Hidup di Belanda

Muslim di mata orang asing di sekeliling

14th July 2018 - 6 min read

“Oh mau ke mekkah, ngapain?”

“Nanti balik-balik bakal pake jilbab?” *with meaningful expression*

“Wah puasa ya? Kasian banget. How could you do that”? 

“Kamu tau kan, islam di mata orang-orang awam itu gimana?”

 

Itu adalah contoh-contoh pertanyaan yang pernah ditanyakan ke saya saat mereka tahu saya adalah muslim yang practice. Kenapa saya bilang muslim yang practice, bukan karena saya super beriman dan nggak pernah buat dosa, tapi karena saya masih practice/ (at least mencoba) melakukan hal-hal yang diwajibkan. Di Belanda banyak sekali orang-orang yang hanya mengklaim muslim tapi tidak beribadah. Jangankan Belanda, Indonesia pun biasa kan seperti itu. Dipost ini saya hanya pengen mengeluarkan kegalauan saya yang baru-baru ini terjadi, way beyond permasalahan agama dan saya nggak akan justify agama saya atau gimana. Yang bikin galau adalah pertanyaan-pertanyaan itu ditanyain oleh temen-temen saya yang dulunya atau bahkan masih hingga kini beridentitas muslim.

Menjadi minoritas itu memang merupakan tantangan tersendiri, terutama apabila kita suatu paham yang memiliki image negatif di luaran sana. Hate the sin not the sinner adalah kalimat yang tepat untuk mengekspresikan apa yang seharusnya terjadi. Sayangnya pada kenyataannya tidak semua orang memiliki pengertian atau bahkan kemauan untuk mengerti. Untuk saya, paham saya, agama adalah sesuatu yang indah terutama agama yang saya anut dan semakin kesini semakin ingin belajar dan saya jadi mengerti bahwa semua memiliki penjelasan.

Saya nggak bisa henti bersyukur diberi kesempatan untuk hidup berdampingan dengan banyaknya perbedaan. Perbedaan kulit, suku, asal, negara, agama, bahasa, budaya, cara pikir, semuanya. Disitu saya belajar untuk tidak mengkotak-kotakkan sesuatu, untuk tidak memberi label pada apapun. It’s hard, because most of the times it’s a habitual perception. It happens by default. Dimanapun asal kamu, pasti akan ada prejudice soal sesuatu as a part of the culture that you grew up with. Tapi saat kita bisa menjadikan itu habitual perception, artinya kita bisa merubah kebiasaan cara berpikir kita in the opposite direction. Seperti contohnya orang Belanda itu direct dan pelit, while I used to have a colleauge who are totally different than that. Kasian banget dia yang  sudah dijudge duluan hanya karena dia orang belanda. Semenjak saat itu saya berusaha untuk mengubah persepsi itu..

Sama halnya dengan islam dan muslim. Saya belum berhijab.. Jadi dari luar tidak ada yang tahu saya muslim, mereka baru tahu saat saya bilang saya nggak minum alkohol atau saya berpuasa saat ramadhan. It gives them a new horizon bahwa islam nggak seperti apa yang ada dipikiran mereka. In the future saya pengen banget pake jilbab, jadi saya nggak bermaksud bilang bahwa jilbab bukan cara yang baik untuk mengenalkan islam, tapi lebih kepada mengenalkan kepada mereka in the mild way mengenai indahnya islam.

Temen Korea saya bilang, temen-temen dia back home itu takut dengan muslim. Terbukti dari berita baru-baru ini mengenai orang-orang Korea yang demo agar refugee dari Yemen tidak diterima assylum di negaranya. Bisa lihat beritanya di sini. So very sad… I was literally teary listening to it. Banyak sekali alesan kenapa mereka takut dengan muslim.. termasuk bagaimana menurut mereka muslim itu selalu ekstrimis.

Tapi setelah itu saya tersenyum saat temen saya bilang kalau dia membela muslim saat temen Korea-nya bilang ‘untung aja pacarnya si A orang Indonesia tapi bukan muslim, kamu tau kan muslim kaya gimana, bisa berabe kalau sampe dia muslim juga’. Dia bisa stand up karena dia melihat contoh dari saya (aamin). Dia cerita dia berteman dengan saya, yang sama sekali berbeda dengan image islam diluar sana. Yang open tapi juga beragama.

Disitu saya jadi ngerasa pentingnya menjadi contoh dan agen yang baik. Karena mau nggak mau, agama yang kita bawa itu adalah identitas. Kita semua adalah contoh nyata orang disekililing kita mengenai agama itu sendiri.

Jadi setiap saya akan melakukan ibadah, saya selalu berbicara dan memberi tahu ke kolega saya di kantor yang rata-rata tidak beragama. Mereka selalu amazed dan bahkan pengen tahu lebih lanjut alasan dibalik kewajiban. Tapi ironically temen-temen yang dulunya islam bahkan masih islam sampai sekarang tapi sudah nggak practice malah heran sama keputusan-keputusan yang berhubungan dengan agama yang saya ambil.

Tapi ya begitulah, disitu cobaan saya, disitu kesabaran saya diuji. Cobaan karena akan mudah sekali merasa benar dan suci dengan pertanyaan-pertanyaan dan pendapat negatif dari orang-orang di sekeliling. Semoga saya bisa selalu menjadi contoh baik dan membawa nama agama saya kemanapun saya berada. Aamiin

Hingga ke depan nanti saya pengen semakin dekat dan membuat komunitas muslim yang isinya anak seumuran untuk sharing. Saya belajar juga pentingnya komunitas. Akan sangat mudah menjauh, tapi juga mudah mendekat saat sekeliling kita mendukung.

Insha Allah.. Lakum diinukum waliyadiin. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu.

 

*Sorry for my rambling

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply