Love life Wedding Series

Wedding Series part 2 – Seserahan

19th March 2016 - 6 min read

Berasal dari Jawa berarti mengikuti tata cara dan aturan pernikahan yang sudah ditentukan nenek moyang. Salah satunya adalah pemberian seserahan atau dalam bahasa jawa disebut peningset atau angsul-angsul. Sebenarnya nggak hanya adat Jawa, tapi adat-adat lain di Indonesia dan bahkan negara-negara lain di dunia. Yang membedakan adalah isi seserahan, jumlah, dan cara memberikannya. Isi seserahan memang bisa berbeda-beda, untuk setiap daerah di Indonesia sekalipun karena biasanya ada pakem-pakem yang harus diikuti. Tetapi saya dan sepertinya banyak juga calon pengantin wanita lain yang memilih barang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Rasanya nggak pengen cuma sebagai simbol, tapi juga yang berguna dan terpakai.

Dalam adat Jawa seserahan memiliki arti filosofis yang berarti adalah pria sebagai suami secara lahiriah mampu menafkahi istrinya. Dan simbolisasi nafkah ini diwujudkan dalam bentuk seserahan atau hantaran saat prosesi lamaran. Katanya si adat ini untuk meneguhkan niat pria untuk membahagiakan istrinya dan memenuhi nafkah saat berumah tangga. Jujur aja, sebenarnya pernikahan sarat akan budaya ini saya ikuti, tapi bukan berarti saya sepenuhnya setuju dengan filosofis-filosofis yang terkandung. Buat saya, nafkah bukan cuma tanggung jawab laki-laki, dan bukan cuma tugas pria untuk membahagiakan istri, tapi juga sebaliknya. Saya salah satu orang yang mendukung Equality Marriage. Jadi ini saya tunjukkan dalam pemberian seserahan, nilai barang-barang yang saya beri ke Damar juga harus paling nggak mengimbangi, sama, bahkan bisa jadi lebih. Biasanya di adat jawa, jumlah seserahan harus ganjil dan nilai yang diberikan untuk lelaki harus lebih sedikit. Tapi kayanya jaman sekarang banyak perempuan yang menganut faham yang sama seperti saya, equal, ganjil atau genap  nggak masalah. Buat saya juga, seserahan itu nggak beda dengan saya dan Damar membeli kebutuhan kami setelah menikah nanti. Bedanya, barang-barang itu dikemas cantik, rapi dan ditunjukkan ke muka umum.

Biasanya pihak keluarga pria akan memberikan seserahan pada malam hari menjelang akad nikah atau lebih dikenal pada waktu malam midodareni. Tapi karena pernikahanku nanti Jawa abal-abal (nggak mengikuti seluruh prosesi), seserahan akan diberikan sebelum akad nikah dimulai. Lebih hemat hahah

Sekarang saya lagi proses mencoret checklist untuk Seserahan. Kami sepakat untuk selalu berdiskusi dan memilih bersama. Most of the times, kami beli barang dari online shop, biasanya saya bayarin duluan ataupun sebaliknya. Nah, supaya hasilnya tetap seimbang, ada satu tips yang buat kami sangat membantu dan jadi merasa adil dalam membagi. Karena mengeluarkan uang, bukan cuma tugas lelaki, terutama kalau perempuannya kerja. Ada satu aplikasi yang namanya splitwise, jadi aplikasi ini bisa mencatat pengeluaran kita dan mencatat ‘hutang’ kita ke orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, calon suami saya hahah jadi hutang itu tidak harus dibayar saat itu juga dengan tunai, tapi juga bisa dibayar next time waktu berbelanja.

Anyway, checklist umumnya seserahan adalah sebagai berikut. Yang dicoret alhamdulillah sudah terbeli…

  1. Perlengkapan beribadah Ini saya pilih sendiri, cari di Instagram dan nemu yang sesuai selera, nama tokonya Ayurora. Cantik-cantik deh (dari fotonya). Pelayanannya juga baik, mbaknya ramah. Kalau kaya gini, kuncinya cuma satu sih. Kepercayaan heheh Perlengkapan beribadah terdiri dari mukena, sajadah, alqur’an dan tasbih. Ini sekaligus akan menjadi mahar pernikahan kami. Mama dulu bilang, waktu mama menikah dengan Bapak dulu, maharnya adalah pembacaan ayat kursi sebanyak 4 atau 5 kali. Buat saya pun, mahar nggak perlu mahal-mahal, yang penting makna yang terkandung. Untuk Damar dan saya, makna peralatan beribadah lebih besar dari materi/uang.
  2. Cincin nikah  Akhirnya setelah pencarian, nemu juga cincin yang sesuai sama engagement ring-saya. Sebenarnya saya udah nemu cukup lama, tapi saya nunggu Damar karena dia took his time banget buat nyari cincin untuk dia. Mungkin karena saya berkali-kali bilang, cincin itu bakal dipake seumur hidup dan untuk cowo biasanya akan selalu dipakai kapanpun dan dimanapun. Jadi bentuk dan logamnya harus yang everlasting. Saya nunggu dia, karena ada kemungkinan dia pengen ambil yang 1 set perempuan dan laki, tapi pada akhirnya nggak. Kita pesen cincin masing-masing. Cincin kami lumayan similar, sangat clean dan simple. Logam cincin saya emas putih dan dia titanium (karena kita menghindari emas untuk lelaki).
  3. Baju dalam dan perawaran tubuh Baju dalam aku sudah beli lama, belinya pun sama Damar hahah Aku beli waktu ada diskonan winter di city centre. Ngehemat banyaaak banget. Barang-barang perawatan tubuh baru beli tadi sama Damar juga, beli di de Tuinen. Dan kebetulan juga lagi ada 25% diskon. Gemes banget jalan-jalan di de Tuinen, pengen beli semua barang organic disitu. Jadi perawatan tubuh yang aku beli itu meliputi day-night cream, eye cream, dan facial wash, plus body butter dan body shop. Asikk akhirnya nyoret bagian ini juga!
  4. Perhiasan: Ini Mama Damar yang akan belikan nanti di Indonesia, karena orang tua pasti ingin memberi dan kami ingin mama kami involve ke hal ini
  5. Baju atau kain dan songket: Ini juga mama Damar yang pilihkan
  6. Makanan: Ini aku percayakan penuh ke mama Damar
  7. Buah-buahan: Ini juga mama Damar yang urus

Kalau untuk Damar, seserahannya kurang lebih sama intinya. Tapi baju, aku belikan dia suits yang nanti akan dipakai di resepsi (lumayan jadi dobel guna hihihi dan juga bisa dipakai di masa depan), juga mukena diganti dengan baju takwa, sarung, dan kopiah.

Simpel kan yaaa? Alhamdulillah Damar juga orangnya simpel banget ga ribet. Aku pun males beli barang yang mahal dan branded supaya kotak seserahannya terlihat bagus. Sederhana aja asal bermakna…………….. 🙂 🙂

 

p.s Source foto dari weddingku.com

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply