙂 Alhamdulillah
  6. Busana Panggih hitam beludru: Tante Made dari Sanggar Mirapuri
  7. Fotografer: Poetoegraphy.com (reviewed in here)
  8. Videography: Paper Pic (reviewed in here)

Akad Nikah – Javanese Traditional Ceremony

Life Love life Thoughts Wedding Series

Wedding Series part 6 – Arranged marriage?

24th April 2016 - 4 min read

Pengen deh ngebahas soal gimana anehnya temen-temen bule saya nangkep cerita soal rencana saya menikah di usia yang bagi mereka masih sangat muda dan apalagi dengan waktu pacaran yang singkat. Dua kolega saya (yang terhitung dekat) tiba-tiba nanya dengan rasa ingin tahunya, “is it arranged marriage?”. Mereka tahu saya akan menikah nggak lama setelah saya dan Damar ketemu kembali semenjak pertemuan pertama kita 3-4 tahun lalu. Kita nggak pernah menjadi temen atau hangout bareng di antara pertemuan pertama kami dan pertemuan kembali kami setahun lalu. Yang jadi pertanyaan mereka, kenapa saya bisa begitu yakin untuk menikah padahal kita nggak pernah tinggal bareng dll. Saya sudah siap dengan pertanyaan macam ini, karena setelah pengumuman pernikahan, pertanyaan selanjutnya adalah ‘berapa lama kalian pacaran?”, pertanyaan yang menyisakan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Untuk orang barat, wedding/get married itu sekedar formalitas dan bukti kertas agar kedua pasangan memiliki hak adil yang diatur di perundang-undangan pemerintah. Tentunya orang barat yang saya maksud adalah orang-orang barat yang tidak mempercayai agama, ya. Karena bagi mereka pernikahan itu adalah hal kesekian, maka mengenal pasangan dalam jangka waktu yang lama menjadi pokok yang harus dilalui. Nggak jarang juga mereka menikah saat sudah memiliki anak. Dan saya sangat menghormati keputusan mereka ini. Mereka lebih tau yang mereka butuhkan dan prioritas dalam hidupnya, yang penting mereka bahagia.

Mengenal pasangan disini sama artinya dengan tinggal bersama. Saya dan Damar tidak tinggal bersama dan tidak berencana untuk tinggal bersama sebelum menikah, alasan agama/kepercayaan yang kami anut adalah satu hal, tapi hal lain adalah kami ingin menjaga sparks dan kejutan-kejutan baru yang bisa kami temukan setelah menjadi pasangan suami istri. Walaupun begitu, saya percaya mengenal dan berada di satu tempat selama beberapa hari adalah penting untuk manajemen ekspektasi setelah pernikahan (paling nggak selama 1-2 minggu, karena mereka mau nggak mau akan menjadi dirinya sendiri di waktu sepanjang itu). Kami berdua plus kakak adeknya dia ke Iceland bulan Februari lalu, disitu saya mengenal dia lebih jauh, gimana cara dia handle stress, gimana leadership skill-nya dia, gimana rajinnya dia beribadah (poin penting nih, karena saya masih suka telat dan kelewatan heheh it is a huge deal concerning he has been living abroad where islam is mega minority, but he always comes back to his rug). Kami berdua menghabiskan waktu bersama dengan jadi diri sendiri (karena, capek kan berpura-pura selama seminggu), disitu saya semakin tahu kalau kita punya cara berpikir dan pandangan yang sama dalam banyak hal terutama dalam mengatasi masalah. Well, sebenarnya dia much better problem solver karena pembawaannya yang jauh lebih tenang dari saya. Saya udah persiapan dari awal, kalau di suatu perjalanan fraksi yang timbul adalah normal, akan ada waktu dimana mood akan berubah, tapi it went very smoothly untuk kami alhamdulillah. Saya merasa semakin yakin 🙂 🙂 Jadi pengenalan yang bukan cuma ngedate-ngedate aja itu penting bagi saya, walaupun gak sampai harus tinggal bareng.

Saya somewhat pengen ngejelasin dan bikin temen-temenku aware bahwa kami nggak berpikiran setradisional itu. Saya sendiri malah nggak percaya dengan blunt arranged married. Tapi disisi lain, saya juga malas menjelaskan panjang lebar. So ‘is it arranged married?’, I smiled and answered ‘no, we chose each other and he’s the man of my dream. When you know, you know. And we both know what we want, including choosing life partner. And when I find that kind of person, I just cannot wait to live and start the life together’…. 

Love life Wedding Series

Wedding Series part 5 – Tips kolaborasi dan berhemat

28th March 2016 - 8 min read

Jadi, Damar sama saya paham bener gimana mahalnya pernikahan di Indonesia. Bahkan katanya nabung seumur hidup smpe tua baru bisa ngebayarin pernikahan di Indonesia, makanya tanggung jawab membayar biasanya otomatis tertuju pada orang tua. Kenapa mahal, karena pengeluaran unnecessary seperti sewa gedung besar untuk muat lebih dari 1000 tamu, undangan yang diatas 500 yang berarti hitungan makanan harus dikali dua. Undangan bisa banyak karena mayoritas yang diundang adalah kolega, teman, dan relasi orang tua. Jadi memang kebutuhan dan siapa yang mengeluarkan memang berkolerasi.

Walaupun begitu, Damar dan saya tetap ingin berkontribusi in as many ways possible, paling nggak di hal-hal yang kita punya preferensi spesifik dan hal-hal yang mungkin dikerjakan dari jarak jauh. Hal-hal itu adalah sebagai berikut:

  1. Seserahan – alesannya lebih kepada kita punya selera masing-masing yang kurang bisa kami percayakan ke orang lain hahaa karena kan tujuannya untuk dipakai sehari-sehari atau di masa depan
  2. Wedding ring – Ini juga termasuk seserahan si yaaa, cuma saya mau taro di poin sendiri karena ingin berbagi tips. Jadi saya pengennya cincin yang simple tapi dibuat pake hati dan sesuai sama engagement ring-ku, karena pengennya dipake stacking. Saya dari awal cenderung cari di etsy.com, karena saya suka banget sama webnya yang isinya kebanyakan produk-produk homemade dari artisan yang ingin berjualan tanpa platform fisik dan bisa diakses worldwide. Di etsy ini enaknya pilihannya sangaaaaaaaaat beragam, harganya cenderung lebih murah dari retail karena mereka nggak harus bayar biaya toko, administrasi dll, cuma yang harus diingat adalah, kalau barangnya datang dari luar EU (biasanya sih US), bakal ada tax yang harus dibayar karena harga yang mereka tawarkan adalah harga diluar tax dan hitungannya untuk masuk ke negara belanda adalah import. Salah satu tips etsy ini, cari foto yang ada contoh foto yang digunakan, itu memberi indikasi bahwa barangnya memang sedang/sudah pernah ada dan biasanya ini berarti produksi rumahan. Sedangkan yang cuma foto barang, biasanya mass production karena barangnya harus order dulu dari luar. well, ini hanya menurut pengamatanku lho. Yang jelas, so far saya nggak pernah kecewa sama etsy. Damar pun memilih engagement ring saya dari salah satu vintage ring store dari kolektor yang ada di etsy 🙂
  3. Fotografer dan videografer – Kita nggak pengen banget hasil dari foto kita terlalu cheesy atau tacky hahah jadilah kita memilih fotografer sendiri yang pastinya masih cukup di budget kami. Kami berdua memberi budget 8 juta untuk fotografer dan 5-6 juta untuk videografer. Masih affordable untuk kantong kami! 🙂 Kita ngga pake orang yang kita personally kenal, malah kalau bisa menghindari supaya tetap professional dan bisa kita minta-minta request tanpa merasa bersalah karena kita bayar dengan harga normal hahah plan kita begitu sampai indonesia, meeting dengan mereka adalah salah satu hal pertama yang harus dikerjakan.
  4. Pre-wedding – Untuk saya pribadi, saya ga terlalu melihat esensi pre-wedding yang terlalu dolled-up dan nggak menunjukan kepribadian kita. Saya rada oppose pre-wedding yang terlalu diatur dan disetting hehe. Selain itu kalo bukan pre-weddingnya bukan professional kan menghemat biaya juga (*alasan utama* lol). Saya tanya beberapa temen saya tentang biaya pre-wedding, fantastis lho harganya dari 10-25 juta. Menurut saya sayang banget dan lagipula saya pengen banyak personal touch here and there di wedding kami, jadi kenapa nggak ngerjain sendiri aja dengan konsep yang memang dekat dengan kehidupan kami. Kami foto di Iceland seringnya pake tripod, kalau pake tripod rasanya bebas berekspresi dan ga malu (karena kami kan bukan model, ya haha), cuma kurangnya kalo pake tripod, setting kameranya kelamaan, tangan udah kaku dan gigi udah kering, lalu Damar harus bolak balik buat ngeset timer atau mencet klik. hahah tapi itu semua kami nikmatin sih, karena di semua proses pasti ada kurang lebihnya. Kalau minta tolong difotoin orang terdekat dengan tetap instruksi dari kita, lebih bagus lagi kalau teman kita itu punya skill foto. Ini dia hasil foto-foto kami yang ceritanya berkonsep through all the seasons (semua pake tripod)…. urat malunya uda putus walau ditolehin orang-orang bule yang bergumam dalam hati ‘ciyan amat yah pasangan ini’ hahah
  1. IMG_3174IMG_5567IMG_4160

    Spring dan Summernya menyusul… 🙂 Juga sneakpeak foto di studio… tacky part hhahah

    5f19110a-c906-430f-bfb3-406dbc9a88b2787fe01c-813b-48b8-8d80-234e49195a7f

    dc102ddf-7610-433e-ad01-07e8eaee1045

    Not bad lah ya! hahaha

  2. Dress dan suits untuk Damar – Untuk suits Damar, kami sepakat untuk membeli jadi di sini. Warna yang dipilih pun secara mufakat kami pilih sesuatu yang everlasting dan bisa dipakai kembali untuk acara-acara di masa mendatang. Jadi jauh dari embelishment atau sesuatu yang mencolok. Ini sekalian untuk investasi karena Damar belum ada suits yang fitnya benar-benar dia banget. Nggak sulit dapet suits yang pas, alhamdulillah. Tinggal motong clana sama sedikit tangannya nanti di Indonesia. Jadi jatuhnya, HEMAT haha karena bisa dipakai lagi dimasa depan. Kalau untuk dress, saya kasih budget ke diri sendiri, ngga mau terlalu mahal, simpel tapi cantik. Saya percayakan pembelian dan pemilihankain ke mama, dan jahitkan ke penjahit yang saya belum kenal (atas rekomendasi  temenku). Mudah-mudahan hasilnya bagus yaaaaaaa
  3. Band –  Saya pengen banget band jazz yang mengiringi entrance kami berdua. Ini saya dapet rekomendasi dari mbak Shinta yang bantuin untuk organize wedding-nya. Dari segi harga mereka cenderung reasonable dan sudah termasuk dengan sound system sedangkan band-band lain banyak yang menjual sound systemnya, yang akhirnya harganya jadi lumayan mahal
  4. DIY – Some stuff I made myself, contohnya gift for my bridesmaid dan buttonaires untuk Damar. Sebenarnya bukan karena hemat tapi lebih karena pengen ada sentuhan personal disetiap hal di  wedding saya, dan hemat adalah nilai ekstra yang bikin makin semangat ngerjainnya haha
  5. Uang – Orang tua pasti dengan senang hati mengeluarkan simpanannya untuk pernikahan sekali seumur hidup anaknya, tapi kami sebagai anak juga ingin ikut berkontribusi. Saya dan Damar memutuskan untuk mengirim sejumlah uang. Besarnya itu relatif, sesuai kemampuan aja. Paling tidak dengan kondisi kamu yang jauh, itu juga sebagai cara untuk menunjukkan perhatian kami.

Begitulah kira-kira kurang lebihnya.. Kami berdua juga sangat ingin terlibat di prosesnya, walaupun hasil akhir dari yang lain-lain yang ngga kita kerjakan sendiri akan menjadi kejutan, tapi kami percaya apapun hasilnya nggak akan mengurangi kebahagiaan kita di hari itu 🙂 🙂 🙂

Love

Love life Wedding Series

Wedding Series part 4 – Marriage Rules !

27th March 2016 - 5 min read

I recently read a book called the Happiness Project and realizing that getting married is not only about wedding preparation and its glitz&glam, it inspired me to write what I called ‘Marriage Rules’. I think it is important to have a solid base in marriage. Having a perfect wedding is one thing, but having a perfect marriage is a whole another thing. It needs two to tango and sure it needs a ‘goodwill’ to always work it out together. Newlywed will always all about sparks of discovering new things and excitement of creating habits, but as the time goes by, many people say that couple tends to forget things they feel and they do when the marriage starts, for instance saying I love you and being affectionate. The reason why is because it is not easy to get a divorce once you marry someone, hence taking your spouse for granted. That is not acceptable and I (and also Damar) condemn that excuse.

Taking things for granted is the start of unhealthy relationship, because we are urged to stop trying. That is just action and reaction pattern. I think we all need to have a ground rule that is nailed in the back of our mind to always be the best for our spouse and make their happiness as ours.

One point Gretchen made in her book that I agree very much is about setting an example of doing things for the sake of ourselves/personal satisfaction and avoid nagging (which is the nature of woman hahah). Setting an example will automatically set a tone at home, somebody just gotta do what the gotta do, and that is to start a good cycle. The example given will be followed by our partner without he/she realizes it, when she/he does not appreciate what we do, do not get upset because we do thing for ourselves and not for rewards from our spouse. Whilst, nagging and perform bad behaviors to our spouse will lead to even worse behaviors because that is just how human overcome their guilty feeling, to behave worse. Not long after that, we should welcome to the start of a vicious circle which nobody wants. Whenever we want to storm, swallow it and tell them later. We will thank ourselves. So, based on those foundations, I wrote the below marriage rules (which is still in working progress, to be continued… ;))

To manage expectations, we often talked about what our plans are after married including having kids, which country to move next, how to prioritize both of our family and the portion of family’s intervention. We agreed on to something, if things change and priority is shifted, we both would not mind because we know the best planner of everything is Him as we always ask in our prayer to be guided to the path He gives ridho in. “He He will not be lost who keeps on asking the way” aamiinn

Processed with VSCO with hb1 preset

Processed with VSCO with f2 preset

And for a little intermezzo, I went to V&D yesterday (a big department store in Holland) for its clearance sales as they filed for bankruptcy. I got myself a cute ring holder that I already had in mind ever since I got a ring for Damar that I practically wear everyday.

 

Love

Love life Wedding Series

Wedding Series part 3 – TOMS shoes

19th March 2016 - 3 min read

For me, TOMS shoes are special. Why? It gives me an idea on what I really want to do in life, it gives me a faith that there is a possibility to help people even from the industry that has nothing to do with people in need or often it even hurts the people in need. It makes me believe that there is always a way to make a change in this world, even through the smallest thing, SHOES.

For Damar and I, TOMS are very special. Why? It took part in our love story. The first time we hung out, I told him that I was bored in my job back then. I wanted to move to a place that is different, that has meanings and gives fulfilling sensation everyday when I go to work. In the mean time I was looking and I discovered as well as learnt about TOMS existence. Second time we hung out, I said I really wanted to work for this company, I don’t know how but I said I had to work for this company. We got together, time passed by, I got at job at TOMS. He knew exactly how I felt about working at TOMS, he was the one who supported me, and kept on saying “you are amazing, you will get this job”. I know I am worth, but sometimes human being can forget and needs to be reminded. Damar is there to tell me how beautiful and smart I am. It boosted my confident for sure. I remember he gave a surprise appearance after my 2nd interview, he was there all positive and he said ‘You will get this job”. The day after, I got a call and got offered the job. TOMS takes part of our love story. TOMS also makes me believe that Damar is also a man that I was looking for, a man who keeps on reminding me on what a wonderful person I am. And I will spend the rest of my life making sure he feels the same.

That explains why I want to incorporate TOMS in my wedding a little. Not only because of the meaning for us, but also because when I buy, I will help a couple of people in need 🙂

af073b12-05be-4d2b-85aa-8c23b9c2acc1

These little shoes will be for my flower girls. 2 of my nieces (Aqila and Dina) and Damar’s niece (Aqilla).

 

Love life Wedding Series

Wedding Series part 2 – Seserahan

19th March 2016 - 6 min read

Berasal dari Jawa berarti mengikuti tata cara dan aturan pernikahan yang sudah ditentukan nenek moyang. Salah satunya adalah pemberian seserahan atau dalam bahasa jawa disebut peningset atau angsul-angsul. Sebenarnya nggak hanya adat Jawa, tapi adat-adat lain di Indonesia dan bahkan negara-negara lain di dunia. Yang membedakan adalah isi seserahan, jumlah, dan cara memberikannya. Isi seserahan memang bisa berbeda-beda, untuk setiap daerah di Indonesia sekalipun karena biasanya ada pakem-pakem yang harus diikuti. Tetapi saya dan sepertinya banyak juga calon pengantin wanita lain yang memilih barang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Rasanya nggak pengen cuma sebagai simbol, tapi juga yang berguna dan terpakai.

Dalam adat Jawa seserahan memiliki arti filosofis yang berarti adalah pria sebagai suami secara lahiriah mampu menafkahi istrinya. Dan simbolisasi nafkah ini diwujudkan dalam bentuk seserahan atau hantaran saat prosesi lamaran. Katanya si adat ini untuk meneguhkan niat pria untuk membahagiakan istrinya dan memenuhi nafkah saat berumah tangga. Jujur aja, sebenarnya pernikahan sarat akan budaya ini saya ikuti, tapi bukan berarti saya sepenuhnya setuju dengan filosofis-filosofis yang terkandung. Buat saya, nafkah bukan cuma tanggung jawab laki-laki, dan bukan cuma tugas pria untuk membahagiakan istri, tapi juga sebaliknya. Saya salah satu orang yang mendukung Equality Marriage. Jadi ini saya tunjukkan dalam pemberian seserahan, nilai barang-barang yang saya beri ke Damar juga harus paling nggak mengimbangi, sama, bahkan bisa jadi lebih. Biasanya di adat jawa, jumlah seserahan harus ganjil dan nilai yang diberikan untuk lelaki harus lebih sedikit. Tapi kayanya jaman sekarang banyak perempuan yang menganut faham yang sama seperti saya, equal, ganjil atau genap  nggak masalah. Buat saya juga, seserahan itu nggak beda dengan saya dan Damar membeli kebutuhan kami setelah menikah nanti. Bedanya, barang-barang itu dikemas cantik, rapi dan ditunjukkan ke muka umum.

Biasanya pihak keluarga pria akan memberikan seserahan pada malam hari menjelang akad nikah atau lebih dikenal pada waktu malam midodareni. Tapi karena pernikahanku nanti Jawa abal-abal (nggak mengikuti seluruh prosesi), seserahan akan diberikan sebelum akad nikah dimulai. Lebih hemat hahah

Sekarang saya lagi proses mencoret checklist untuk Seserahan. Kami sepakat untuk selalu berdiskusi dan memilih bersama. Most of the times, kami beli barang dari online shop, biasanya saya bayarin duluan ataupun sebaliknya. Nah, supaya hasilnya tetap seimbang, ada satu tips yang buat kami sangat membantu dan jadi merasa adil dalam membagi. Karena mengeluarkan uang, bukan cuma tugas lelaki, terutama kalau perempuannya kerja. Ada satu aplikasi yang namanya splitwise, jadi aplikasi ini bisa mencatat pengeluaran kita dan mencatat ‘hutang’ kita ke orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, calon suami saya hahah jadi hutang itu tidak harus dibayar saat itu juga dengan tunai, tapi juga bisa dibayar next time waktu berbelanja.

Anyway, checklist umumnya seserahan adalah sebagai berikut. Yang dicoret alhamdulillah sudah terbeli…

  1. Perlengkapan beribadah Ini saya pilih sendiri, cari di Instagram dan nemu yang sesuai selera, nama tokonya Ayurora. Cantik-cantik deh (dari fotonya). Pelayanannya juga baik, mbaknya ramah. Kalau kaya gini, kuncinya cuma satu sih. Kepercayaan heheh Perlengkapan beribadah terdiri dari mukena, sajadah, alqur’an dan tasbih. Ini sekaligus akan menjadi mahar pernikahan kami. Mama dulu bilang, waktu mama menikah dengan Bapak dulu, maharnya adalah pembacaan ayat kursi sebanyak 4 atau 5 kali. Buat saya pun, mahar nggak perlu mahal-mahal, yang penting makna yang terkandung. Untuk Damar dan saya, makna peralatan beribadah lebih besar dari materi/uang.
  2. Cincin nikah  Akhirnya setelah pencarian, nemu juga cincin yang sesuai sama engagement ring-saya. Sebenarnya saya udah nemu cukup lama, tapi saya nunggu Damar karena dia took his time banget buat nyari cincin untuk dia. Mungkin karena saya berkali-kali bilang, cincin itu bakal dipake seumur hidup dan untuk cowo biasanya akan selalu dipakai kapanpun dan dimanapun. Jadi bentuk dan logamnya harus yang everlasting. Saya nunggu dia, karena ada kemungkinan dia pengen ambil yang 1 set perempuan dan laki, tapi pada akhirnya nggak. Kita pesen cincin masing-masing. Cincin kami lumayan similar, sangat clean dan simple. Logam cincin saya emas putih dan dia titanium (karena kita menghindari emas untuk lelaki).
  3. Baju dalam dan perawaran tubuh Baju dalam aku sudah beli lama, belinya pun sama Damar hahah Aku beli waktu ada diskonan winter di city centre. Ngehemat banyaaak banget. Barang-barang perawatan tubuh baru beli tadi sama Damar juga, beli di de Tuinen. Dan kebetulan juga lagi ada 25% diskon. Gemes banget jalan-jalan di de Tuinen, pengen beli semua barang organic disitu. Jadi perawatan tubuh yang aku beli itu meliputi day-night cream, eye cream, dan facial wash, plus body butter dan body shop. Asikk akhirnya nyoret bagian ini juga!
  4. Perhiasan: Ini Mama Damar yang akan belikan nanti di Indonesia, karena orang tua pasti ingin memberi dan kami ingin mama kami involve ke hal ini
  5. Baju atau kain dan songket: Ini juga mama Damar yang pilihkan
  6. Makanan: Ini aku percayakan penuh ke mama Damar
  7. Buah-buahan: Ini juga mama Damar yang urus

Kalau untuk Damar, seserahannya kurang lebih sama intinya. Tapi baju, aku belikan dia suits yang nanti akan dipakai di resepsi (lumayan jadi dobel guna hihihi dan juga bisa dipakai di masa depan), juga mukena diganti dengan baju takwa, sarung, dan kopiah.

Simpel kan yaaa? Alhamdulillah Damar juga orangnya simpel banget ga ribet. Aku pun males beli barang yang mahal dan branded supaya kotak seserahannya terlihat bagus. Sederhana aja asal bermakna…………….. 🙂 🙂

 

p.s Source foto dari weddingku.com

Love life Wedding Series

Wedding Series part 1 – Plan, moodboard, and compromise

6th March 2016 - 13 min read

Can’t believe it’s already March!

To the 5th will be my posts about the journey of the wedding of Damar and I, which will be held on May (the 5th month of the year).

It has been quite hectic with new work adjustments, business plans, and everything else that comes around it, oh yea of course with the wedding madness (*happy*). I am juggling with different things at once, but  it is something that I enjoy doing, so that makes me happy to make the efforts.

Speaking about wedding preparation, it is now in 75% of the progress, I would say. The biggest part is done, venue has been booked, the catering has been reserved, make up is done, band agrees on the songs we requested, invitation has been self-personally-designed and negotiated with the the printing, decoration has been down payment-ed, and ‘save the date’ has been sent out to my friends in the Netherlands. Those are the big things, but there are sooooo many little details that are still needed to be sorted out, soon!

There are many articles discussed about ‘bridezilla’ phenomenon where the bride is difficult to handle and giving everyone as well as herself a hard time. I think I am not one of them at all. I am pretty cool and I go with the flow of the process, but at the same time making some clear plans on where the direction of my wedding I want to take. The difficulty that I had was in the beginning when I found out that my dream wedding (outdoor, nature, max 200 people, intimate, friends and family) is not happening. My mother immediately said ‘NO’ when I told her about having outdoor wedding. For her it is too much stress to think whether it will be raining or not, it is based on her experience with my sister’s wedding. Okay, cool I understand, but she had to compromise in giving me a little freedom to decide about the decoration because I somehow still want to have outdoor sensation. And about intimacy, it will sure not happen because according to the culture, giving invitation is always better than making them feel sad by not giving at all. And if we do not want to invite, better not to invite all. So it is either invite all or not at all. That’s basically the theory. Usually the Western does have RSVP system, but Indonesian does not. The polite way to respond the invitation is by attending. In there, I compromised. My big sisters already warned me to just surrender and not sweating for little things, as this is a way to make my parents happy, the last offering/gift before I am taken by another man.

Intermezzo: I could totally relate with this hipwee article about Wedding In Indonesia haha just for amusement 😉

With this wedding preparation experience, I am learning to understand my mother better. She is the one who is busy and executing most of the things *prize and appreciation for my mother*. Now I know how to deal and talk things out with my mother, in which I honestly avoided in the beginning. Silver lining is, I have a better communication with my mother 🙂 Compromise and flexibility are very important in Indonesian wedding, because it is “the event of the parents“, there are certain things I can prefer, but those things need to be discussed and compromised. Note to self: There is always a solution to every problems. And I learn to take times if something gets me crazy, I would just be with myself, think, return to the case (most of the times to my mother) to discuss bit by bit and look for the solution. Because being angry does not solve any problem. 

Okay, back to the wedding planning.
My dad is working in the University and the University has its convention hall that is usually used for graduation ceremony and wedding. Certainly we get a good deal, good price with good benefits. The choice was only in one weekend (because a week before, we just arrived, and a week after we have to go back to Netherlands), so we had to choose whether will be Friday, Saturday or Sunday. Saturday night was ideal but unfortunately it was booked by someone else. And I still prefer at night because we could get the romantic sensation from lights and candles. So Sunday night, May 22nd it is. The first most priority has been booked.

Here are a bit of tips after the venue is booked, and this will especially be applicable for someone who prepares the wedding long distance like me:

  • Hire a Wedding Organizer – I know I need a middle party to be in between me and my mom in some points. WO is considered as legit and experienced organizer, so my mother could take what they say in to the consideration easily. What I did was sending my moodboard to them and there I talk about the theme. I always touch base and refer to the moodboard I have created.
  • Create a moodboard – Moodboard is type of collage consisting of images, text, and samples of objects in a composition. And in this case, it’s the images about how I picture my wedding dream. I have been pinning and collecting pictures of wedding in my pinterest, etsy, my phone, and pc, so for me it was just a matter of selecting which ones I really like which is also good because it narrows down the many choices I have. If I keep pinning, it will not make it any easier to make a decision. The main purpose of the moodboard is to understand the big picture and the direction of the wedding to ease the decision making. But for me the more important purpose is to show to our Wedding Organizer what I want because I want her to present it in front of my mother. They are the ones who are there and able to execute.

I split my moodboard to 4 different categories according to the rituals: Lamaran (yang akhirnya nggak jadi), Pengajian, Akad nikah, Resepsi. And the subcategory will be about the attire (Bride-Groom, family and friends), Make up, Details of decoration, Bouquet, Souvenir, etc. It is extremely helpful! I can always come back to my moodboard to find a guide and remind me what I really want. Paradox of choices out there do nothing than making the deciding process harder haha. So I am blessed that I only have 3,5 months to prepare everything. It makes me move like light speed in preparing 🙂 🙂 and easy to prioritize..

Untitled Untitled1 Untitled2

  • Make a shared wedding folder and check list – Either having it in phone or in journal. I also have a check list in google drive that I share with Damar. Communication is very important! I want Damar to be involved in everything and he pleasantly always does his part very well 🙂 🙂 For the checklist, I can always relate back to the moodboard. The check list is mostly about what Damar and I or I should do. My mother has her own checklist, and my task is to discuss, trust her, and remind her once in a while. Every day the bullets on my check list are scratched but also added, because by doing this you will see what things you have forgotten as well.
  • Once making a decision, stop looking!! – I know that everyday there is always something new on social media, pinterest, etc. But once making a decision, just stop search for it, it will just shaken what I have decided and make everyone who is helping confused with what I want. Grass is always greener on the other side. It’s never enough, that’s just how human being thinks, it is something I surely need to manage haha
  • Anything is possible, just relax and find a way- Like when Damar’s mother all of the sudden used her veto to have traditional wedding to be able to have ‘temu manten or panggih‘ ritual. Temu manten is handover of the groom to the bride’s family. I did not see this happening at all, because all we wanted was just simple wedding and traditional is far from simple. I was upset and stressed out, and plus I did not want to make my mother even busier with all the plans we have had. I tried to make everybody happy. But my fear was not proved because my mother was really easy, she said let’s do it. And at the end I am very grateful to be able to have this traditional wedding for our ceremony, because that is our javanese root and this is something we will always remember. This traditional wedding has been faded slowly, who know in the future it will be even lessen and lessen. So at least I have memory to show my kids and tell them how fun traditional wedding is. And it is even better, because our family’s joglo house can be used in this event. It will be much more meaningful, because it has a family history behind it. Another example is when my parents ask us to have our photographs urgently for wedding registration in the town hall. We were confused in the beginning how to get the pictures very fast. It will take sometimes until the pictures arrive in my father’s hand. So, we use one’s loaf and optimized the technology! We took our pictures with iphone and edited in lightroom. These are the results, not so bad (mind the face, please!)

20160306014134

  • Manage your expectation from now on – At the end, we can always plan and do our best but because I am preparing the whole things in distance, I need to delegate a lot of things. I just need to trust and manage my expectation realizing that I do not have that much controls in my hand because I am not present. Instead, I need to be grateful because my friends and family have been really nice to me by willing to help etc.We cannot control of what will happen, but we can control how we will react about it…
  • Keep calm and move on – Sometimes it is stressful with different opinions, difficulty of communication etc, but just keep calm and enjoy the journey of once in a lifetime experience. The main purpose of the wedding is to reunite our love, the rests are bonus!!

I can’t even be more grateful that the path has been very smooth to our wedding day so far. Thank you everyone, especially Damar and my mother.. I am embracing this journey fully.

xxx

Love life Wedding Series

Save the date !

2nd March 2016 - 3 min read

 

Here is our save the date

The video was taken in Iceland when we had our first trip ever. Before we met, we both dreamt to watch aurora. (Weird right?)  Yes we got the chance to witness this spectacular earth show together.
The different in our backgrounds when we are walking depict how we separately had been through so much. Little did we know, we were prepared to meet each other at one point. When we were both ready… It does not need to take that long until we are sure and want to start our life together. And that video is the beginning to get us there…

Hampir semua teman-teman saya terkaget-kaget dengan keputusan saya untuk menikah. Kata mereka, cepat sekali? kenapa buru-buru? dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Dulu saya sempat berpikir untuk menikah umur 27-29 karena saya masih ingin keliling dunia tanpa beban, berputar-putar membuat kesalahan tanpa perlu membagi resiko, yang mungkin terjadi, kepada orang lain. Tetapi saat saya bertemu Damar beberapa bulan lalu, pikiran itu berubah seketika. Tidak ada yang saya inginkan selain hidup bersama, memulai keluarga dan berjuang mengejar mimpi bersama, keliling dunia bersama dan membuat kesalahan bersama 🙂

I do not think it’s fast if I have slowed down to choose the right one the entire 24 years time of my life. It’s not in a rush if I have rode the bumpy road to get me where I always want to go.

I want to go home.. I want to go to who/where is worth going home to.

I want to go anywhere, everywhere possible while feeling like home all the time. Because home is just alongside, in distance of an easy reach.

I always believe He has given me pen-paper and guided me to draw the most beautiful story in life. I believe that it’s both faith and hardship that could get me here.

Yes, I’ve recently found my home. The most weird and ,at the same time, beautiful story I could ever think of.

I am a lucky woman to get a man of my dream, but luck will not be there if I did not give it a chance by understanding and listening to my very self. Luck will not be there if I was not ready to see the opportunity and luck will surely not be there if I did not have belief.

Please share our happiness and joy 🙂